Food For Thought: Penolakan

Penolakan

Apakah anda pernah mengalami penolakan? Apa yang anda rasakan ketika mengalami penolakan? Apakah anda sendiri pernah menolak seseorang atau sesuatu di dalam hidupmu? Apa yang anda rasakan setelah menolak orang lain atau sesuatu? Saya merasa yakin bahwa pengalaman menolak dan ditolak itu sangat mempengaruhi seluruh hidup kita. Seorang anak yang mengalami penolakan sejak masih di dalam rahim ibunya akan berpengaruh sepanjang hidupnya. Ketika mengalami penolakan dalam hidup kita juga menjadi tidak percaya diri. Ini tentu berbeda situasinya ketika kita yang menolak seseorang atau menolak sesuatu, saat itu kita merasa seperti lebih hebat dari orang-orang lain.

Pada hari ini dalam bacaan-bacaan liturgi harian kita mendengar kisah yang menarik tentang  penolakan. Dalam bacaan pertama kita mendengar kisah penolakan Ismael oleh keluarga Abraham dan Sara. Kita membaca dalam Kitab Kejadian: “Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.” (Kej 21:10). Abraham tentu bukan sedang patuh pada istrinya melainkan dia patuh kepada Allah. Dikisahkan lebih lanjut bahwa Abraham memang sempat merasa sebal tetapi kehendak Allah tetaplah menjadi prioritas.

Ada dua hal lain yang muncul dalam kisah ini adalah, di pihak Allah, Dia tetap akan menjaga dan melindungi Ismael. Ismael sendiri akan menjadi bangsa yang besar. Di pihak Abraham, dia juga menyediakan bekal perjalanan berupa air dan roti untuk Ismael dan Hagar. Maka di sini kita melihat bahwa penolakan memang menyakitkan namun ada juga kebaikan yang menyertainya.

Dalam bacaan Injil kita juga menjumpai penolakan-penolakan. Pertama, dua orang yang kerasukan Legion tentu dengan sendirinya mendapat penolakan dari orang-orang di sekitarnya. Mereka tentu menakutkan karena dikuasai roh jahat. Kedua, legion atau roh jahat yang merasuki kedua orang itu menolak Yesus. Inilah perkataan mereka: : “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” (Mat 8:29). Penolakan mereka menjadi sebuah peralihan, dari manusia yang mereka rasuki ke babi-babi yang sedang mencari makan. Ketiga, penolakan dari pemilik babi dan orang-orang gadara kepada Yesus. Kita membaca: “Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dan setelah mereka berjumpa dengan Dia, merekapun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka.” (Mat 8:34). Pemilik babi tidak menuntut ganti rugi ketika kehilangan babi-babi karena dia tahu bahwa babi adalah hewan najis dalam budaya Yahudi.

Hidup ini selalu dihiasi oleh penolakan-penolakan. Ismael ditolak namun Tuhan Allah tetap memperhatikan, menjaga dan melindungi. Dua orang yang kerasukan legion memang ditolak oleh sesamanya, namun ada Yesus sang Anak Allah yang menerima dan menyembuhkan mereka. Maka memang manusia saling menolak satu sama lain, namun Tuhan yang satu dan sama tidak akan menolak siapapun. Tuhan Yesus berkata: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” (Yoh. 6:37).

Belajar dari Tuhan, mengapa kita masih saling menolak satu sama lain? Mengapa kita tidak saling menerima apa adanya? Penolakan merupakan tanda bahwa kita belum bisa menjadi sesama bagi yang lain.

P. John Laba, SDB