Renungan 17 Nopember 2012

St. Elizabeth dari Hungaria

Hari Sabtu, Pekan Biasa XXXII

III Yoh 5-8
Mzm 112:1-2.3-4.5-6
Luk 18:1-8


Perbuatan kasih itu harus!


Hari ini seluruh Gereja katolik merayakan peringatan St. Elizabeth dari Hungaria (1207-1231). Beliau adalah puteri Raja Hungaria. Ia menikah dengan Ludwig dan dikaruniai 3 orang anak. Ia selalu berusaha membantu kaum papa dan miskin. Maka sejak suaminya meninggal dunia ia mempersembahkan diri dengan membantu orang-orang yang menderita. Di luar istana ia membangun penampungan bagi orang sakit, sedangkan di dalam istana ia mengumpulkan orang-orang sakit, menderita dan lumpuh. Orang yang meminta derma diberikan dengan sukacita. Segala yang dia miliki dijual untuk orang-orang miskin.


Ia rajin mengunjungi orang sakit pada pagi dan menjelang malam hari. Orang-orang sakit yang paling jijik didekati dan dirawatnya dengan memberi mereka makan, membersihkan ranjangnya, menjamah dengan tangannya sendiri. Sebelum meninggal dunia ia sudah memilih gaun khusus yang sudah usang untuk pemakamannya. Sedangkan pakaiannya yang lain, ia sendiri mengatakan bahwa itu semua milik orang miskin dan akan diberikan kepada mereka. Melihat kisah hidupnya secara menyeluruh, Elizabeth adalah Injil yang hidup. Ia menjual segala yang dimilikinya bagi orang miskin dan mengikuti Kristus (Mat 19:21). Ia memperhatikan dan mengasihi Yesus dalam diri  “saudara-saudara yang paling kecil” (Mat 25:40).


Penulis Surat Yohanes yang ketiga mengisahkan tentang kehidupan para pewarta injil pada awal perkembangan Gereja. Para pewarta Injil atau misionaris ini mengikuti pesan Kristus untuk meninggalkan segala-galanya, pergi ke seluruh dunia untuk mewartakan Injil (Mat 28:19-20). Mereka adalah pekerja yang patut mendapat upahnya (Mat 10:10). Semua orang yang membantu para pewarta injil ini menjadi rekan kerja. Yohanes menulis, “Saudaraku terkasih, engkau bertindak sebagai orang beriman ketika engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, meskipun mereka orang asing”. Tidak ada perbedaan status sosial, semua orang adalah saudara di dalam Tuhan dan patut untuk di kasihi.


Yohanes memuji mereka dengan berkata, “Baik benar perbuatanmu, ketika menolong mereka dalam perjalanan mereka, dengan suatu cara yang berkenan pada Allah. Kita wajib menerima orang-orang yang demikian supaya kita boleh mengambil bagian dalam karya mereka untuk kebenaran”. Para pewarta adalah pekerja yang perlu didukung supaya kerasulan mereka berhasil. Gereja purba membuktikannya dengan semangat sehati dan sejiwa. Semangat ini sungguh-sungguh hidup dan menjadi kekhasan Gereja.


Di dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengisahkan sebuah perumpamaan tentang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati siapapun. Ada juga seorang janda yang selalu pergi kepadanya dan memintanya untuk membela hak-haknya. Janda ini selalu datang akhirnya hakim yang tidak takut akan Allah dan manusia juga siap untuk melayani dia dan membenarkan perkaranya. Hakim yang tidak takut akan Allah dan manusia ini mengalah karena permohonan janda yang terus menerus. Sikap janda ini adalah sikap seluruh Gereja yang terus menerus berdoa tanpa henti kepada Tuhan. Jangan kecewa, putus harapan, tergesa-gesa berhenti berdoa kalau doamu belum dikabulkan. Ingat dan percayalah bahwa Tuhan pasti akan mendengar dan mengabulkannya.


Saya menutup renungan hari ini dengan sebuah kisah. Ada seorang misionaris yang sudah 50 tahun bekerja di sebuah tanah misi. Ia bercerita bahwa ketika datang dari Eropa, ia membawa segala sesuatu karena mendengar bahwa Indonesia sangat miskin. Ketika tiba di Indonesia, ia langsung ditugaskan di pedalaman. Hal yang menarik perhatian adalah, umat katolik yang sederhana itu memberinya makan dan merawatnya. Dia sungguh jatuh cinta dengan umat sederhana yang menganggap misionaris itu sebagai bagian dari kehidupan mereka.


Sabda Tuhan hari ini mengundang kita untuk menjadi saudara bagi semua orang. Di dalam hidup menggereja, kita memiliki tugas mulia untuk membantu dan mendukung karya para gembala kita. Artinya semua program pastoral sampai kehidupan mereka sebagai gembala patut diperhatikan oleh semua umat. Ada umat yang murah hati membantu gembalanya dengan sukacita. Ini adalah tanda persekutuan yang juga menjadi warisan gereja turun temurun. Apakah anda peka dengan kebutuhan para gembalamu? Mereka sudah meninggalkan segala-galanya dan anda adalah saudara mereka.


Doa: Tuhan, semoga kami dapat berbagi. Amen. St. Elizabeth dari Hungaria, doakanlah kami.


PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply