Homili 2 Oktober 2026 – Para Malaikat Pelindung

Perayaan Wajib Para Malaikat Pelindung
Kel 23:20-23a
Mzm 91:1-2.3-4.5-6.10-11
Mat 18:1-5.10

Ikut memandang wajah Allah

Pada setiap tanggal 2 Oktober kita memperingati para Malaikat Pelindung. Menurut Katekismus Gereja Katolik (KGK) nomor 336, malaikat pelindung adalah makhluk rohani yang diutus Allah untuk mendampingi setiap orang beriman sebagai pelindung dan gembala sejak masa anak-anak hingga kematiannya. Dari Katekismus Gereja Katolik ini, kita diingatkan untuk menyadari bahwa Malaikat Pelindung adalah pendamping sepanjang hidup. Maka kehidupan manusia dikelilingi oleh penjagaan dan doa permohonan para malaikat pelindung. Para Malaikat Pelindung berperang sebagai Gembala. Ini berarti setiap orang beriman didampingi oleh satu malaikat khusus yang menuntun dan menghantarnya menuju kehidupan kekal. Para Malaikat itu adalah Makhluk Rohani, artinya Malaikat tidak berbadan dan tidak kasat mata, namun nyata sebagai bentuk cinta kasih dan kerahiman Allah.

Santo Padre Pio dikenal sebagai orang kudus yang meninggalkan sebuah kenangan berupa doa yang indah kepada Malaikat Pelindung. Inilah doanya:

“Malaikat Allah, Malaikat Pelindungku, kepada siapa kebaikan Bapa Surgawi mempercayakanku. Terangilah, lindungilah dan bimbinglah aku sekarang dan selamanya. Amin”.

Malaikat Pelindung benar-benar menerangi, melindungi dan membimbing peziarahan hidup kita menuju kepada Bapa. Tuhan Yesus sendiri mengingatkan kita melalui Injil hari ini untuk menjadi pribadi yang rendah hati dan tulus. Ini adalah spiritualitas anak kecil yang harus kita miliki. Tuhan Yesus berkata: “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 18:10).

Malaikat Pelindung itu sungguh ada. Tuhan sendiri memberikan Malaikat Pelindung kepada kita. Kita membaca dalam bacaan pertama dari Kitab Keluaran: “Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan” (Kel. 23:26). Tugas kita adalah bersyukur atas kehadiran para Malaikat Pelindung. Kita juga diharapkan untuk menjaga diri dan mendengarkan perkataannya. Ketika kita patuh kepada malaikat Pelindung maka Tuhan sendiri akan melawan musuh-musuh kita. St. Basilius Agung pernah berkata: “Di samping setiap orang beriman berdiri seorang Malaikat sebagai pelindung dan gembala, yang menuntunnya menuju kehidupan.”

Apa yang harus kita lakukan pada saat ini?

Kita perlu berusaha untuk ikut memandang wajah Allah dengan mendengarkan sabda dan menjadi pelaku-pelaku Sabda-Nya. Kita semua juga belajar untuk menjadi Malaikat Pelindung masa kini yang menerangi, melindungi dan membimbing sesama untuk ikut memandang wajah Allah. Saaya mengakhiri homily hari ini dengan mengutip Santo Yohanes Maria Vianey yang berkata: “Betapa bahagianya malaikat pelindung yang menemani sebuah jiwa ke Misa Kudus”. Ini adalah motivasi untuk memandang Allah dengan mengikuti Ekaristi Kudus.

P. John Laba, SDB