Homili 25 Februari 2015

Hari Rabu, Pekan Paskah I
Yun. 3:1-10
Mzm. 51:3-4,12-13,18-19
Luk. 11:29-32.

Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku!

Fr. JohnDalam rangka acara rekoleksi bersama para siswa di sebuah sekolah dalam masa prapaskah, telah disepakati sebuah tema yang bagus: “Berbahagialah orang yang murni hatinya karena ia akan melihat Allah” (Mat 5:8). Mulanya team pemberi retreat bingung dengan pesan dari tema ini karena kelihatan temanya terlalu luas dan agak rumit mengkontekstualisasikannya di sekolah itu. Tetapi pihak sekolah dan OSIS menyampaikan gagasan yang bagus untuk mendukung tema rekoleksi ini. Beberapa hal yang sempat diungkapkan adalah ada kecenderungan siswa untuk menyontek pada saat ujian berlangsung. Kemungkinan penyebabnya adalah hati para siswa tidak suci sehingga mereka tidak melihat Tuhan. Mereka tidak takut akan Tuhan. Para guru bahkan menyiapkan stiker bertuliskan: “Katakan tidak pada nyontek!” Hal lain yang mendorong untuk memilih tema kesucian adalah adanya fenomena pergaulan bebas dan bahaya narkoba masuk sekolah. Team pemberi retret mendengar semua sharing dan menyiapkan bahan rekoleksi yang pas dan mantab.

Dalam masa prapaskah ini, kita semua diarahkan oleh Tuhan melalui SabdaNya untuk memiliki hati yang suci dan murni. Hanya dengan hati yang demikian bisa membuat kita menyatu dengan pesan sabda bahagia dari Tuhan Yesus bahwa orang yang memiliki hati yang suci, hati yang tembus padang akan melihat Allah yang senantiasa mengasihi. Masa prapaskah menjadi masa kita mengalami kasih dan kemurahan Tuhan. Melalui sakramen Ekaristi dan sakramen Tobat, kita boleh semakin terarah untuk mewujudkan hidup pribadi dengan hati yang suci dan murni.

Mazmur Tanggapan untuk bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini mengingatkan kita untuk memiliki semangat yang sama. Raja Daud menjawabi teguran Allah melalui nabi Nathan dengan berkata jujur kepada Tuhan: “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, menurut besarnya rahmat-Mu hapuskanlah pelanggaranku. Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!” (Mzm 51: 3-4). Raja Daud tidak memandang kekuasaan yang dimilikinya sebagai raja Israel di hadapan Tuhan dan sesamanya. Dia merasa dirinya sebagai orang yang berdosa dan patut memohon belas kasih dan pengampunan yang berlimpah dari Tuhan. Dia hanyalah manusia rapuh yang butuh penyucian dari Tuhan yang mahakudus.

Selanjutnya, Daud memohon supaya Tuhan menganugerahkan kemurnian hidup kepadanya. Ia berdoa: “Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan baharuilah semangat yang teguh dalam batinku. Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!” (Mzm 51: 12-13). Raja Daud membuat dosa berat di hadapan Tuhan. Di mata manusia biasa, Daud memang begitu rapuh karena dikuasai oleh hawa nafsunya. Ia menyukai kenikmatan duniawi. Namun hal istimewa yang dimilikinya adalah kerendahan hati untuk memohon pengampunan dari Tuhan. Daud percaya bahwa Tuhan memberikan kasih dan pengampunan sehingga ia juga bisa melihat Allah. Daud berdoa: “Tuhan, Engkau tidak berkenan akan kurban sembelihan; dan kalaupun kupersembahkan kurban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Persembahan kepada-Mu ialah jiwa yang hancur; hati yang remuk-redam tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mzm 51:18-19).

Hati yang suci dan murni merupakan buah dari sebuah pertobatan yang matang. Tuhan sendiri memiliki rencana demikian bagi setiap orang. Orang berdosa sekali pun tetap diluputkan oleh Tuhan dari dosa dan maut. Satu contoh nyata adalah kisah tentang orang-orang Ninive. Mereka semua jatuh dalam dosa. Tuhan mengutus Yunus untuk kedua kalinya pergi ke Ninive untuk menyerukan pertobatan. Inilah seruan Yunus: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.” (Yun 3:4). Seruan ini masih bisa didengar oleh orang-orang Ninive karena mereka percaya kepada Allah.

Apa yang dilakukan oleh orang-orang Ninive? Mereka mengumumkan puasa dan mengenakan kain kabung. Raja Ninive saja meninggalkan takhtanya, mengenakan kain kabung dan duduk di atas abu sebagai tanda penyesalan dan kerendahan hatinya di hadapan Tuhan. Semua orang Ninive dan ternaknya juga mengenakan kain kabung di hadirat Tuhan. Tuhan memperhatikan pertobatan Raja dan masyarakatnya sehingga Ia memberikan pengampunan yang berlimpah kepadanya. Tuhan Allah menyesal karena Ia sudah merancangkan malapetaka kepada mereka.

Tuhan Yesus menghadirkan Kerajaan Allah dengan seruan tobat: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” (Mrk 1:15). Namun demikian orang-orang masih menutup dirinya di hadapan Tuhan. Mereka belum bertobat. Mereka malah meminta tanda dari Yesus untuk membuktikan diriNya apakah benar-benar Ia adalah seorang utusan Tuhan. Mereka melihat tanda-tanda dan mendengar SabdaNya tetapi masih meragukanNya juga. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Yunus adalah tanda yang tepat dan bahwa “Pada hari penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!” (Luk 11:32).

Sabda Tuhan pada hari ini sangat menguatkan kita. Tuhan menghendaki agar kita benar-benar menyesal dan bertobat seperti raja Daud dan raja Ninive. Hanya dengan pertobatan yang radikal kita bisa mengalami kasih dan pengampunan yang berlimpah dari Tuhan. Kita bisa memiliki hati yang suci dan murni di hadirat Tuhan. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil! Milikilah hati yang suci dan murni di hadirat Tuhan.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply