Hari Kamis, Pekan Biasa ke XXVA
Pkh 1:2-11
Mzm 90:3-6.12-14.17
Luk 9:7-9
Gara-gara Yesus
Ada sebuah pengalamanku yang menarik dan tetap saya ingat. Ketika itu saya baru selesai merayakan Ekaristi di Gereja. Seorang pemuda mendekati saya di depan Sakristi. Ia ingin sharing pengalaman rohaninya dan meminta petunjuk dari saya. Pemuda ini mengakui bahwa awal mula ia tertarik untuk menjadi katolik adalah ketika hari itu terjadi hujan lebat dan angin kecang. Ia tidak mempunyai pilihan lain selain berlari ke arah Gereja untuk berteduh sejenak. Ia berjalan ke sana kemari sambil melihat ke dalam gedung Gereja dan ingin mengetahui apa saja yang ada di dalam Gereja itu. Dia hanya melihat dari jendela yang terbuka seluruh isi Gereja dan aneka ornamennya. Matanya tertuju pada patung Hati Kudus Yesus yang cukup besar, berdiri sambil jarinya menunjuk ke arah hatinya. Dia memperhatikannya dan ketika ia kembali ke rumahnya, hatinya terobang-ambing. Dia mengingat patung itu berhari-hari dan posisi jarinya yang menunjuk ke hatinya.
Dalam sharingnya itu, ia percaya bahwa pada saat itu Tuhan Yesus memanggilnya untuk berubah haluan atau kiblat dalam hidupnya. Hatinya tetap tidak tenang ketika bayangan Patung Hati Kudus Yesu tetap muncul dalam pikirannya. Dia sendiri merasa tidak layak ketika membayangkan bagaimana Tuhan Yesus memanggilnya untuk mengasihi. Jari Yesus yang menunjuk pada Hati Kudus-Nya menunjukkan bahwa cinta Tuhan kepada manusia itu tiada batasnya. Cinta Tuhan itu gratis karena Dia adalah cinta itu sendiri (1Yoh 4:8.16). Allah adalah kasih dan kasih-Nya tiada batasnya.
Kecemasan itu selalu kita alami, terutama pada saat-saat yang sulit seperti masalah kabut asap dan dampaknya bagi kesehatan manusia. Kecemasan bisa terjadi karena sebuah ketakutan pada seseorang atau pada sesuatu yang menakutkan kita. Kecemasan juga bisa terjadi karena masalah-masalah tertentu yang sedang dihadapi. Kadang-kaang bisa menjadi ketakutan yang berlebihan. Kita semua sudah atau sedang mengalami kecemasan tertentu sesuai dengan sitasi hidup kita.
Pada hari ini kita berjumpa dengan sosok Herodes Antipas. Dia adalah sosok yang sedang mengalami kecemasan mendalam gara-gara Yesus. Sebenarnya kecemasan hatinya gara-gara Yesus sudah pernah dialami oleh Herodes Agung, ayahanda dari Herodes Antipas ketika Yesus baru lahir di Bethlehem. Kini anaknya cemas ketika mendengar tentang Yesus yang belum dikenalnya secara pribadi. Dia masih merasa yakin bahwa Yesus adalah Yohanes Pembabtis yang sudah dibununya, Yohanes Pembaptis dibunuh karena Herodes Antipas merebut Herodias, istri dari Herodes Philipus yang masih merupakan saudaranya. Akibat teguran Yohanes ini maka Yohanes menjadi martir.
Kemartiran Yohanes Pembabtis membawa kecemasan bagi Herodes Antipas.Ia mendengar cerita-cerita tentang Yesus yang semakin viral. Herodes Antipas berpikir bahwa Yesus adalah Yohanes yang sudah dibunuhnya. Tuhan Yesus membuat Herodes Antipas menjadi cemas. Dia bahkan dengan niat jahat, ingin bertemu dengan Yesus. Tentu saja dia memiliki agenda tersembunyi terutama komplotan untuk membunuh Yesus.
Kecemasan selalu ada pada kita semua. Orang tua cemas melihat masa depan anaknya. Kecemasan demi kecemasan pasti kita semua rasakan bersama. Namun satu hal yang mendasar adalah Tuhan Yesus adalah Penebus kita, Tidak ada nama lain yang indah selain nama Yesus. Herodes saja cemas dan menebak-nebak tentan sosok yang lagi viral saat itu yaitu Yesus.
P. John Laba, SDB