Hari Rabu, Pekan Biasa ke-XVIII
Pemberkatan Gereja Basilik SP Maria Maggiore
Yer. 31:1-7
MT Yer. 31:10.11-12ab.13
Mat. 15:21-28
Lectio:
Pada suatu hari, Yesus menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak.” Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh. Demikianlah Sabda Tuhan. Terpujilah Kristus.
Renungan:
Kerendahan Hati yang menyembuhkan
Pada hari ini kita mengenang kembali pemberkatan atau pentahbisan Basilika Santa Maria Maggiore di kota Roma. Basilika ini merupakan salah satu dari empat Basilika kepauasan di kota Roma. Basilika kepausan yang lain adalah Basilika Santo Petrus di Vatikan, Basilka santo Yohanes Lateran dan Basilika santo Paulus di luar tembok. Tentang Basilika Santa Maria Maggiore, diketahui dalam Sejarah Gereja bahwa pertama kali dibangun dan diberkati pada masa kepausan Paus Liberius sekitar abad ke-4 melalui legenda mukjizat salju. Basilika selanjutnya dibangun kembali dan ditahbiskan secara resmi oleh Paus Sixtus III pada abad ke-5. Basilika ini secara historis dibangun pada abad ke-5 setelah Konsili Efesus yang menetapkan Maria sebagai Bunda Allah. Basilika Santa Maria Maggiore ini penting karena merupakan basilika tertua di Roma untuk menghormati Bunda Maria. Pada saat ini memiliki daya Tarik tersendiri karena di dalam Basilika terdapat makam Paus Fransiskus.
Mari kita kembali kepada Sabda Tuhan. Dari sabda Tuhan kita mendapat satu pesan penting bahwa kebajikan kerendahan hati itu memiliki daya menyembuhkan secara rohani dan jasmani. Sebab itu menakar sekaligus merenungkan kebajikan kerendahan hati pada hari ini tentu bersumber pada Tuhan Yesus sendiri yang lemah lembut dan rendah hati. Kita juga melihat sosok Bunda Maria yang menunjukkan kebajikan kerendahan hati. Kebajikan kerendahan hati di dalam diri Bunda Maria nampak jelas melalui tiga momen utama yakni saat ia menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan di hadapan Malaikat Gabriel, saat ia memuji Allah lewat doa Magnificat, dan saat ia memilih untuk hidup tersembunyi serta selalu menunjuk kepada Yesus. Bunda Maria memang luar biasa dan selalu rendah hati.
Saya mengingat dua orang kudus yang berbicara tentang kebajikan kerendahan hati. Pertama, santo Agustuinus. Santo Agustinus mengatakan bahwa hal paling penting dalam ajaran Kristus adalah kerendahan hati, kerendahan hati, dan kerendahan hati. Ia menyebut kerendahan hati sebagai dasar dan ibu dari semua kebajikan. Kedua, santa Teresia dari Avila. Pujangga Gereja dari Spanyol ini mengatakan dengan tegas bahwa “kerendahan hati adalah berjalan dalam kebenaran”. Ia mengajarkan bahwa mengakui kelemahan di hadapan Tuhan membuka jalan bagi rahmat-Nya.
Pada hari ini, Tuhan menyapa kita untuk bertumbuh sebagai pribadi yang rendah hati supaya dapat memperoleh keselamatan. Penginjil Matius mengisahkan bahwa Tuhan Yesus menyingkir ke kota Tirus dan Sidon. Kedua kota ini secara geografis terletak di luar komunitas Yahudi. Seorang wanita Kanaan yang tidak punya nama datang untuk memohon pertolongan Tuhan Yesus supaya menyembukan anaknya yang kerasukan setan dan sangat menderita. Permohonan ini sangat istimewa karena mengungkapkan kerendahan hatinya dengan berkata: ‘Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud’. Wanita Kanaan itu mengalami halangan besar yakni para murid Yesus yang merasa terganggu dan memohon supaya Yesus menyuruh wanita yang mengikuti sambil memohon belas kasih itu pergi.
Reaksi Yesus adalah memberi ujian kepada wanita itu dengan mengatakan bahwa Ia diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Di samping itu ia juga mengatakan bahwa tidak patut untuk mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing. Wanita itu dengan rendah hati tetap memohon pertolongan Yesus. Meskipun dia mendengar kata ‘anjing’ namun ia tetap dengan iman dan rendah hati di hadapan Tuhan Yesus, ia berkata: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” (Mat 15:27). Perkataan ini berarti, meskipun Yesus pertama-tama diutus kepada bangsa Yahudi, namun belas kasihan dan kuasa-Nya begitu besar sehingga masih ada lebih dari cukup berkat yang tersisa bagi orang-orang non-Yahudi juga. Iman dan kerendahan hati wanita ini di hadapan Yesus menyembuhkan anak perempuannya yang kerasukan setan.
Sosok wanita tanpa nama ini haruslah menjadi bagian hidup kita sebagai pengikut Kristus. Kita memiliki banyak penderitaan dan kemalangan. Kita perlu berani untuk meminta tolong, memohon ampun dan bersyukur karena Tuhan mengasihi kita apa adanya. Kita perlu memiliki iman yang teguh dan rendah hati di hadirat Tuhan. Maka wanita Kanaan ini mengajarkan kepada kita bagaimana menakar kerendahan hati kita di hadirat Tuhan. Ukuran kerendagan hati adalah kerendahan hati itu sendiri. Tidak ada yang lain karena semuanya berasal dari Tuhan. Kerendahan hati itu menyembuhkan anda dan saya.
P. John Laba, SDB