Homili 25 September 2026

Hari Jumat, Pekan Biasa ke-XXV
Pkh 3:1-11
Mzm 144: 1a.2abc. 3-4
Luk 9:18-25

Berdoa seorang diri

Ada seorang Bapa yang berlutut sambil berdoa di depan Gua Mara. Ia berdoa sambil menutup matanya dan sepertinya dia tidak menghitung lama waktu berdoanya. Banyak orang memperhatikan Bapa itu. Wajahnya penuh dengan keheranan dan rasa ingin tahu dengan tatapan orang kepadanya. Selesai berdoa sendirian, datanglah orang yang merasa heran karena bapa itu berdoa begitu khusyuk dan bertanya dengan jujur kepadanya: “Bapa ini benar-benar seorang pendoa karena sejak tadi berdoa begitu khusyuk”. Bapa itu hanya tersenyum sambil memandang orang itu dan berkata: “Tuhan Yesus saja berdoa seorang diri”. Perkataan ini singkat tetapi memiliki makna yang dalam. Yesus, Anak Allah. Dia selalu berdoa dan mengucap syukur kepada Bapa.

Ada beberapa contoh dari Injil tentang Yesus berdoa: Pertama, Sebelum Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus (Yoh 11:41-42). Tuhan Yesus menegadah ke langit dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syulur kepada-Mu, kartena Engkau telah mendengarkan Aku”. Kedua, Yesus berdoa di Taman Getzemani. Tuhan Yesus sujud dan berdoa: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadui” (Mat. 26:39, Luk 22:42). Ketiga, Yesus sebagai Imam Agung berdoa. Yesus mendoakan para murid-Nya agar menjadi kudus dan satu dalam kebenaran (Yoh 17:1-26). Keempat, Tuhan Yesus berdoa dari atas kayu Salib (Luk 23:34; Mat 27: 46; dan Mrk 15:34).

Tuhan Yesus juga memiliki kebiasaan rutin untuk berdoa, misalnya saat Tuhan Yesus dibaptis di Sungai Yordan (Luk 3:21), Ia mengiundurkan diri ke tempat yang sunyi untuk berdoa (Luk 5:16), Yesus berdoa semalam-malaman sebelum memilih kedua belas murid-Nya (Luk 6:12). Tuhan Yesus berdoa sendirian sebagai tanda kemanusiaan-Nya yang sejati. Dia sungguh-sungguh mengambil rupa seorang hamba dan bergantung penuh pada Bapa. Tuhan Yesus juga menunjukkan cara bersekutu, berserah dan memohon kekuatan bagi pengikut-pengikut-Nya.

Beberapa informasi di atas membuka hati semua orang beriman untuk menjadikan doa sebagai sebuah kebutuhan hidup kita. Tentu saja kita tidak hanya meminta doa, tetapi kita harus menyerupai Yesus yang meskipun Dia adalah Anak Allah yang menjadi hamba bagi Tuhan dan manusia. Tuhan Yesus berdoa seorang diri, sebagai motivasi bagi kita untuk tekun berdoa. Tuhan Yesus saja berdoa, mengapa kita begitu sulit ketika berdoa secara pribadi atau bersama dalam sebuah Komunitas.

Penginjil Lukas mengisahkan bahwa Yesus berdoa seorang diri. Murid-murid datang kepada-Nya. Yesus lalu bertanya kepada mereka tentang perkataan orang tentang diri-Nya. Kata orang memang mudah untuk dijawab. Misalnya mudah untuk menjawab bahwa kata orang Yesus adalah Yohanes Pembaptis, nabi Elia dan seorang nabi dari zaman dahulu. Yohanes Pembaptis karena dialah yang menyiapkan kedatangan Yesus dan sekaligus membaptis Yesus. Elia adalah nabi yang mereka nantikan kedatangannya sebelum datangnya Mesias. Tuhan Yesus memandang Yohanes Pembaptis sebagai Elias baru. Nabi zaman dahulu selalu merujuk pada para nabi, misalnya para nabi besar seperi Yesaya, Yeremia, Yehezkiel dan nabi-nabi kecil. Maka mudah untuk menjawab kata orang tentang Tuhan Yesus.

Pertanyaan ini menjadi sulit ketika Tuhan Yesus bertanya menurut para murid sendiri tentang Yesus. Ini sangat sulit. Simon Petrus dengan anugerah Bapa yang mengatakan: “Engkaulah Kristus dari Allah”. Ini adalah pengakuan iman dari Simon mewakili rekan-rekannya yakni para murid Yesus sendiri. Yesus tidak berpuas diri dengan pengakuan iman Simon Petrus. Yesus dengan terbuka menyampaikan masa depan-Nya di mana Dia akan menderita, wafat dan bangkit dengan mulia. Penolakan dan penindasaan kepada Yesus dilakukan oleh tua-tua, para imam kepalda dan para Ahli Taurat.

Pengakuan iman kepada Kristus menjadi sebuah alasan bagi kita untuk semakin mengimani-Nya. Memang sebagaimana Kitab Pengkotbah mengingatkan kita hari ini bahwa untuk segala sesuatu di bawah langit ada waktunya. Kita punya waktu untuk berdoa secara pribadi maupun berdoa bersama-sama di dalam komunitas atau keluarga. Tuhan memang Gunung Batu kita. Dialah Pribadi yang melindungi kita dan kubu pertahanan kita.

Saya mengakhir homili ini dengan mengingat percakapan seorang imam dan seorang anak remaja. Pastor bertanya: “Emang kamu berdoa?” Anak remaja menjawab: “Ya saya berdoa, Pastor.” Pastor bertanya, “Apakah anda berdoa secara pribadi?” Anak itu menjawab: “Ya hanya 30 detik saja karena setelah itu saya tidak bisa lanjut berdoa, pikiran saya terganggu dan akhirnya saya tidak berdoa”. Pastor bertanya lagi: “Jadi kamu kamu lebih suka berdoa seperti apa?” Anak remaja itu menjawab: “Saya senang berdoa bersama karena saya tidak ngantu juga ramai.” Dialog pastor dan anak remaja ini adalah gambaran hidup anda dan saya saat ini. Jangan lupa berdoa!

P. John Laba, SDB