Homili 6 Mei 2021

Hari Kamis, Pekan Paskah ke-V
St. Dominikus Savio
Kis. 15:7-21;
Mzm. 96:1-2a,2b-3,10;
Yoh. 15:9-11

Servite Domine in Laetitia

Pada hari ini seluruh Gereja mengenang St. Dominikus Savio. Orang kudus ini adalah murid St. Yohanes Bosco, dilahirkan pada tanggal 2 April 1842 di Riva, Chieri, Italia. Ayahnya bernama Carlo dan Birgitta Savio ibunya. Keluarga mereka sangat sederhana. Ayahnya seorang pandai besi sementara ibunya seorang penjahit. Perjumpaan dengan Don Bosco terjadi pada sekitar bulan Oktober tahun 1854 di mana Dominikus diterima di oratorium St. Fransiskus dari Sales. Perjumpaan pertama dengan Don Bosco memiliki sebuah kesan yang luar biasa. Ada sebuah dialog yang menjadi tanda penyerahan diri secara total dari Dominikus Savio kepada Don Bosco. Perhatikan Dialog mereka ini: “Bagaimana pendapat Pater Bosco tentang saya?” “Menurut saya, engkau adalah bahan yang bagus,” jawab Don Bosco dengan senyum lebar. “Baiklah, Pater adalah seorang tukang jahit yang hebat, jika bahannya memang bagus, ambillah saya dan jadikan saya jubah yang indah bagi Tuhan!” Ini adalah penyerahan diri Dominikus kepada Don Bosco, dan sejak saat itu ia menunjukkan tanda-tanda kekudusannya di oratorium.

Dalam perjalanan waktu Dominikus menunjukkan aura kekudusan dalam tanda-tanda yakni selalu bersukacita. Ia mengumpulkan teman-temannya, mendamaikan mereka dan mengajak mereka untuk focus pada jalan untuk menjadi kudus. Kepribadiannya sangat mempengaruhi kehidupan teman-teman sebayanya yakni periang, ramah, serta teliti. Ini adalah nilai-nilai positif seorang anak remaja yang tentu saja mempengaruhi kehidupan pribadi teman-temannya yang lain. Don Bosco menasihati Dominikus untuk tetap melayani Tuhan dengan sukacita. Servite Domine in Laetitia. Ini adalah jalan menuju kekudusan bagi orang-orang muda. Maka Dominikus memiliki prinsip: “Aku tidak mampu melakukan hal-hal besar, tetapi aku mau melakukan segala sesuatu, bahkan hal-hal remeh sekali pun, demi kemuliaan Tuhan.”

Sebagian kecil kisah hidup St. Dominikus Savio ini membantu kita untuk memahami perkataan Yesus dalam bacaan Injil pada hari ini. Tuhan Yesus dalam amanat perpisahan dengan para murid-Nya mengingatkan mereka untuk membangun dan menjalin relasi kasih yang mendalam dengan-Nya sebagai pokok anggur yang benar. Relasi kasih yang mendalam adalah bahwa supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tinggal di dalam kasih, melebur di dalam kasih Tuhan. Yohanes mengatakan bahwa Allah adalah kasih maka setiap murid Kristus harus masuk, tinggal dan melebur dalam kasih dan menjadi kasih itu sendiri bagi orang yang ada di sekitarnya. Mengapa Tuhan Yesus menghendaki supaya para murid tinggal di dalam kasih-Nya? Sebab Yesus sebagai Anak dan Bapa sudah menyatu dalam kasih. Yesus berkata: “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.” (Yoh 15:9).

Lalu apa yang harus dilakukan para murid Kristus untuk tetap tinggal di dalam Tuhan? Tuhan Yesus mengharapkan supaya kita menuruti perintah-Nya. Dan kita semua tahu bahwa perintah Tuhan Yesus adalah perintah baru dalam hal ini perintah kasih. Yesus mengharapkan supaya kita saling mengasihi sama seperti Dia sebagai Anak dan Bapa saling mengasihi. Yesus berkata: “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.” (Yoh 15:10). Kasih macam apa yang harus kita jalani dalam hidup ini? Yohanes memberikan arah yang jelas supaya kita tinggal di dalam kasih Yesus. Inilah perkataan Yohanes dalam suratnya: “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” (1Yoh 3:18). Banyak orang berpikir bahwa untuk melakukan perintah baru dari Tuhan Yesus diungkapkan melalui kata-kata, dan itu sudah cukup. Ternyata bukan begitu. Kita mengasihi dalam perbuatan nyata dan dalam kebenaran.

Konsep tentang kasih bukan hanya dalam kata tetapi lebih dari itu kasih diungkapkan dalam perbuatan dan kebenaran sudah dialami oleh Gereja perdana di Antiokia. Ketika terjadi kebingungan di komunitas jemaat di Antiokia tentang apakah keselamatan hanya milik orang yang bersunat saja atau keselamatan untuk semua orang? Komunitas Antiokia mengutus Barnabas dan Paulus untuk menanyakan hal ini kepada para rasul dan penatua di Yerusalem. Maka diadakan Konsili pertama di Yerusalem yang menekankan tentang universalitas keselamatan di dalam Yesus Kristus. Dengan demikian kasih yang menjadi prioritas keselamatan, bukan sekedar hal-hal yang sifatnya legalis semata.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini mengajak kita untuk memiliki kemampuan melayani dan mengasihi dengan sepenuh hati. Para murid Yesus diharapkan untuk melayani dan mengasihi dengan sukacita. Servite Domine in Laetitia. Barnabas dan Paulus melayani dan mengasihi komunitas. Para rasul dan penatua melakukan Konsili pertama di Yerusalem sebagai tanda pelayanan dan kasih kepada Kristus dan Gereja-Nya. St. Dominikus Savio melayani dan mengasihi Tuhan dalam diri teman-teman sebayanya di oratorium dengan sukacita. Ini adalah jalan kekudusan bagi Dominikus Savio. Bagaimana dengan kita?

St. Dominikus Savio, doakanlah kami. Amen.

PJ-SDB