Homili 26 September 2014

Hari Jumat, Pekan Biasa XXV
Pkh 3:1-11
Mzm 144:1a.2abc.3-4
Luk 9:18-22

Indah pada waktunya!

Fr. JohnSeorang sahabat barusan kehilangan ibunya. Suasana duka meliputi seluruh keluarga. Banyak orang datang ke rumah duka untuk melayat dan menunjukan kasih kepadanya. Ketika sedang menyiapkan perayaan misa requiem masih kedengaran isak tangis di dalam ruangan. Pada saat sebelum homili saya meminta salah seorang anak untuk mewakili keluarga menyampaikan kesan-kesannya tentang ibunda terkasih supaya umat dan pastor lebih mengenalnya. Putra tertua ibu itu mengatakan banyak hal tentang ibunya dan mengakhiri kesannya dengan mengatakan bahwa hidup dan mati ada di dalam tangan Tuhan. Ia membuat segalanya indah pada waktunya. Semua umat yang hadir mengatakan “Amen”.

Kita semua memiliki pengalaman-pengalaman unik di dalam hidup ini. Penulis Kitab Pengkotbah menulis: “Untuk segala sesuatu ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal. Ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam….” (Pkh: 3:1-2). Penulis Kitab ini meneruskan “litani” yang mengatakan bahwa semua hal yang dialami oleh manusia selama hidup di dunia ini ada waktunya. Hal penting yang mau ditekankan di sini adalah bahwa setiap pengalaman manusia itu selalu menunjukkann kehadiran Allah. Allah hadir dan mengatur segala sesuatu sesuai dengan kehendakNya. Itulah sebabnya setiap peristiwa hidup itu masing-masing memiliki waktu yang berbeda-beda. Ada misteri dalam setiap peristiwa kehidupan yang kadang membuat manusia bertanya-tanya mengapa bisa terjadi demikian. Mengapa Tuhan membiarkan hal itu terjadi. Sebagai contoh adalah kematian yang pasti dialami oleh setiap orang.

Manusia memang diciptakan oleh Allah menurut citraNya sendiri. Ia juga diberi kuasa untuk menguasai segala ciptaan. Namun manusia tetaplah laksana tanah liat yang rapuh. Manusia masih diberi kesempatan untuk mencari makna hidupnya yang sebenarnya di hadirat Tuhan sesuai dengan waktu-waktu kehidupannya. Waktu-waktu kehidupan manusia itu sudah ditetapkan Tuhan dan adalah tugas manusia untuk menerima dan menjalankan kehendak Tuhan itu.

Untuk segala sesuatu itu ada waktunya. Penulis kitab Pengkotbah berusaha meyakinkan kita semua dengan menulis: “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” (Pkh 3:11-14; 8:16-17). Hal penting yang ditegaskan di sini adalah setiap pengalaman hidup kita memiliki makna sesuai waktunya. Kita tentu tidak harus berhenti pada pengalaman sebagai pengalaman saja tetapi semuanya kembali kepada Tuhan sang Pencipta. Segalanya dilakukanNya indah pada waktunya. Indah saja belum cukup! Tuhan bahkan memberikan kekekalan di dalam hati setiap orang. Kekelan sering dilupakan. Orang hanya mengingat indahnya saja. Maka dua hal penting yang patut kita syukur selalu adalah bahwa Tuhan menjadikan segala pengalaman sesuai waktu kehidupan ini indah dan Ia juga menyempurnakannya dengan kekekalan di dalam bathin manusia.

Di dalam bacaan Injil Tuhan Yesus berdoa seorang diri. Ia selalu menggunakan waktu-waktu khusus untuk berdoa, bersatu hati dengan Bapa di surga. Di samping bersatu dengan Bapa di Surga, Tuhan Yesus juga berdoa supaya para muridNya dapat mengenal dan mengakuiNya. Lihatlah bahwa Yesus selalu memulai sesuatu yang penting dengan berdoa seorang diri. Ia selalu memiliki waktu untuk bersama Bapa di Surga. Kita hendaknya merasa malu karena selalu membenarkan diri bahwa tidak ada waktu untuk berdoa. Kesibukan dan litani alasan lain merupakan cara kita untuk membenarkan diri di hadapan Tuhan dan sesama. Anda bisa membayangkan pada saat tidak sempat ke gereja dan salah seorang sahabat bertanya mengapa anda tidak pergi ke gereja maka ada usaha untuk membenarkan diri. Untuk segala sesuatu ada waktunya maka menggunakan satu atau dua jam dari waktu kehidupan untuk Tuhan dengan ikut aktif dalam kebaktian di Gereja adalah baik adanya.

Tuhan Yesus juga bertanya kepada para muridNya tentang kesan orang-orang di luar mereka dan mereka sendiri tentang diriNya. Ada dua pertanyaan penting dalam perikop kita hari ini: Pertama, “Kata orang banyak siapakan Aku ini? (Luk 9:18). Kedua, “Menurut kalian siapakan Aku ini” (luk 9:20). Pertanyaan pertama membuka pikiran kita untuk melihat orang-orang di sekitar kita: di dalam keluarga, di tempat kerja dan jawaban mereka tentang identitas Yesus. Kita akan mendapat kesan bahwa jawaban mereka yang bukan kristiani atau yang tidak mengenal Yesus Kristus tidak jauh berbeda dengan jawaban orang-orang di dalam Injil.

Pertanyaan kedua sifatnya lebih fundamental. Pertanyaan ini membuka pintu hidup kita, membuka iman kita untuk memberi jawaban yang tepat tentang siapakah Yesus itu bagi diri kita. Petrus mewakili kita dan dengan bantua Allah mengakui bahwa Yesus adalah Kristus dari Allah. Bagi Yesus, Mesias yang benar adalah dia yang siap untuk menderita, mengalami penolakan bahkan dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Lihatlah bahwa untuk Tuhan Yesus saja, ada waktu untuk hidup dan ada waktu untuk mati dan bangkit.

Sabda Tuhan memfokuskan perhatian kita pada waktu kehidupan yang indah dan kekal bagi Tuhan dan Ia sendiri menganugerahkannya kepada kita. Satu hal yang konkret adalah apakah kita memiliki quality time untuk diri kita dan keluarga? Apakah ada dampak quality time bagi pertumbuhan iman kita?

Doa: Tuhan, terima kasih atas waktu yang selalu Engkau limpahkan bagi kami. Amen

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply