Hari Selasa, Pekan Biasa ke-XXVIIA
Gal. 1:13-24
Mzm 139: 1-3.13-14ab. 14c-15
Luk 10:38-42
Menentukan Skala Prioritas di hadirat Tuhan
Santo Paulus sangat jujur ketika membagikan pengalaman hidupnya dari saat masih Saulus menjadi Paulus. Kepada jemaat di Galatia, ia mengatakan bahwa semua jemaat pasti sudah mendengar tentang masa lalunya sebagai penganiaya jemaat Allah dan berusaha untuk membinasakannya. Dia juga merupakan pribadi yang memiliki disiplin tertentu dalam memelihara adat istiadat nenek moyangnya. Namun Allah sendiri telah memanggil dan memilihnya sejak ia masih berada di dalam kandungan ibunya karena kasih karunia. Allah sendiri baginya. Allah menunjukkan Yesus Kristus Putera-Nya kepada Paulus dan Paulus diharapkan untuk memberitakan-Nya kepada bangsa-bangsa lain. Ia melakukan perjalanan misioner sebanyak tiga kali dengan penuh pengorbanan karena cintanya kepada Tuhan Yesus Kristus. Paulus juga berusaha untuk berkomunikasi dengan komunitas para Rasul di Yerusalem. Dia menjumpai Kefas yakni Petrus dan menginap di rumahnya selama dua minggu.
Paulus membagikan pengalaman hidupnya baik segala tugas pelayanannya maupun perjumpaan dengan sesama untuk menunjukkan bahwa segala sesuatu itu adalah kasih karunia Allah baginya. Inilah yang membuatnya memiliki skala prioritas dalam hidupnya untuk keluar dari dunia yakni masa lalu menuju kepada hidup baru yang hanya dipersembahkan untuk Tuhan saja. Memang tidaklah mudah bagi manusia, namun kasih karunia Allah sungguh mengubah hidup Paulus. Tuhan tentu saja menuntun Paulus untuk mengikuti jalan yang kekal.
Dalam bacaan Injil hari ini, kita berjumpa dengan dua sosok inspiratif untuk menentukan skala prioritas kita di hadapan Tuhan dan sesama. Kedua sosok yang saya maksudkan adalah Marta dan Maria yang merupakan para saudari Lazarus, sahabat Yesus. Keduanya mengajarkan semangat hidup yang saling melengkapi satu sama lain yaitu menyeimbangkan pelayanan aktif dalam hidup bersama dan pengabdian yang hening dengan memprioritaskan waktu untuk tinggal bersama Tuhan. Seorang pengikut Kristus itu tidak bisa hanya aktif melayani hingga tempat terpencil dan mengabaikan hidup doa, atau memprioritaskan doa dan mengabaikan pelayanan kepada sesama yang sangat membutuhkan. Keduanya harus berjalan bersama dan seimbang satu sama lain.
Marta dan Maria selalu melekat dalam diri seorang pengikut Kristus. Sosok Marta mudah terganggu dan cemas karena banyak tugas yang harus diselesaikan. Pekerjaan dan pelayanan kita dapatlah membuat kita kesal hati ketika merasa sendirian, tak ada yang mau membantu pekerjaan kita. Tuhan Yesus memberi teguran supaya Marta bertransformasi bukan karena ia melayani melainkan karena membiarkan stress dan kecemasan merampas kedamaian hatinya. Maria memprioritaskan kehadiran Yesus dengan duduk dan mendengar-Nya. Ia menjalin hubungan dengan Tuhan dan juga berfokus pada Tuhan. Ini adalah ‘bagian terbaik’ dalam hidup kristiani. Maria mengajar kita untuk berhenti sejenak dari segala kesibukan dan aktif mendengar suara Tuhan.
Sekarang kita diingatkan untuk memiliki skala prioritas untuk menumbuhkan iman dan kepercayaan kita kepada Tuhan. Santo Paulus, Martha dan Maria adalah tiga figur yang membantu kita pada hari ini untuk bertumbuh dalam iman. Kita memiliki masa lalu, penuh kecemasan dan kemarahan tetapi kita juga membutuhkan waktu untuk tinggal bersama Tuhan dalam doa.
P. John Laba, SDB