Homili 7 Mei 2026

Hari Kamis Pekan V Paskah
Kis 15:7-21
Mzm 96:1-2a.2b-3.10
Yoh 15:9-11

Kasih adalah sebuah Relasi

Pada pagi hari ini saya mengingat kembali kutipan perkataan Santo Fulgentius dari Ruspe (467–533 M) sambil menyiapkan homily harian saya. Santo Fulgensius berefleksi tentang kasih dan terungkap seperti ini:

“Kasih, sesungguhnya, adalah sumber segala kebaikan; ia adalah benteng yang tak tertembus, dan jalan yang menuju surga. Barangsiapa yang hidup dalam kasih takkan tersesat maupun merasa takut: kasih menuntunnya, melindunginya, dan membawanya hingga ke tujuan perjalanannya.”

Perkataan orang kudus ini bahwa kasih adalah sumber segala kebaikan tentu menyadarkan kita untuk kembali kepada Tuhan sebagai sumber kasih. Yohanes dalam suratnya menulis:

“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1Yohanes 4:8).

Allah adalah kasih dan Dia benar-benar adalah sumber kasih bagi kita semua.

Kasih adalah sebuah relasi, baik relasi dengan Tuhan maupun relasi dengan sesama kita yang tentu berdampak pada relasi kasih pada diri kita sendiri. Kita mengenal beberapa jenis kasih sebagai relasi: Pertama, kasih tanpa syarat/kasih Ilahi (Agape). Kedua, kasih di antara suami dan istri atau antar pasangan hidup (Eros). Ketiga, kasih dalam keluarga terutama antara anak dan orang tua (Storge) dan keempat, kasih antar sesama teman atau kasih persaudaraan (Phileo). Kita pasti sekurang-kurangnya mengalami jenis-jenis kasih tertentu ini.

Pada hari ini kita mendengar kelanjutan amanat perpisahan dari Tuhan Yesus kepada para murid-Nya. Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Pokok Anggur, Bapa di Surga sebagai Pengusahanya dan bahwa Bapa, Putera dan Roh Kudus datang dan diam atau tinggal bersama orang beriman yang berpegang teguh serta melaksanakan Sabda dan pernintah-perintah-Nya. Selanjutnya Yesus sebagai Pokok Anggur yang benar dan kita sebagai ranting-rantingnya diharapkan bersatu dengan-Nya. Perkataan Yesus semakin membuka wawasan kita bahwa kasih adalah sebuah relas yang mendalam. Perhatikan perkataan Yesus ini:

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu” (Yoh 15:9).

Relasi kasih Bapa, Putera dan Roh Kudus menyatu dengan manusia. Manusia yang mengalami kasih Tuhan diharapkan untuk tinggal di dalam kasih dan mampu untuk mengasihi sesamanya.

Bagaimana relasi kasih antara Tuhan dan manusia dapat terjalin? Relasi kasih itu terjalin melalui ketaatan dan kesetiaan untuk memegang dan melaksanakan perintah atau kehendak Tuhan sendiri. Mari kita perhatikan kembali perkataan Tuhan Yesus ini:

“Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh” (Yoh 15:10-11).

Kasih sebagai sebuah relasi memampukan setiap pribadi untuk mendengar dan mematuhui semua perintah Tuhan. Hanya dengan demikian dapatlah menyenangkan hati Tuhan. Ada sukacita dari Tuhan memenuhi dan menyempurnakan sukacita kita.

Pada hari ini kita belajar untuk menata relasi kasih yang intim dengan Tuhan, dengan sesama dan dengan diri kita sendiri. Allah adalah kasih. Dia mengasihi kita maka kita pun saling mengasihi. Kasih adalah sebuah relasi yang mengubah hidup kita.

P. John Laba, SDB