Renungan 13 Agustus 2012

Hari Senin, Minggu Biasa XIX

Yeh 1:2-5.24-2:1a
Mzm 148:1-2.11-12ab.12c-14a.14bcd
Mat 17:22-27
Ia dibunuh untuk keselamatan kita
Yesus dan para muridNya senantiasa berjalan bersama-sama. Ada beberapa momen kebersamaan yang kiranya membantu para muridNya untuk memahami perutusan Yesus sebagai Penebus dunia. Dia Kaisarea Filipi, Yesus bertanya kepada para muridNya apa kata orang dan apa kata mereka tentang siapakah diriNya. Menurut Petrus yang dikaruniai Roh Bapa di surga, Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat 16:13-16). Pengakuan iman Petrus ini langsung diikuti oleh pemberitahuan Yesus bahwa Ia akan menderita, sengsara, wafat dan bangkit pada hari ketiga. Hal ini tentu mengecewakan Petrus dan para murid lainnya sehingga Petrus melarang Yesus supaya jangan menjadi Mesias yang menderita. Namun Yesus dengan keras menegur Petrus untuk tidak menjadi dan mengikuti iblis. Dia hendaknya tetap menjadi murid yang mengikuti Guru dan TuhanNya yang menderita (Mat 16: 21-23). Ketika turun dari gunung yang tinggi setelah menampakan kemuliaanNya, Yesus melarang mereka untuk tidak menceritakan pengalaman “melihat kemuliaanNya” sampai setelah Ia bangkit dari antara orang mati. Ketiga murid inti yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes bingung dan bertanya dalam hati apa artinya bangkit dari antara orang mati (Mat 17:9).
Penginjil Matius mengisahkan hari ini bahwa Komunitas Yesus sedang berada di Galilea. Kali ini Yesus menggunakan kesempatan untuk menyampaikan secara terang-terangan paskahNya. Yesus berkata, “Anak manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia; mereka akan membunuh Dia, tapi pada hari ketiga akan dibangkitkan”. Pemberitahuan Yesus ini secara manusiwi ditanggapi oleh para muridNya dengan perasaan sedih sekali. Pemberitahuan Yesus ini tidak hanya sebagai informasi yang membangkitkan perasaan sedih tetapi lebih dari itu, Ia menyadarkan mereka bahwa sebagai muridNya mereka juga akan mengalami penderitaan,penolakan dan kematian. Namun demikian hendaknya mereka juga selalu melihat ke depan bahwa masih ada kebangkitan yang dialami dan dijanjikan Tuhan. Kesedihan manusiawi memang wajar ada tetapi dalam kehidupan bersama Yesus hendaknya diganti dengan optimisme.
Di samping berita tentang penderitaan yang akan dialamiNya, Yesus juga mengingatkan para muridNya untuk tidak menjadi batu sandungan terutama dalam hidup bersama orang lain. Contohnya adalah membayar pajak Bait Allah. Yesus lalu menyuruh Petrus untuk menangkap ikan dan dari mulut ikan ia mendapat mata uang empat dirham. Pada awal perkembangan gereja, umat kristiani tetap membayar pajak Bait Allah.
Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk bertahann dalam penderitaan, menghadapinya dengan optimisme. Visi ke depan yang mau kita capai adalah kemuliaan sebagai anak Allah. Optimisme bahwa kita memang ditebus oleh Tuhan dan menikmati kemuliaanNya yang kekal. Ia dibunuh untuk keselamatan kita semua.
Doa: Tuhan, terima kasih atas penebusanMu yang berlimpah bagiku.
PJSDB
Leave a Reply

Leave a Reply