PW. St. Karolus Borromeus
Flp. 2:12-18
Mzm. 27:1.4.13-14
Luk. 14:25-33
Lectio:
Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku. Demikianlah Sabda Tuhan, Terpujilah Kristus.
Renungan:
Komitmen Pemuridan Masa Kini
Pada hari ini kita mengenang kembali Santo Karolus Boromeus (1538–1584). Beliau adalah Uskup Agung di kota Milano, Italia. Beliau dikenal sebagai tokoh kunci Kontra-Reformasi Protestan, memberikan pelajaran abadi tentang kepemimpinan, reformasi, dan belas kasih. Dari hidup pribadinya, kita dapat belajar nilai-nilai penting sebagai berikut:
Pertama, Reformasi sejati itu dimulai dari dalam diri kita sendiri bukan dari orang lain. Karolus menyadari bahwa memperbaiki Gereja berarti memulai dari hidup, hati, dan kebiasaannya sendiri sebelum mencoba memperbaiki orang lain. Kedua, Mempraktikkan apa yang diajarkan. Ia sendiri mengajarkan bahwa para pastor dan pemimpin akan kehilangan kredibilitas jika kehidupan mereka tidak sejalan dengan perkataan mereka, serta menekankan bahwa kehidupan rohani, batiniah harus mendahului tindakan lahiriah. Ketiga, Keberanian di tengah Krisis. Ketika wabah pes dan kelaparan melanda Milano, ia menolak untuk melarikan diri seperti para pemimpin masyarakat lainnya. Sebaliknya, ia tetap tinggal untuk mengatur rumah sakit, memberi makan orang-orang yang kelaparan, dan merawat orang sakit secara langsung. Keempat, kedermawanan yang radikal. Ia lahir dari keluarga bangsawan Italia yang kaya raya, ia menolak kemewahan pribadi, menjual harta bendanya, dan menyumbangkan kekayaan keluarganya untuk melayani orang miskin serta memulihkan gereja-gereja. Kelima, Pendidikan Itu Penting: Ia mendirikan seminari untuk melatih para imam dengan baik dan menciptakan cikal bakal Sekolah Minggu (Persaudaraan Ajaran Kristen) guna memastikan anak-anak dan orang dewasa memahami iman. Keenam, Kerendahan hati di atas keistimewaan. Meskipun memegang jabatan tinggi dan memiliki hubungan dekat dengan kepausan, ia menjalani kehidupan yang sederhana penuh doa dan penebusan dosa, menunjukkan bahwa kebesaran sejati diukur dari pelayanan.
Kehidupan pribadi Santo Karolus Boromes menunjukkan sebuah model Komitmen Pemuridan sejati sepanjang zaman. Ia sungguh mengikuti jejak Kristus, dengan mengarahkan kasih-Nya kepada Tuhan dan sesama yang digembalakannya.
Tuhan Yesus menyapa dan mengajak kita untuk memiliki komitmen pemuridan sebagaimana digambarkan dalam Injil Lukas (Luk 14:25–33). Perikop ini menekankan bahwa menjadi murid sejati menuntut komitmen penuh dan tak terbagi, serta kesediaan untuk mempertimbangkan segala konsekuensinya sebelum mengikuti Yesus dari dekat atau mengikuti Yesus lebih dekat lagi. Tuhan Yesus mengucapkan kata-kata ini kepada kerumunan besar yang sedang menyertai-Nya, mengikis segala bentuk kesetiaan yang sekadar formalitas atau dangkal, guna memperjelas apa yang sebenarnya dituntut oleh kesetiaan yang sejati.
Apa saja persyaratan utama untuk membangun komitmen sebagai murid Yesus?
Pertama, Seorang murid itu memiliki prioritas mutlak di atas keluarga dan diri sendiri. Yesus menyatakan bahwa siapa pun yang ingin menjadi murid-Nya harus “membenci” ayah, ibu, istri, anak-anak, saudara kandung, dan bahkan hidupnya sendiri (Lukas 14:26). Dalam idiom Ibrani Alkitab, “membenci” tidak berarti kebencian emosional atau permusuhan, melainkan preferensi yang lebih rendah atau kesetiaan utama—artinya, kasih kepada Yesus harus melampaui semua ikatan manusiawi lainnya.
Kedua, murid sejatin itu berani memikul salib. Seorang murid harus memikul salibnya sendiri dan mengikuti-Nya (Lukas 14:27), yang melambangkan kesiapan penuh untuk menderita, mati terhadap otonomi yang berpusat pada diri sendiri, dan menanggung pengorbanan.
Ketiga, berani melepaskan atau meninggalkan harta benda. Yesus menyimpulkan bahwa “barangsiapa di antara kamu yang tidak melepaskan segala miliknya, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Lukas 14:33). Ini berarti memandang kekayaan materi, status, dan keamanan fisik dengan lapang, memastikan bahwa harta benda tidak mengendalikan atau menggantikan Allah.
Untuk menekankan bahwa mengikuti-Nya bukanlah keputusan yang sembarangan atau impulsif, Yesus lalu membagikan dua ilustrasi singkat untuk ‘menghitung biaya’. Pertama, Pembangun menara (Lukas 14:28–30). Seseorang yang ingin membangun menara terlebih dahulu duduk untuk menghitung biayanya dan memastikan apakah ia memiliki cukup uang untuk menyelesaikannya. Jika tidak, ia akan meletakkan fondasi namun tidak dapat menyelesaikannya, sehingga menjadi bahan olok-olok. Kalau mangkrak itu memalukan. Kedua, Raja yang akan perang (Lukas 14:31–32). Seorang raja yang akan berperang melawan pasukan yang lebih besar terlebih dahulu duduk untuk menghitung apakah pasukannya yang berjumlah sepuluh ribu orang mampu menghadapi musuh yang datang dengan dua puluh ribu pasukan. Jika tidak, ia mengirim utusan untuk meminta persyaratan perdamaian selagi musuh masih jauh.
Perikop Injil ini sangat indah. Tuhan Yesus tidak menginginkan pengikut yang dangkal atau orang yang baru bertobat setengah hati yang akan meninggalkan-Nya ketika hidup menjadi sulit. Sebaliknya, Ia memanggil orang-orang untuk secara realistis mengevaluasi pengorbanan yang diperlukan dan menyerahkan segalanya untuk mengutamakan-Nya. Komitmen seorang murid adalah keputusan sepenuh hati dan seumur hidup untuk mengikuti Yesus Kristus, yang ditandai dengan penyerahan diri, ketaatan sehari-hari, dan partisipasi aktif dalam misi-Nya—bukan sekadar kehadiran yang sekadarnya.
P. John Laba, SDB