Renungan 16 Juli 2013

Hari Selasa, Pekan Biasa XV

Kel 2:1-15a
Mzm 69: 3.14.30-31.33-34
Mat 11:20-24
Aku telah menarik dia dari air
Ketika masih kecil saya bersama teman-teman sering pergi ke laut untuk belajar berenang dan menangkap ikan. Namun di kalangan teman-teman hanya ada seorang yang tahu berenang sedangkan kami yang lain berkali-kali mencoba tetapi tetap tenggelam dan minum banyak air laut. Di pinggir pantai itu ada sebuah batu besar dan kami semua senang duduk di atas batu sambil menyanyi, berteriak, saling mendorong ke dalam laut ketika terjadi pasang surut. Pada suatu kesempatan, ada seorang teman yang lebih kecil dari kami semua didorong oleh seorang teman hingga jatuh dan tenggelam. Kami semua panik. Teman yang dapat berenang mencoba menyelam dan menyelamatkannya. Ia berhasil menariknya keluar dari laut dengan perut agak buncit karena meminum banyak air laut. Ketika mengikuti pelajaran agama, guru agama menjelaskan tentang Firaun dan keluarganya. Ia juga berusaha menggambarkan sungai Nil seolah-olah ia pernah hidup pada zaman Firaun dan pernah melihat sungai Nil. Puncak ceritanya adalah kisah Musa. Ia berkata Musa berarti: “Aku telah menarik dia dari air”. Serentak kami menunjuk teman yang  pernah tenggelam di laut dan diselamatkan bahwa dialah Musa di dalam kelas. Mulai saat itu ia dipanggil Musa meskipun nama aslinya Yosef.
Kisah Musa di dalam bacaan pertama hari ini memang sangat menarik. Setelah Ramses II membuat aturan membuang semua anak laki-laki bani Israel ke dalam sungai Nil maka ketakutan menguasai seluruh bani Israel. Ramses berpikir bahwa peraturannya akan melebihi kuasa Allah nenek moyang bani Israel. Ternyata tidaklah demikian. Tuhan masih membuka jalan untuk menyelamatkan anak laki-laki Israel dari sungai Nil. Musa mewakili anak laki-laki yang diselamatkan dari sungai. Musa sendiri selamat karena ditarik dari sungai. Selanjutnya Musa dipelihara oleh Putri Firaun. Ia bertumbuh menjadi besar dan kuat. Semakin bertambah usia, ia semakin menyadari bahwa saudara-saudaranya menderita karena kerja paksa yang ditetapkan Firaun. Sambil kerja paksa, anak-anak Israel dipukul bahkan dibunuh. Situasi ini membuat Musa tidak dapat menahan emosi dan melakukan tindakan kekerasan dengan membunuh orang Mesir. Anak-anak Israel sendiri ada yang saling berkelahi dan tidak menerima kehadiran Musa yang berusaha mendamaikan mereka. Maka posisi Musa memang sulit, dia harus berhadapan dengan Firaun, dia juga berhadapan dengan anak-anak Israel yang tidak rukun.

Musa memang sudah ditentukan Tuhan untuk menjadi leader bagi anak-anak Israel. Namun ternyata tidaklah mudah menjadi leader. Ia harus berhadapan dengan Firaun yang hendak membunuhnya. Ia juga berhadapan dengan saudara-saudaranya yaitu anak-anak Israel yang tidak menerima dirinya sebagai pilihan dan utusan Tuhan untuk menjadi pemimpin mereka. Memang kelihatan seperti benang kusut, tetapi Tuhan akan menunjukkan segala kuasaNya di dalam diri Musa. Musa sendiri sudah memenangkan bahaya di dalam air maka ia juga akan menarik saudara-saudaranya dari situasi yang mengancam hidup mereka.

Pengalaman Musa dapat menjadi pengalaan keseharian kita. Masing-masing kita memiliki pergumulan-pergumulan tertentu ketika berhadapan dengan para pemimpin dan mereka yang ada di sekitar kita sebagai sesama. Ada penolakan-penolakan tertentu, kritikan tajam dan gosip-gosip yang dapat menghancurkan karir dan pelayanan kita. Namun demikian, kuasa Tuhan melampaui segalanya. Kuasa Tuhan selalu ada di dalam diri para pilihanNya. Tentu saja butuh iman yang kuat untuk dapat menerima kehendak Tuhan di dalam diri kita masing-masing.
Iman adalah anugerah istimewa dan gratis dari Tuhan. Ia menganugerahkannya kepada orang-orang pilihanNya. Iman itu laksana meterai atau cap di dalam bathin manusia sehingga selalu ada rasa syukur, rasa kasih kepadaNya. Permasalahannya adalah apakah manusia menyadari bahwa di dalam bathinnya ada meterai atau cap yang dianugerahkan oleh Tuhan? Banyak orang mengakui dirinya beragama tetapi tidak beriman. Itu sebabnya mereka hanya bersifat legalistis dan tidak manusiawi memperlakukan umat beragama lain. Agama adalah institusi atau lembaga kolektif sedangkan iman itu sifatnya pribadi antara manusia dengan Tuhan.

Penginjil Matius hari ini mengisahkan tentang kecaman Yesus terhadap kota-kota di sekitar danau Galilea yang sering dikunjungiNya: Khorazim, Betsaida dan Kapernaum. Ia membangggakan Tirus dan Sidon yang berada di luar komunitas Yahudi, juga kota Sodom yang sudah lama dihancurkan dengan api dari langit. Mengapa Yesus mengecam kota-kota yang sering dikunjungi dan membanggakan kota-kota yang bagi orang Yahudi adalah tempatnya kaum kafir? Kota dalam pemahaman Kitab Suci erat terkait dengan manusia yang menghuninya. Para penghuni kota Khorazim, Betsaida dan Kapernaum memang mengalami banyak mukjizat tetap mereka belum percaya dan mengimani Yesus. Mereka hanya menikmati mukjizat tetapi tidak mensyukurinya. Orang-orang di Tirus dan Sidon justru jauh lebih terbuka kepada rencana Tuhan. Mereka menerima kehadiran Yesus dan mereka sungguh berubah secara radikal (bertobat). Pertobatan adalah sebuah mujizat.

Tantangan bagi kita adalah banyak di antara kita yang memiliki pola hidup gampang, banyak menuntut kepada Tuhan tetapi lupa bersyukur dan mengimaniNya. Banyak kali kita berada di zona nyaman doa kita, dan kita hanya berhenti di sana tanpa menghidupkan semangat doa untuk lebih berkembang. Hal ini terjadi juga dalam iman. Kita hanya berhenti pada rasa bangga sebagai pengikut Kristus tetapi tidak mengimani dan mengikutiNya dari dekat. Iman itu membawa kita kepada keselamatan. Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah pertobatan. Dengan sakramen pembaptisan kita dikuduskan, sakramen tobat melepaskan kita dari kuasa dosa. Yesus menghendaki supaya kita mengimaniNya dan bertobat dari semua salah dan dosa kita.
Sabda Tuhan pada hari ini memfokuskan perhatian kita pada keselamatan. Musa telah berjuang untuk hidup di dalam air sungai Nil, dan Tuhan menariknya keluar dari dalam air. Dengan sakramen pembaptisan, kita pun ditarik keluar dari air sebagai makhluk ciptaan baru. Kita semua sering jatuh dalam dosa dan salah tetapi Tuhan selalu memberi kesempatan kepada kita untuk bertobat. Apakah bertobat masih merupakan kebutuhan rohanimu? Apakah kita juga dapat menarik saudara-saudari kita untuk keluar dari dosa dan salah mereka?
Doa: Tuhan Yesus Kristus, bantulah kami untuk membangun semangat tobat hari demi hari. Amen
PJSDB
Leave a Reply

Leave a Reply