Hari Jumat, Pekan Biasa ke-XXX!A
Flp. 3:17-4:1
Mzm. 122:1-2.3-4a.4b-5
Luk. 16:1-8
Ikutlah teladanku
Saya memperhatikan para siswa kelas X di SMK Pertukangan Kayu yang sedang kami tangani saat ini di Sungai Raya, Pontianak. Mereka kelihatan sibuk menggambar secara manual. Ada model ataub contoh gambarnya, lalu mereka berusaha untuk menggambarnya seperti contoh gambar yang ada. Ada siswa yang mengatakan ‘kami menjiplak gambar’ yang diberikan oleh para gurunya. Ada yang menggambarnya sangat mirip, ada yang masih jauh dari kemiripan. Satu hal yang positif adalah bahwa mereka mau melatih diri untuk menggambar sesuai contoh gambar yang ada. Bagi saya, hal ini bukan hanya sekedar menggambar saja. Hal lain yang terungkap dalam dialog mereka dan saya adalah bahwa mereka mengikuti cara menggambar dari gurunya: posisi berdiri, posisi tubuh, keadaan tangannya, posisi kertas gambar dan lainnya. Ketika mengikuti teladan dan petunjuk gurunya maka akan ada kemiripan, meskipun belum mencapai seratus persen.
Belajar dari keteladanan sesama memang penting dan harus di dalam hidup kita sehari-hari. Tentu saja keteladanan yang baik yang sangat kita butuhkan, bukan kejahatan pribadi atau kefasikan pribadi. Kita semua selalu berusaha untuk memberi teladan yang terbaik melalui kehidupan kita yang nyata bukan hanya sekedar mengucapkan keteladanan melalui kata-kata kosong. Misalnya, banyak orang bisa saja berbicara tentang cinta kasih tetapi apakah mereka melakukan cinta kasih di dalam hidupnya? Ada orang yang berbicara tentang kebajikan, tetapi teladan sejati adalah seseorang yang perilaku sehari-harinya selaras dengan ajarannya. Ini yang lebih penting. Pada hari ini, Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi (Flp 3:17) menulis: “Ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu”. Perkataan ini sungguh sebuah ajakan untuk memandang, mengagumi dan mengikuti teladan Santo Paulus. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus (1Kor 11:1), Paulus menulis: “Ikutilah teladanku, sebagaimana aku mengikuti teladan Kristus”.
Santo Paulus dalam kesaksian tentang keteladanan hidup, ia mengakui selalu menunjukannya kepada jemaat. Bahkan pada saat menulis suratnya kepada jemaat di Filipi ini, dia mengaku menangis sambil menulis surat ini. Mengapa? Karena ada anggota jemaat yang menerima pewartaan Paulus, namun masih ada juga sesama jemaat yang hidup sebagai musuh salib Kristus. Hal-hal yang ditunjukan dalam komunitas di Filipi adalah: kesudahan mereka adalah kebinasaan, tuan mereka adalah perut, kemuliaan mereka adalah hal-hal aib, pikiran mereka hanya melulu hal-hal duniawi saja. Inilah keduniawian yang bertentangan dengan keteladanan hidup Paulus.
Transformasi yang diharapkan oleh santo Paulus adalah hidup baru dalam Kristus. Paulus mengajak jemaat dan kita saat ini untuk menyadari bahwa kita semua adalah warga Kerajaan Surga. Di dalam Surga, Tuhan Yesus mengubah tubuh kita yang hina menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia sesuai dengan kuasa-Nya. Sebab itu harapan Paulus adalah kita berdiri teguh dalam Kristus. Hal yang patutu kita ingat di sini adalah Tuhan Yesus adalah teladan kita. Tubuh kita di dunia ini masi hina, fana tetapi akan menjadi tubuh yang mulia karena Dialah yang membangkitkan kita.
Apa yang harus kita lakukan?
Tuhan Yesus dalama Injil Lukas (Luk 16:1-8), yang kita baca dan dengar serta renungkan pada hari ini menggunakan kisah seorang bendahara yang korup, yang dengan cerdik mengurangi tagihan para debitur tuannya untuk menjalin persahabatan dengan orang-orang yang akan menyambutnya setelah ia dipecat—bukan untuk memuji ketidakjujuran, melainkan untuk membandingkan rasa urgensi dan kecerdikan orang-orang duniawi dengan sikap “anak-anak terang” yang seringkali pasif.
Keteladanan haruslah membantu kita memiliki pandangan strategis ke depan, bukan hanya kepuasan diri semata dan saat ini. Sama seperti bendahara itu bertindak dengan pertimbangan matang dan mendesak untuk mengamankan masa depannya, orang-orang beriman, anda dan saya didorong untuk menggunakan kekayaan duniawi secara proaktif, bukan pasif. Perlulah juga kita sadari bahwa kekayaan sebagai alat, bukan tuan. Uang dan harta benda hanyalah alat pengelolaan sementara, bukan harta yang paling berharga, dan harus diinvestasikan pada orang lain, kedermawanan, dan Kerajaan Allah. Sebab itu kebijaksanaan dalam tindakan itui penting dan harus. Menjadi “cerdas” (phronimos) berarti menyadari realitas masa depan (kekekalan) dan membuat pilihan yang bijaksana serta disengaja di masa kini dengan apa yang telah dipercayakan kepada anda. Faktior keteladanan membawa kita kepada keselamatan!
P. John Laba, SDB