Homili 22 September 2026

Hari Selasa, Pekan Biasa ke-XXV
Ams 21: 1-6. 10-13
Mzm 119: 1.27.30.34.35.44
Luk 8:19-21

Menjadi Pelaksana Sabda

Kita sedang berada di hari-hari terakhir menjelang akhir Bulan Kitab Suci Nasional. Berdasarkan tema Bulan Kitab Suci Nasional 2026: “Yesus Guru yang penuh kuasa: Wajah Yesus di dalam Injil Matius”, menjadi pertanyaan bagi kita adalah apakah kita sudah membaca, mendengar, merenungkan dan menjadi pelaku Sabda Tuhan? Kita sudah menghadiri pendalaman Kitab Suc di lingkungani, membagikan pengalaman rohani dalam pertemuan kelompok, namun apakah kita sudah benar-benar bersahabat dengan Kitab Suci? Santo Hironimus pernah berkata: “”Ignoratio Scripturarum ignoratio Christi est” yang berarti: “Tidak mengenal Kitab Suci berarti dengan sendirinya tidak mengenal Kristus. Perkataan santo Hironimus membantu kita untuk sadar diri dan semakin berusaha untuk bersahabat dengan Kristus di dalam Kitab Suci dan menurut Kitab Suci.

Pada hari ini kita mendengar kisah Yesus dan keluarga-Nya menurut Injil Lukas. Ketika itu Yesus sedang mengajar banyak orang. Sebab itu tidak ada kemungkinan bagi keluarga-Nya untuk bertatap muka secara langsung dengan-Nya. Tentu saja Ibunda yakni Maria yang melahirkan-Nya dan saudara-saudara sepupu terdekat-Nya merindukan-Nya, apalagi mereka mendengar kabar tidak sedap bahwa Ia sudah tidak waras lagi. Karena kedatangan keluarga Yesus maka orang-orang yang berada di dekat Yesus menyampaikan kepada-Nya bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya berada di luar dan ingin menjumpai-Nya. Tuhan Yesus sebenarnya sedang mengikat sebuah keluarga baru melalui ajaran-Nya yang penuh kuasa dan wibawa. Jadi ikatan keluarga baru itu bukan semata-mata berdasarkan hubungan darah melainkan sebuah ikatan rohani yang mendalam. Sebuah ikatan berdasar pada Sabda Tuhan. Berkaitan dengan ini, Tuhan Yesus mengingatkan semua orang di dalam rumah itu: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakannya”.

Kisah ini membuka wawasan kita bahwa Tuhan Yesus mendefinisikan ulang ikatan keluarga, dengan menyatakan bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya yang sejati adalah mereka yang mendengarkan Sabda Tuhan dan benar-benar mempraktikkannya dalam hidup setiap hari. Sebuah keluarga baru yang dibentuk yang masa kini kita sebut sebagai Gereja diikat oleh Yesus melalui Sabda-Nya. Sabda Tuhan itu didengar dan dilaksanakan dengan sepenuh hati. Sabda itu adalah Yesus sendiri sebagai Sabda kehidupan. Kita harus mendengar-Nya. Allah Bapa sendiri berkata dari Surga: ”Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Mat 3:17). Bangsa Israel sendiri diingatkan: “Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara Tuhan, janganlah bertegur hati (Mzm 95:8; Ibr 3:15). Kita mendengar suara Tuhan, hanya banyak kali hati kita tegar dan menutup telinga kita terhadap suara Tuhan. Tentu saja kita juga tidak akan menjadi pelaku-pelaku Sabda Tuhan yang handal.

Dalam Bacaan Pertama (Amsal 21:1-6, 10-13), terdapat penekanan bahwa berbuat benar dan bertindak adil lebih berkenan di hadapan Tuhan daripada persembahan jasmani. Bacaan ini memperingatkan bahwa Allah menilai motif hati manusia dan bahwa mengabaikan seruan orang miskin akan membawa kehancuran rohani. Sejalan dengan bacaan pertama, dalam Mazmur (Mzm 119:1, 27, 30, 34-35, 44) dikatakan bahwa doa untuk memohon kepada Allah agar diberi pengertian dan bimbingan untuk berjalan setia dalam perintah-perintah dan hukum-hukum-Nya. Kita semua tetap diarahkan agar dalam keluarga baru itu ada adil dan setia dalam hidup kita.

Kita juga tetap termotivasi untuk mencintai Sabda Tuhan dengan membaca, mendengar, merenungkan dan melakukan Sabda Tuhan. Ini membutuhkan komitmen yang tetap terhadap Sabda. Hanya dengan demikian kita akan menjadi semakin akrab dengan Tuhan Yesus.

P. John Laba, SDB