Hari Rabu, Pekan Biasa ke-XX/A
Yeh 34:1-11
Mzm 23:1-6
Mat 20: 1-16a
Tuhan selalu Murah Hati
Saya pernah mengunjungi sebuah keluarga di sebuah stasi di pedalaman. Setelah sekian lama kami tidak saling berjumpa sehingga perjumpaan itu terasa begitu indah dan bermakna sebagai momen quality time bersama. Dari banyak cerita di antara kami, saya tetap mengingat sebuah perkataan sekaligus harapam dari keluarga ini supaya para imam selalu bermurah hati dalam melayani. Ia mengenang kembali para misionaris tempo doeloe yang sangat setia dan bermurah hati kepada sesama di tanah mereka sebagai tanah misi. Para misionaris tempo doeloe bermurah hati dan siap untuk menolong siapa saja tanpa memilih siapa yang hendak dilayaninya. Para imam sebagai misionaris menunjukkan sebuah nilai positif yang luar biasa. Saya mendengar dan merasa termotivasi untuk menjadi imam yang murah hati. Imam sebagai gembala yang murah hati seperti harapan dan kenangan dari keluarga ini.
Murah hati adalah sifat mulia dari seseorang yang suka memberi, mudah untuk berbagi, tidak pelit dan suka menolong orang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan apapun. Seorang yang murah hati itu selalu siap untuk berbagi dengan siapa saja tanpa memilih dan memilah. Dia merupakan pribadi yang mudah tergerak hati oleh belas kasihan untuk menolong sesama yang sedang berada dalam kesulitan. Dia mudah berempati tidak hanya sekedari bersimpati dengan sesamanya. Ketika ia memberi sesuatu kepada sesamanya, ia selalu melakukannya dengan iklas hati tanpa perhitungan apapun. Semua ini adalah ciri khas pribadi yang murah hati. Semua ini tentu kita menemukannya secara sempurna di dalam Tuhan sendiri. Tuhan bermurah hati kepada semua manusia, hanya saja balasan manusia ada kalanya berupa sifat dan sikap iri hati dan cemburu.
Pada hari ini Tuhan Yesus dalam injil Matius mengemukakan sebuah perumpamaan tentang Kerajaan Surga kepada para murid-Nya. Inilah perumpamaan dalam bentuk narasi: Ada seorang tuan rumah yang hebat. Ia bangun pagi lalu pergi mencari para pekerja untuk bekerja di kebun anggurnya. Mereka pun sepakat tentang waktu kerja dan upah kerja yakni sedinar sehari. Tuan rumah itu mulai keluar untuk mencari para pekerja pada pagi hari sekitar pukul enam, pukul sembilan, pukul dua belas, pukul tiga sore dan pukul lima sore. Dia menjumpai orang-orang ini di pasar dan mengajak mereka untuk bekerja di kebun anggurnya. Pada saat menjelang malam tuan rumah itu memanggil mandor untuk membagikan upah sesuai dengan kesepakatan mereka. Mereka yang dipanggil untuk menerima upah adalah mereka yang dipanggil pada pukul lima sore, tiga sore, dua belas siang, sembilan pagi lalu mereka yang dipanggil paling pertama. Mereka semua menerima upah satu dinar sesuai dengan kesepakatan bersama mereka.
Gelombang protespun datang dari orang-orang yang dipanggil terlebih dahulu untuk bekerja karena mereka lupa pada kesepakatan bersama dalam hal pengupahan. Tuan rumah dengan bijak mengatakan: “Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadapmu. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambilah bagianmu dan pergilah. Aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau karena aku murah hati?”
Kisah ini memang menarik sekali untuk kita renungkan bersama. Bekerja di dalam Kerajaan Allah bukan berdasarkan kriteria manusiawi kita tetapi berdasar pada kemurahan hati Tuhan sendiri. Tuhan memperhitungkan segala karya yang dipercayakan kepada manusia berdasarkan kasih karunia dan kemurahan hati yang total bukan berdasarkan kriteria manusiawi dan aturannya tentang keadilan serta pembayaran upah. Berkaitan dengan kasih karunia, setiap orang yang dipanggil untuk bekerja menerima pahala penuh yang sama. Kebaikan Tuhan adalah anugerah bukan upah berdasarkan hasil kerja. Di dalam Kerajaan Surga itu tidak ada ruang untuk iri hati dan cemburu. Para pekerja hanya memandang diri mereka dan lupa bahwa mereka harus memandang tuannya yang murah hati sehingga sudah menyepakati waktu kerja dan upahnya. Kita tidak memandang diri kita tetapi pandangan kita tertuju kepada Tuhan yang murah hati. Di sini kita juga belajar untuk bermurah hati dengan tidak meremehkan sesama yang lain dalam hal bekerja.
Apa yang perlu kita pikirkan bersama?
Pada Tuhan kita menemukan sosok pribadi yang murah hati kepada semua orang tanpa memilih dan memilah. Tuhan adalah gembala yang baik sehingga membuat kita pun tidak berkekurangan. Dia sebagai gembala yang baik yang akan melepaskan domba-domba-Nya dari mulut yang jahat sehingga seterusnya tidak lagi menjadi mangsa si jahat. Tuhan adalah gembala yang murah hati maka kita pun belajar untuk bermurah hati.
P. John Laba. SDB