Tiga Musuh
Dalam peperangan konvensional, musuh selalu orang lain—sebuah pasukan atau seorang individu. Jenis lawan ini jelas dan langsung. Dalam peperangan yang tak terlihat, musuh-musuh itu sulit ditangkap dan tak terlihat. Musuh-musuh yang kita hadapi dalam kehidupan rohani adalah dunia, daging, dan iblis. Hal ini diungkapkan kepada kita dalam Injil ketika Kristus pergi ke padang gurun dan mengalami pencobaan (Lukas 4:1-13). Sebagaimana diceritakan, Yesus berada di padang gurun selama 40 hari, dan selama waktu itu iblis berusaha menggoda-Nya. Iblis menyuruh-Nya mengubah batu menjadi roti (daging), dan menunjukkan kepada-Nya kerajaan-kerajaan serta menawarkan kekuasaan atas kerajaan-kerajaan tersebut (dunia), serta menyuruh Yesus menyembah dirinya dan “semua itu akan menjadi milik-Mu.”
Ketiga musuh ini juga disebutkan oleh Santo Paulus dari Tarsus (Efesus 2:2–3): “Dahulu kalian hidup mengikuti jalannya dunia ini, mengikuti penguasa kuasa udara, roh yang kini bekerja di antara anak-anak ketidaktaatan — di antara mereka kita semua dahulu hidup dalam hawa nafsu daging kita”.
Musuh-musuh ini sebagian bersifat jasmani (fisik atau berwujud) dan sebagian bersifat rohani (tak terlihat atau tak berwujud). Hal ini membuat perjuangan melawan mereka menjadi sangat menantang. Tantangan ini semakin bertambah karena panggung atau arena di mana kita hidup. Roh zaman dan budaya saat ini sangat tidak mendukung untuk meraih kemenangan. Dalam beberapa waktu terakhir, budaya dan pandangan dunia modern dengan cepat bergeser dari yang mendorong dan menjunjung tinggi kebajikan, nilai-nilai, dan moral, menjadi zaman yang tenggelam dalam kecintaan terhadap ketiga musuh jiwa ini. Dunia dan segala hal yang bersifat duniawi dipandang dengan penghormatan tertinggi; daging serta segala bentuk kenyamanan dan kesenangan didorong, dipuji, dan dikejar dengan segala cara; dan iblis—dialah raja dari semuanya itu.
Ketika kita menyadari bahwa inilah tiga musuh yang sedang kita lawan, sebagian dari kita cenderung lebih menekankan satu di atas yang lain. Bagi sebagian orang, segala sesuatu adalah kesalahan dunia; bagi yang lain, semua masalah kita disebabkan oleh daging. Terakhir, ada yang menyalahkan iblis atas semua penderitaan mereka. Pendekatan yang seimbang adalah mengakui ketiganya sebagai lawan, sebagaimana yang dilakukan Kristus di padang gurun.
PJ