PW. St. Alfonsus Maria de Liguori
Yer 26:11-16.24
Mzm 69:15-16.30-31.33-34
Mat 14:1-12
Salah Sangka
Kita semua mengenal kata salah sangka atau salah duga, salah kira atau salah paham. Salah sangka dipahami sebagai sebuah kondisi keliru dalam memahami, menduga, atau menilai seseorang maupun suatu keadaan. Hal ini sama artinya dengan salah paham, salah kira, atau salah duga. Salah sangka yang keliru (terutama prasangka buruk) tidak memiliki akibat positif secara langsung karena berisiko memicu kesalahpahaman, konflik, atau rasa sakit hati. Namun, dalam konteks tertentu, situasi dari sebuah salah sangka bisa berbalik memberikan hikmah atau pembelajaran positif bagi seseorang. Orang bisa menjadi matang dalam mengambil Keputusan tertentu bagi dirinya dan bagi orang yang menjadi objek dari sangkaannya itu. Orang bisa saja terbuka untuk membuat klarifikasi, mengintrospeksi diri dan mengenal karakternya. Sedangkan akibat negatif dari salah sangka atau berburuk sangka meliputi rusaknya hubungan sosial, timbulnya rasa cemas, serta munculnya permusuhan.
Salah sangka dapatlah kita temukan dalam perikop Injil pada hari ini. Herodes Antipas sebagai raja wilayah Galilea dan Perea dengan gelar tetrark, dari tahun 4 SM hingga 39 M. Ia sempat mendengar tentang Yesus yang sedang viral saat itu. Namun ia salah sangka ketika ia berkata kepada para pegawainya: “Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya.” (Mat 14:2). Dia belum mengenal Yesus dan menyangka bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis. Tentu hal yang positif dari salaah sangkanya Herdes Antipas adalah ia tidak melakukan tindakan frontal kepada Yesus tetapi menyalagunakan kekuasaannya untuk membunh Yohaes Pembaptis.
Dari perikop Injil ini kita menemukan beberapa alasan mengapa Yohanes Pempatis dibunuh: Pertama, Sebuah teguran keras Yohanes kepada Herodes sebagai seorang public figure. Yohanes Pembaptis menegur Herodes sebagai ‘pebinor’, dalam hal ini ia menikahi Herodias, istri dari saudara tirinya sendiri yakni Herodes Filipus. Masih ada banyak wanita lain tetapi dia merebut istri saudaranya. Perlu kita ketahui bahwa Herodes Antipas dan Herodes Filipus adalah saudara tiri dari ayah yang sama, yaitu Raja Herodes Agung, namun berlainan ibu. Ini memang tidak elok dan memalukan. Kedua, ada nendam pribadi dari Herodias ‘pelakor’. Herodias merasa baik saja sebagai wanita yang direbut sekaligus menyandang status sebagai ‘pelakor’. Ia sangat membenci Yohanes Pembaptis dan mencari cara untuk membunuhnya. Seharusnya malu ya tetapi memang sangat manusiawi. Ketiga, ada sumpah raja demi harga dirinya yang sangat manusiawi. Pada pesta ulang tahun Herodes Antipas, anak perempuan Herodias menari dan menyenangkan hati Herodes Antipas. Ia lalu berjanji untuk memberi apa saja yang menjadi permintaan anak Perempuan Herodias yang bernama Salome berdasarkan catatan dari sejarahwan Flavius Yosefus. Atas hasutan ibunya, Salome meminta kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam. Herodes akhirnya menuruti permintaan itu karena sumpahnya di depan para tamu. Ketiga alasan ini yang menjadikan Yohanes Pembaptis sebagai Martir.
Utusan Tuhan seperti Yohanes Pembaptis menjadi Martir. Ia mengorbankan diri karena memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Yohanes sebenarnya menjaga nama baik dan posisi Herodes Antipas namun keinginan manusiawi lebih menguasai Herodes Antipas dan Herdias. Pebinor dan Pelakor memang sama-sama mempertahankan kenikmatan duniawi mereka. Pengalaman Yohanes Pembaptis ini sama dengan pengalaman nabi Yeremia dalam bacaan pertama, meski berbeda perlakuannya dengan Yohanes Pembaptis dalam dunia perjanjian baru. Yeremia sempat ditangkap karena nubuat yang disampaikannya. Ini bunyi ancaman kepada nabi Yeremia dari para pemuka dan seluruh rakyat: “Orang ini patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah bernubuat tentang kota ini, seperti yang kamu dengar dengan telingamu sendiri.” (Yer 26:11). Yeremia membela dirinya sehingga ia memperoleh perlindungan dari Ahlikam bin Safan (Yer 26:24).
Salah sangka selalu terjadi di dalam hidup kita sehari-hari. Salah sangka telah memnbuat begitu banyak orang menari di atas penderitaan orang lain. Orang kecil mendapat perlakuan tidak adil sedang orang besar menikmati kekuasaan dan menindas orang kecil. Itulah kehidupan manusia sepanjang zaman. Kita seharusnya terpanggil untuk keluar dari situasi yang gelap ini.
Pada hari ini kita memasuki bulan Agustus. Di awal bulan ini kita berjumpa dengan sosok orang kudus pejuang kebenaran dan keadilan yakni santo Alfonsus Maria de Liguori. Orang kudus ini menjadi ahli hukum yang hebat, namu ketika ia mengalami kegagalan, ia bangkit dan memulai hidup baru. Salah satu kutipan perkataannya yang selalu saya ingat adalah: “Hati manusia takkan pernah menemukan kedamaian sejati, jika tidak mengosongkan diri dari segala sesuatu yang bukan Allah, agar dapat membebaskan diri sepenuhnya bagi kasih-Nya, sehingga hanya Dialah yang dapat memiliki seluruhnya. Namun, jiwa tak dapat melakukannya dengan kekuatannya sendiri; ia harus memperolehnya dari Allah melalui doa-doa yang tak henti-hentinya.”
Di samping mengenang santo Alfonsus, bulan Agustus juga dikenal sebagai bulan untuk berdevosi kepada Bunda Maria. Kita semua dingatkan untuk berdevosi kepada Hati Santa Perawan maria yang tidak bernoda. Memang kita semua terbiasa mengenal bulan Mei sebagai bulan Maria, bulan Oktober sebagai bukan Rosario. Namun Paus Pius ke-XII memanggil kita untuk menghormati hati santa perawan Maria yang tak bernoda pada bulan Agustus. Ada tiga perayaan Bunda Maria pada bulan Agustus ini yakni tanggal 5 Agustus kita mengenang pemberkatan Basilika Santa Maria Magiore di Roma. Pada setiap tanggal 15 Agustus kita merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke Surga. Ini adalah Hari Raya utama saat umat Katolik merayakan kepercayaan bahwa jiwa dan raga Bunda Maria diangkat ke dalam kemuliaan surga setelah akhir hidupnya di bumi. Pada tanggal 22 Agustus, kita merayakan Santa Perawan Maria Ratu. Peringatan ini untuk menghormati Bunda Maria sebagai Ratu Surga dan Bumi, yang kedudukannya terikat erat dengan Yesus Kristus sebagai Sang Raja.
Pada hari ini kita berubah dari Sala sangka menjadi setia seperti Maria yang setia kepada Tuhan sampai selama-lamanya. Selamat memasuki bulan Agustus.
P. John Laba, SDB