Homili Sabtu, Pekan Biasa ke-XXIIIA
Pesta nama Santa Perawan Maria
1Kor 10: 14-22a
Mzm 116: 12-13. 17-18
Luk 6:43-49
Membangun Tubuh Kristus Masa Kini
De Mariam Nunquam Satis artinya tentang Bunda Maria tidai pernah ada kata yang cukup. Perkataan ini diucapkan oleh Santo Bernardus dari Clairvaux, sosok pencinta Santa Perawan Maria. Pada hari ini kita mengenang kembali perayaan nama tersuci Maria. Nama Maria selalu dikaitkan dengan laut, samudra, bintang dan tentu saja Tabut Perjanjian dan Hawa Baru. Perayaan nama tersuci santa Maria ini dirayakan empat hari setelah kelahiran santa perawan Maria. Kita ingat kembali bahwa kelahiran santa Maria dirayakan pada tanggal 8 september yang lalu. Maka empat hari kemudian, yakni pada tanggal 12 September kita mengenang nama Maria yang tersuci.
Sambil mengenang Bunda Maria, Saya teringat pada sosok seorang pemuda yang pernah berkata kepadaku: “Saya bangga sebagai pengikut Kristus. Demikian pengakuan sang pemuda dalam sharingnya ketika kami berekoleksi bersama. Ia adalah anggota Gereja yang baru, ia dibaptis sebagai orang Katolik dewasa beberapa tahun yang lalu. Dalam peziarahannya sebagai umat katolik selama lima tahun terakhir, ia merasa bangga sebagai orang Katolik yang mengikuti Yesus Kristus. Dia merasa bangga karena semangat persatuan yang menjadi sifat khas Gereja Katolik yakni Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik. Semangat persekutuan dirasakannya ketika mengikuti perayaan Ekaristi di tempat yang lain, liturginya sama dan semuanya tertuju kepada Kristus.
Sharing ini turut membantu renungan akan Sabda Tuhan kita pada hari Sabtu ini. Santo Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus yang kita baca hari ini mengingatkan jemaat di Korintus dan kita yang membaca Kitab Suci pada saat ini untuk menjauhkan diri dari penyembahan berhala. Orang-orang Korintus terbiasa menyembah berhala sehingga perlu koreksi supaya mereka sungguh-sungguh menjadi anak Tuhan. Paulus sendiri mengakui bahwa perkataan yang dituliskan ini ditujukan kepada orang-orang yang bijaksana. Jemaat di Korintus perlu membuat pertimbangan yang matang tentang apa yang disampaikan oleh santo Paulus. Ia juga menekankan bahwa Ekaristi memiliki daya untuk mempersatukan semua orang sebagai satu jemaat. Piala syukur mempersatukan jemaat dengan Darah Kristus, sedangkan roti mempersatukan seluruh jemaat sebagai bagian dari Tubuh Kristus sendiri. Sebab itu, menurut santo Paulus:
“Karena roti itu hanya satu, maka kita ini sekalipun banayak merupakan satu tubuh, karena kita semua mendapatkan bagian dalam roti yang satu itu” (1Kor 10:17).
Perkataan santo Paulus kalau kita renungkan dalam konteks perayaan Nama tersuci santa Perawan Maria maka terdapat relasi seperti ini: Nama Maria berarti seorang yang memiliki cinta yang besar seluas samudra raya. Dialah pembawa terang (Stella Maris) dan kita tahu bahwa terang sejati adalah Yesus sendiri. Nama Maria juga berhubungan dengan kepahitan hidup atau dukacitanya sebagai ibu Yesus. Kita mengenal tujuh duka cita Maria dalam Injil yang memiliki hubungan yang erat dengan peristiwa Kristus sendiri. Semua ini membawa kita kepada persatuan sebagai satu Tubuh yaitu Tubuh Kristus sendiri. Maria adalah orang pertama yang bersatu dengan Tubuh Kristus. Kita mengikuti jejak Bunda Maria untuk bersatu dengan Kristus.
Untuk dapat bersatu dengan Tuhan atau sebagai bagian dari Tubuh Mistik Kristus maka kita perlu berubah. Tuhan Yesus di dalam bacaan Injil hari ini membicarakan hal-hal yang erat terkait dengan persekutuan antara para pengikut sebagai Tubuh Mistik dan diri Kristus sendiri. Pertama-tama, Yesus berbicara tentang sebuah relasi antara pohon dan buah yang dihasilkan dari pohon itu. Bagi Yesus, “Tidak ada pohon baik yang menghasilkan buah yang tidak baik. Demikian juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik/ Sebab setiap pohon dikenal dari buahnya”. (Luk 6: 43-44). Belajar dari filosofi pohon, Tuhan Yesus lalu mengarahkan para murid-Nya untuk mengerti bahwa orang baik memilki hati yang baik yang dapat memberi hal yang baik kepada sesama. Berbeda dengann orang yang jahat karena memang hatinya jahat maka hal-hal yang jahat juga keluar dari perbendaharaannya yang jahat.
Pada filosofi pohon yang dikaitkan dengan hidup pribadi manusia maka kita juga dibantu untuk memandang Bunda Maria dan Tuhan Yesus. Relasi mereka adalah relasi Tuhan dan Umatnya dan reasi manusiawi yaitu relasi ibu dan anak. Dari Maria kita mengenal Yesus dan segala kebaikan-Nya. Secara manusiawi, Tuhan Yesus juga mendapatkan pengalaman manusiawi ini dari Maria, ibu Yesus. Kita mengagumi Yesus maka tentu saja kita mengagumi Maria. Ad Iesum per Mariam.
Hal kedua adalah tentang berseru kepada Tuhan tetapi lalai menjadi pelau Firman. Orang yang datang kepada Yesus karena mereka mendengar Sabda Tuhan. Oramg yang datang kepada Yesus, mendengar dan melakukan Sabda itu sama dengan orang yang mendirikan rumah di atas batu. Ini tentu kuat sekali karena batu adalah dasarnya. Berbeda dengan orang yang tidak mendengar dan juga tidak melakukan Sabda. Mereka itu seperti orang yang hanya membangun rumah di atas tanah yang lembek. Rumah itu tentu akan mudah hancur ketika dilanda banjir. Hal mendengar dan melakukan Sabda itu adalah hal yang penting dan harus kita laksanakan Kalau tidak, nemarlah perkataan Yesus kepada orang yanghanya berseri Tuhan dan Tuhan saja tetapi tidak menjadi pelaku sabda.
Bunda Maria adalah sosok yang mendengar, merenungkan dan meakukan Sabda secara sempurna. Tidak ada seoramg manusia yang enyerupa Maria dalam melakukan kehendak dan Sabda Tuhan sendiri. Di perayaan namanya yang tersuci ini, marilah kita memandang, menyapa dan mengikuti jejak Maria menuju kepada Yesus. Santa Maria, doakanlah kami. Amen.
P. John Laba, SDB