Renungan 11 Juli 2013

Hari Kamis, Pekan Biasa XIV
Kej 44: 18-21.23b-29;45:1-5
Mzm 105:16-17.18-19.20-21
Mat 10:7-15

 

Roh Kudus Menyertai! 

 
Permenungan kita kemarin hari Rabu Pekan Biasa XIV adalah tentang bagaimana Yesus memilih dua belas pria sejati yang pada umumnya adalah para nelayan sederhana dari banyak orang yang berbondong-bondong mengikutiNya untuk menjadi Utusan yang akan menjalankan perutusan tertentu dariNya. Ia memanggil mereka apa adanya, dan mengutus mereka kepada domba-domba yang hilang dari seluruh umat Israel untuk mengatakan kepada mereka bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Secara manusiawi kalau membayangkan para rasul dengan masa lalunya sudah tentu akan ada keraguan dan kita juga dapat bertanya apakah mereka yang pekerjaannya sehari-hari hanya nelayan yang sederhana dapat menjadi utusan Tuhan untuk mewartakan KerajaanNya? Pendidikan mereka tidak disebutkan di dalam Injil, hanya bahwa pekerjaan sebagai nelayan, pemungut cukai itu disebutkan. Tuhan yang punya rencana, proyek keselamatan maka Ia juga menyertai mereka dengan RohNya yang Kudus. Roh Kuduslah yang membantu, membuka pikiran mereka untuk melakukan segala sesuatu sebagai Utusan Tuhan. Mereka akan bekerja atas nama Tuhan. 

 
Pada hari ini Penginjil Matius melanjutkan permenungan kita tentang para utusan dengan perutusan mereka. Apa yang kiranya dapat dilakukan oleh para utusan atas namaNya? Mereka sebagai utusan akan menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, menyembuhkan orang kusta dan mengusir setan-setan. Semua perbuatan baik ini mereka lakukan atas nama Tuhan bukan atas nama diri mereka. Kuasa yang mereka terima adalah kuasa Roh Kudus dari Tuhan sendiri yang memampukan mereka untuk melakukan tanda-tanda heran. Itu sebabnya Yesus berkata bahwa mereka telah menerima cuma-cuma maka mereka juga memberi dengan cuma-cuma tanpa membuat perhitungan apa pun. 

 
Di samping kesadaran seagai utusan dari Tuhan untuk sebuah perutusan tertentu, para utusan ini juga diharapkan menghayati hidupnya menyerupai Tuhan yang mengutus mereka dan mengandalkanNya. Oleh karena itu mereka harus hidup sederhana sehingga hanya memperioritaskan Tuhan saja. Hidup sederhana dengan tidak membawa barang-barang tertentu: emas, perak, tembaga, bekal perjalanan, dua helai baju, sepatu dan tongkat. Mengapa Tuhan memberi syarat kesederhanaan ? Karena domba-domba Israel yang hilang adalah orang miskin dan papa yang hanya berharap kepada Tuhan butuh pelayanan dari orang yang juga sederhana. Kalau para utusan memiliki harta tertentu maka hati mereka juga akan melekat pada harta tersebut dan melupakan tugas utama sebagai pewarta Kerajaan Surga bahkan melupakan Tuhan sendiri. 

 
Di samping menyembuhkan orang-orang sakit, penghiburan kepada kaum papa miskin dan mengusir setan-setan, para utusan juga bertugas untuk membawa damai. Kita ingat pesan Tuhan: “Damai Kuberikan kepadamu, damaiKu Kuberikan kepadamu dan damai yang Kuberikan itu tidak sama dengan yang dunia berikan” (Yoh 14:27). Maka “Berbahagialah mereka yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat 5:9). Tantangan sebagai utusan adalah penolakan dan penganiayaan. Para rasul sebagai utusan Tuhan sudah ingatkan akan pengalaman penderitaan dan kemalangan berupa penolakan dan penganiayaan. Mereka diingatkan untuk setia selamanya karena upah mereka besar di surga dan juga nama mereka tercatat di surga. 

 
Di dalam bacaan pertama, kisah Yusuf, putra Yakub berlanjut. Ia mengenal saudara-saudara yang menjulanya kepada orang-orang Midian seharga dua puluh perak, tetapi saudara-saudaranya tidak mengenal dia. Lihatlah bahwa ketika kejahatan menguasai diri kita maka orang baik, bahkan saudara sekali pun tidak kita kenal. Itulah yang dialami anak-anak Yakub. Yusuf pun menangis karena melihat saudara-saudaranya yang sudah menjualnya, dan sekarang juga masih belum mengenalnya. Kita ingat juga Yesus sendiri yang dijual seharga tiga puluh perak oleh muridNya sendiri yakni Yudas Iskariot. Tetapi sebelumnya, Yesus juga menangisi kota Yerusalem karena penghuninya tidak mengenal dan tidak percaya kepadaNya. Pengalalam Yusuf mirip pengalaman Yesus. 

 
Pengalaman Yusuf menandakan kasih dan kemurahan hati Tuhan yang luar biasa. Yusuf dengan kebaikan Tuhan di dalam dirinya mengubah hidup saudara-saudaranya yang keras menjadi baik, yang berdosa menjadi bertobat. Yusuf tidak bermaksud membalas dendam kepada saudara-saudaranya. Ia hanya menangis sebagai tanda terharu dan sikap mengampuni dengan berkata: “Akulah Yusuf, saudaramu, yang kalian jual ke Mesir. Tetapi sekarang janganlah kalian bersusah hati dan janganlah menyesali diri karena kalian menjual aku ke sini, sebab demi keselamatan hidup kalianlah Allah menyuruh aku mendahului kalian ke Mesir”. 

 

Pada hari ini Tuhan menyapa kita melalui tugas perutusan para rasul atau utusan Yesus dan kekudusan Yusuf putra Yakub. Dari para rasul kita belajar bagaimana menjadi utusan yang sederhana dan membawa damai kepada semua orang. Segala sesuatu yang kita lakukan adalah atas nama Tuhan dan demi kemuliaan nama Tuhan sendiri. Kita juga belajar dari kekudusan Yusuf yang berani melupakan masa lalu saudara-saudaranya. Dengan besar hati, Yusuf mengatakan bahwa masa lalu adalah kehendak Tuhan untuk memberi hidup dan menyelamatkan saudara-saudaranya. Apakah anda dan saya dapat menjadi utusan yang sederhana dan mampu mendamaikan banyak orang? Apakah anda dan saya dapat melupakan masa lalu: pengalaman ditolak atau dijual oleh saudara dan saudari kita?

 

 
Doa: Tuhan, kami memohon rahmat istimewa untuk memiliki kemampuan mengampuni saudara-saudari yang menyakiti dan menolak diri kami. Amen 

PJSDB
Leave a Reply

Leave a Reply