Hari Minggu Biasa XXIVA
Sir. 27:33-28:9
Mzm. 103:1-2,3-4,9-10,11-12
Rm. 14:7-9
Mat. 18:21-35
Mengampuni itu indah
Ada sebuah kisah inspiratif tentang pengampunan. Dahulu kala, di sebuah desa kecil yang terletak di kaki gunung, hiduplah seorang penenun tua bernama Leo. Leo terkenal ke mana-mana karena dapat menciptakan permadani yang paling indah dan rumit di seluruh kerajaan. Karyanya begitu hidup sehingga orang-orang berkata bahwa ia bisa mendengar desiran angin yang menerpa pepohonan yang teranyam dalam kainnya. Leo memiliki seorang murid muda bernama Tomas. Tomas memang berbakat, tetapi ia juga tidak sabar dan sangat iri pada keahlian Leo. Ia menginginkan ketenaran dan pengakuan yang dimiliki Leo, dan ia menginginkannya seketika.
Pada suatu malam, diliputi rasa iri, Tomas melakukan hal yang tak terbayangkan. Ia menyelinap ke bengkel Leo dengan membawa sepasang gunting besar. Ia mendekati mahakarya terbaik sang master—sebuah permadani megah yang membutuhkan waktu lima tahun bagi Leo untuk menenunnya, yang rencananya akan diserahkan kepada raja keesokan harinya. Dengan tangan gemetar, Tomas mengoyak kain itu hingga hancur berkeping-keping. Ia kemudian melemparkan gunting itu ke lantai dan melarikan diri ke dalam kegelapan malam, meninggalkan desa karena rasa bersalah dan malu.
Ketika Leo memasuki bengkelnya keesokan paginya, hatinya hancur. Penduduk desa berkumpul, terkejut melihat kehancuran itu. Mereka mendesak Leo untuk memanggil pengawal kerajaan, mencari Tomas, dan memenjarakannya. Leo hanya menatap benang-benang yang hancur. Ia berlutut, mengambil gunting itu, dan berkata, “Kemarahan tidak akan dapat menenun kembali apa yang telah rusak.” Alih-alih memulai karya baru atau membalas dendam, Leo melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia duduk di depan alat tenunnya, mengambil benang-benang yang putus dan kusut dari mahakaryanya yang hancur, lalu mulai mengikatnya kembali. Ia menghabiskan berbulan-bulan memperbaiki kerusakan itu. Ia tidak berusaha menyembunyikan potongan-potongan yang putus; sebaliknya, ia menggunakan benang emas yang berkilau untuk mengikat bagian-bagian yang putus, menyatukan bekas luka permadani tersebut ke dalam desain yang sepenuhnya baru.
Sepuluh tahun berlalu. Tomas menjalani hidup yang menyedihkan, terbebani oleh rasa bersalah yang menghancurkan. Ia telah berkelana dari kota ke kota, tak pernah menemukan kedamaian, selalu dihantui oleh kenangan wajah lelaki tua itu. Tak sanggup lagi menahan penyesalan, Tomas memutuskan untuk kembali ke desa, siap menghadapi para penjaga, menerima rantai, dan masuk penjara. Ia masuk ke bengkel Leo, berlutut, dan menangis. “Guru, akulah yang menghancurkan karya seumur hidup Anda,” isak Tomas. “Aku tidak memohon belas kasihan. Panggil para penjaga.” Leo, yang kini jauh lebih tua dan lemah, menatap mantan muridnya itu. Ia tidak berteriak. Ia tidak meminta bantuan. Sebaliknya, ia dengan lembut meletakkan tangannya di bahu Tomas yang gemetar dan membantunya berdiri. “Lihatlah ke belakangmu, Tomas,” kata Leo dengan lembut. Di dinding utama bengkel itu tergantung permadani paling megah yang pernah dilihat siapa pun. Itu adalah karya yang hancur, tapi kini telah berubah.
Di tempat bekas luka dalam itu, sungai-sungai emas yang indah dan berkilauan kini mengalir melintasi lanskapnya. Bekas luka-luka itu telah membuat karya seni itu jauh lebih mendalam dan indah daripada yang pernah bisa dicapai semula. “Aku telah memaafkanmu pada pagi hari setelah kejadian itu,” kata Leo. “Menunggumu untuk menghadapi para penjaga akan membuatku tetap terkurung di bengkelku sendiri. Sebaliknya, aku memilih untuk menenun. Pengampunan itu untuk diriku sendiri, agar aku bisa terus berkarya. Namun emas ini… emas ini ditenun untukmu, agar ketika akhirnya kau kembali, kau akan melihat bahwa kesalahan terburukmu tidak menentukan akhir dari kisah ini.” Pengampunan sejati tidak menghapus masa lalu atau berpura-pura bahwa luka itu tidak pernah terjadi. Sebaliknya, seperti benang emas, ia mengambil potongan-potongan hidup kita yang hancur dan menenunnya menjadi sesuatu yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan tak terduga indahnya.
Mengampuni itu indah meskipun kita pernah tersayat dan meninggalkan luka-luka kehidupan. Kata-kata Leo kepada Thomas menandakan keindahan sebuah pengampunan:
“Aku telah memaafkanmu pada pagi hari setelah kejadian itu, menunggumu untuk menghadapi para penjaga akan membuatku tetap terkurung di bengkelku sendiri. Sebaliknya, aku memilih untuk menenun. Pengampunan itu untuk diriku sendiri, agar aku bisa terus berkarya. Namun emas ini… emas ini ditenun untukmu, agar ketika akhirnya kau kembali, kau akan melihat bahwa kesalahan terburukmu tidak menentukan akhir dari kisah ini.” Perkataan ini membantu kita untuk merenungkan perkataan Tuhan yang sangat inspiratif tentang mengampuni itu indah.
Penulis kitab Putra Sirak dengan sangat indah melukiskan jalan pengampunan yang mesti kita lakukan dalam hidup kita sehari-hari. Ia menulis:
“Ampunilah kesalahan sesama, niscaya dosa-dosamu akan dihapus juga jika engkau berdoa” (Sir 28:2).
Memang menganpuni sesama adalah syarat mutlak untuk menerima pengampunan dari Tuhan. Menyimpan amarah atau membalas dendam hanya akan mendatangkan hukuman Ilahi atas diri sendiri. Hal yang lain adalah kemunafikan dari ketidakmampuan untuk mengampuni. Ini merupakan sebuah kontradiksi untuk menaham belaskasihan dari sesama manusia, yang memiliki seribu satu kelemahan fana yang sama, lalu meminta Tuhan untuk penyembuhan dan pengampunan atas kesalahan sendiri (Sir 28: 3-5). Hal indah yang mendukung semangat mengampuni adalah menghindari perselisihan (Sir 28:8-9).
Tuhan Yesus mengingatan Simon Petrus yang dengan polosnya bertanya tentang pengampunan secara matematis. Baginya hanya tujuh kali. Tetapi Tuhan Yesus mengubah mindsetnya dengan mengatakan: “Bukan hanya tujuh kali, namun tujuh puluh kali tujuh kali”. Tuhan Yesus mengharapkan agar kita semua saling mengampuni satu sama lain dan pengampunan itu tiada batasnya karena Tuhan sendiri telah mengampuni kita atas hutang yang mustahil untuk kita bayar. Tuhan mengampuni kita secara total maka kita pun mengampuni sesama secara total.
Mengapa kita perlu mengampuni tanpa batas? Kita mengampuni tanpa batas karena Tuhan sendiri mengampuni kita secara sempurna dan total. Tuhan mengampuni kita karena kita adalah milik-Nya. Santo Paulus menulis:
“Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan” (Rom 14:8).
Mengampuni itu indah karane kita sendiri mengalami pengampunan dari Tuhan. Mari kita mulai mengampuni diri sendiri sehingga kita juga mengampuni sesama yang melukai hidup kita.
P. John Laba, SDB