Renungan 1 Maret 2012

T.Est 4:10a.10c-12.17-19; Mzm 137:1-3.7-8; Mat 7:7-12

Kuasa Doa

Curhat atau curahan hati selalu dilakukan oleh orang-orang yang saling percaya satu sama lain. Saya dapat curhat dengan pribadi tertentu kalau saya percaya dia dapat mendengar dan membantu saya mengatasi pergumulan tertentu di dalam hidupku. Lalu terjalinlah relasi antar pribadi yang dibangun di atas dasar saling percaya, saling mengerti dan meneguhkan. Demikian relasi antar pribadi sebagai sesama manusia dan relasi dengan Tuhan.

Esther dalam bacaan hari ini, datang kepada Tuhan dalam doa-doanya, ibarat dia sedang curhat dengan Tuhan. Doa Esther dibangun di atas iman dan kepercayaanNya pada Yahve: “Tuhanku, Raja kami, Engkaulah yang tunggal, tolonglah aku yang seorang diri ini.” Iman ini merupakan warisan turun-temurun dari orang tuanya: “Sejak masa kecilku telah kudengar dalam keluarga bapaku, bahwa Engkau ya Tuhan telah memilih Israel…” Doa kepada Tuhan bukan hanya semata-mata untuk memohon pengampunan atas dosa-dosa atau meminta bantuan Tuhan pada saat-saat yang sulit saja tetapi dalam segala situasi hidup orang perlu mengungkapkan dirinya di hadirat Tuhan. Dalam arti setiap pribadi maupun komunitas sama-sama menyatakan iman mereka kepada Tuhan. Tuhan adalah satu-satunya harapan Esther: “Tetapi selamatkanlah kami ini dengan tanganMu dan tolonglah aku yang seorang diri ini yang tidak mempunyai seorang pun selain dari Engkau ya Tuhan”.

Dimensi lain dari doa ditunjukkan oleh Yesus dalam Injil hari ini. Doa itu ibarat kita meminta, mencari, dan mengetok pintu dan Tuhan pasti akan mengabulkannya. Semua ini menunjukkan Tuhan sebagai Bapa yang baik yang senantiasa memperhatikan kebutuhan anak-anakNya melebihi para bapa di bumi ini. Dia adalah segala-galanya bagi manusia. Pengalaman kebaikan Allah sebagai Bapa yang baik atau pengalaman dikasihi oleh Allah hendaknya dilakukan dalam perbuatan-perbuatan nyata kepada sesama manusia: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”.

Doa adalah pengalaman persekutuan setiap pribadi dengan Tuhan Allah. Terkadang kita merasa Tuhan begitu jauh dan kita selalu merasa berdoa ”kepada” Tuhan. Hendaknya kita merasa seperti Esther bahwa Tuhan itu akrab, Dia Bapa yang baik. Atau para rasul yang berdoa “bersama” Tuhan Yesus. Doa bersama Tuhan Yesus karena Dialah Emanuel. Dengan perasaan bathin seperti ini, kita lalu merasa doa adalah “kasih” karena kita bersatu dengan Tuhan yang adalah kasih abadi. Bagaimana dengan kehidupan doamu sekarang? Apakah anda masih berdoa “kepada” Tuhan? Atau “bersama” Tuhan atau sudah masuk tingkat doa adalah “kasih”?

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply