Hari Jumad, Pekan Biasa ke-XIXA
St. Maximilianus Maria Kolbe
Yeh 16: 1-15.60.63
Mzm. Yes. 12:2-3. 4bcd. 5-6
Mat. 19:3-12
Kebiasaan Mencobai Tuhan
Ada dua pengalaman yang selalu saya ingat. Pengalaman pertama bersama dengan seorang pemuda. Saya pernah berbincang-bincang dengan seorang pemuda yang bukan lagi menjadi anggota aktif OMK (Orang Muda Katolik). Pembicaraan kami menjadi serius ketika ia mengaku tidak lagi percaya kepada Tuhan seratus persen akibat berbagai kegagalan yang dialami dalam hidup pribadinya, misalnya gagal dalam jodoh dan dalam pekerjaan. Dia sempat berdoa Novena, mengikuti perayaan Ekaristi harian dan devosi serta praktek kesalehan lainnya. Namun demikian semua kegiatan rohani ini terasa sia-sia saja. Dia mengakui bahwa berkali-kali ia mencobai Tuhan dengan keraguan dan pertanyaan untuk menghibur dirinya sendiri dan mencari kepuasannya sepihak. Dia merasa puas karena keraguan dan pertamyaan untuk mencobai Tuhan sunggu dia lakukan akibat berbagai kegagalan hidupnya. Pengalaman kedua adalah perkataan dari seorang bapa kepada anaknya tentang perkawinan. Ia berkata: “Anak, jangan mencobai perkawinan sebagai sakramen karena kalau anda mencobainya berarti anda mencobai Tuhan sendiri.” Dia melanjutkan: “Jangan pernh coba-coba menikah karena pernikahanmu akan mempermainkan dirimu sendiri”.
Saya berhenti pada kata mencobai Tuhan dalam perkawinan. Ketika kita menjalani hidup ini, banyak kali muncul rasa tidak puas dan berujung pada rasa kecewa dengan kehidupan pribadi di hadapan Tuhan. Kita lupa atau tidak menyadari bahwa Tuhan itu tidak pernah lupa, apalagi dengan kita yang diciptakan sesuai dengan wajah-Nya sendiri. Anda dan saya sudah berkali-kali mencobai Tuhan dan ingin supaya kitalah yang mengatur Tuhan. Kita tidak menyadari bahwa kita mencobai Tuhan dalam pikiran, perkataan dan tingkah laku kita. Ketika kita mencobai Tuhan, kita merasa bahwa kita hebat melebihi Tuhan. Padahal kita ini tidak berarti apa-apa.
Pada hari ini kita berjumpa dengan Tuhan Yesus dan kaum Farisi. Ketika itu ada orang-orang Farisi yang datang untuk mencobai Yesus dengan pertanyaan seputar hidup perkawinan dan dan tantangannya. Pertanyaan yang diucapkan kaum Farisi adalah: “Apakah diperbolehkan supaya suami dapat menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Tuhan Yesus mendnegar dan sambil memperhatikan mereka, Ia membuka pikiran mereka untuk mengingat kembali segala sesuatu yang mereka baca di dalam Kitab Suci tentang kisah penciptaan. Di dalam kisa pendiptaan dikisahkan bahwa sejak awal mula Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan. Ini manusia dengan jenis kelamin yang sangat jelas. Lalu Tuhan bersabda kepada manusia bahwa laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya untuk pergi dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging saja. Persekutuan pria dan wanita yang menjadi satu daging itu tidak dapat dipisahkan oleh manusia. Hanya maut yang dapat memisahkan mereka. Tuhan Yesus selanjutnya menegaskan bahwa apa yang dipersatukan Allah tidak dapat diceraikan oleh manusia. Kaum Farisi yang mencobai Yesus ini mencari jalan lain untuk terus mencobai Yesus. Kali ini mereka kembali ke Musa yang konon pernah memberi ijin kepada para suami untuk menceraikan istrinya. Tuhan Yesus sekali lagi memandang mereka dan memberi alasan yang bagus yakni karena keteharan hati manusia sehingga Musa mengijinkan perceraian. Padahal Tuhan sendiri tidak pernah mengijinkannya. Ketegaran hati, sikap egois menjadi penghalang dalam sebuah perkawinan dari dahulu hingga saat ini.
Selanjutnya, dalam rencana Tuhan, ada tiga kelompok manusia yang hidup di hadirat-Nya. Kelompok pertama adalah orang-orang yang tidak dapat kawin karena orang itu memang lahir demikian dari rahim ibunya. Kedua, ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain. Ketiga, ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri demi Kerajaan Allah. Ketiga kelompok manusia ini masih ada sampai saat ini.
Kita kembali kepada pokok permenungan tentang mencobai Tuhan. Semua orang pernah jatuh dalam dosa yang sama ini. Ketika mengalami kesulitan hidup maka mudah sekali kita mencobai Tuhan. Sama juga dalam hidup perkawinan. Ketika ada masalah relasi suami dan istri, orang tua dan anak atau sebaliknya, dalam hal pekerjaan, beban-beban ekonomi tertentu juga membuat orang sadar atay tidak sadar mencobai Tuhan dalam aneka pertanyaan bahkan protes dan keraguan. Mencobai Tuhan juga ditunjukkan dengan menantang, menguji, atau meragukan kuasa dan kesetiaan Allah secara sengaja. Hal ini dilakukan dengan cara berbuat ceroboh atau melanggar aturan, lalu memaksa atau berharap Tuhan bertindak menyelamatkan kita.
Kita mencobai Tuhan tetapi Tuhan sendiri tidak mencobai kita. Tuhan malah menguatkan kita untuk keluar dari cobaan-cobaan hidup. Tuhan malah memampukan kita untuk mengasihi sesama yang sangat membutuhkan. Salah satu orang kudus yang hari ini kita kenang dan menjadi model kita adalah Santo Maximillianus Maria Kolbe. Orang kudus berkebangsana Polandia ini wafat sebagai Martir cinta kasih karena ia dengan sukarela dan sukacita menyerahkan nyawanya di kamp konsentrasi Auschwitz. Santo Maximillianus Maria Kolbe menjadi martir karena menggantikan Franciszek Gajowniczek yang mengeluh karena masih ada keluarganya.
Ada sebuah kutipan perkataan dari Santo Maximillianus Maria Kolbe yang membantu kita untuk tidak mencobai Tuhan dalam hidup kita: “Tidak seoranpun di dunia ini yang menguba Kebenaran. Yang dapat dan harus kita lakukan adalah mencari Kebenaran dan mengabdi kepadanya ketika kita telah menemukannya. Konflik yang sesungguhnya adalah konflik batin. Di balik pasukan pendudukan dan kuburan masal kamp pemusnahan, terdapat dua musuh yang tak dapat didamaikan di kedalama setiap jiwa: kebaikan dan kejahatan, dosa dan cinta. Dan apa gunanya kemenangan di medan perang jika kita sendiri telah dikalahkan di dalam diri kita yang paling dalam?”
Sang Martir Maximillkianus Maria Kolbe tidak mencobai Tuhan. Dia berjumpa dengan Tuhan sebagai Kebenaran dan Hidup yang membawanya kepada hidup kekal. Kita terpanggil untuk mengikuti jejaknya dengan berani dan setia kepada Tuhan sebagai tanda kasih sampai tuntas.
P. John Laba, SDB