Homili 13 Juli 2026

Hari Senin, Pekan Biasa ke-XVA
Yes 1:11-17
Mzm 50: 8-9. 16bc-17. 21.23
Mat. 10:34-11:1

Nasihat untuk setia

Ada sepasang Pasutri milenial mensharingkan kesulitan-kesulitannya bersama anaknya yang tunggal. Pasutri generasi milenial (Y) ini memiliki anak generasi Alpha. Kesulitab kebih terasa sejak masa C-19 yang lalu. Memang generasi Alpha yang lahir dalam rentangan waktu 2013-2024 adalah anak-anak yang lahir di era modern dengan kecanggihan AI dan automasi. Anak-anak generasi ini sangat cerdas secara digital dan bertumbuh dalam akses informasi yang tak terbatas. Singkatnya, anak-anak ini memiliki kekhasan umum yakni ketergantungan pada gawai, kurang memiliki empati, tidak sabar dan kurang fokus pada setiap tugasnya. Tentu saja dunia anak-anak ini sangat berbeda dengan orang tua Milenial yang hidup dalam masa transisi internet, mulai terbuka terhadap perubahan, ambisius dan melek digital. Maka kesulitan dari para orang tua Milenial dalam mengasuh anak-anak generasi Alpha terutama dalam hal mengurangi kecanduan gawai dan melatih kemampuan sosial di dunia nyata.

Nabi Yesaya menampilkan sosok Tuhan Allah yang penuh kasih setia. Dalam nubuatnya kepada para pemimpin Sodom, Tuhan Allah mengingatkan mereka tentang kejemuan-Nya akan kurban bakaran yang dipersembahkan kepada-Nya. Kurban persembahan berupa domba jantan dan anak be berlemak memang merupakan persembahan yang istimewa namun hati orang-orang Sodom jauh dari Tuhan. Tuhan juga mengatakan ketidaksukaan-Nya pada korban persembahan itu. Tuhan juga tidak menyukai perayaan-perayaan yang mereka melakukan karena hati yang jahat masih menguasai mereka. Semuai ini malah merupakan beban bagi Tuhan.

Tuhan lalu menasihati Umat Israel dengan menunjukkan Diri-Nya sebagai Bapa yang penuh belas kasih. Nasihat Tuhan serupa dengan nasihat seorang Bapa yang baik kepada anak-anak-Nya yang nakal dan keras hati:

“Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” (Yes 1:16-17).

Proses transformasi yang terbaik adalah memperhatikan orang-orang yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Mereka yang tidak berpengharapan supaya memiliki harapan. Tentu saja dimulai dari pertobatan diri sendiri sehingga bisa memperhatikan sesame yang lain.

Apa yang kita dapat pelajari dari Tuhan?

Pelajaran pertama adalah bahwa Tuhan itu selalu setia kepada manusia. Manusia berdosa, penuh dengan kelemahan. Tuhan hadir dan menyatakan kehendak-Nya secara terus terang. Kalau marah, Dia dengan terus terang mengatakannya kepada umat-Nya. Ini terntu berbeda dengan kita yang suka menyembunyikan sesuatu padahal hati kita berkata yang lain. Kita menjadi munafik.

Pelajaran kedua adalah bahwa Tuhan itu menunjukkan kasih serta kerahiman-Nya kepada manusia. Tuhan itu tidak menghitung-hitung kelemahan manusia tetapi menunjukkan pengampunan yang berlimpah. Ini yang sangat berbeda dengan kita. Kita selalu menghitung-hitung kesalahan sesama dan lupa bahwa kita juga orang berdosa.

Pelajaran ketiga adalah Tuhan mengajar kita untuk terus memberi nasihat yang positif bukan negatif. Kadan pesan negatif itu lebih menonjol pada kita, tetapi Tuhan malah mengajar kita untuk memiliki hati yang berbelas kasih kepada orang-orang kecil. Mereka ini adalah pilihan pelaanan kita.

Pesan Tuhan melalui nabi Yesaya ini memang kaya mankanya. Para orang tua yang berhadapan dengan anak-anak masa kini mesti banyak belajar dari Tuhan. Tuhan melihat kelemahan dan memberi kekuatan. Tuhan tidak menghitung kelemahan tetapi mengampuni dan mengedukasi manusia untuk menjadi lebih baik. Bagaimana dengan kita?

P. John Laba, SDB