Homili 24 September 2026

Hari Kamis, Pekan Biasa ke XXVA
Pkh 1:2-11
Mzm 90:3-6.12-14.17
Luk 9:7-9

Gara-gara Yesus

Ada sebuah pengalamanku yang menarik dan tetap saya ingat. Ketika itu saya baru selesai merayakan Ekaristi di sebuah Gereja. Seorang pemuda mendekati saya di depan Sakristi. Ia ingin sharing pengalaman rohaninya dan meminta petunjuk dari saya. Pemuda ini mengakui bahwa awal mula ia tertarik untuk menjadi umat katolik adalah ketika pada suatu hari ia melakukan perjalanan dengan berjalan kaki. Tiba-tiba terjadi hujan lebat dan angin kencang. Ia tidak mempunyai pilihan lain selain berlari ke arah Gereja untuk berteduh sejenak. Ia berjalan ke sana kemari sambil melihat ke dalam gedung Gereja dan ingin mengetahui apa saja yang ada di dalam Gereja itu. Dia hanya melihat dari jendela yang terbuka seluruh isi Gereja dan aneka ornamennya. Matanya tertuju pada patung Hati Kudus Yesus yang cukup besar, berdiri sambil jarinya menunjuk ke arah hatinya. Dia memperhatikannya beberapa kali. Ketika ia kembali ke rumahnya, hatinya cemas dan terombang-ambing. Dia mengingat kembali patung Hati Kudus Yesus selama berhari-hari, teruta,a wajah dan posisi jari tangannya yang menunjuk ke hatinya.

Dalam sharingnya itu, ia mengatakan bahwa sejak saat itu ia semakin percaya bahwa pada saat itu Tuhan Yesus memanggilnya untuk berubah haluan atau kiblat dalam hidupnya. Hatinya tetap tidak tenang ketika bayangan Patung Hati Kudus Yesu tetap muncul dalam pikirannya. Dia sendiri merasa tidak layak ketika membayangkan bagaimana Tuhan Yesus memanggilnya untuk mengasihi. Jari Yesus yang menunjuk pada Hati Kudus-Nya menunjukkan bahwa cinta Tuhan kepadanya itu tiada ada batasnya. Cinta Tuhan itu gratis karena Dia adalah cinta itu sendiri (1Yoh 4:8.16). Allah adalah kasih dan kasih-Nya tiada batasnya. Dia belajar katekumen hingga dibabptis dengan perasaan optimis.

Kecemasan itu selalu kita alami, terutama pada saat-saat yang sulit seperti menghadapi atau mengalami masalah tertentu. Contoh masalah kabut asap dan dampaknya bagi kesehatan manusia. Kecemasan bisa terjadi karena sebuah ketakutan pada seseorang atau pada sesuatu yang menakutkan kita. Kecemasan juga bisa terjadi karena masalah-masalah tertentu yang sedang dihadapi misalnya relasi dengan orang tertentu. Kadang-kadang bisa menjadi ketakutan yang berlebihan. Kita semua sudah atau sedang mengalami kecemasan tertentu sesuai dengan sitasi hidup kita masing-masing.

Pada hari ini kita berjumpa dengan sosok Herodes Antipas. Dia adalah sosok yang sedang mengalami kecemasan mendalam gara-gara Yesus. Sebenarnya kecemasan hatinya gara-gara Yesus sudah pernah dialami oleh Herodes Agung, ayahanda dari Herodes Antipas, ketika Yesus baru lahir di Bethlehem. Kini anaknya yakni Herides Antipas merasa cemas ketika mendengar tentang Yesus yang dewasa namun  belum dikenalnya secara pribadi. Dia masih merasa yakin bahwa Yesus adalah Yohanes Pembabtis yang sudah dibununya. Yohanes Pembaptis dibunuh karena Herodes Antipas merebut Herodias, istri dari Herodes Philipus yang masih merupakan saudaranya. Akibat teguran Yohanes ini maka Yohanes menjadi martir.  Kata orang Yohanes bangkit kembali. Ada yang mengatakan Elia atau seorang nabi terdahulu telah bangkit kembali. Ini memang mencemaskan hatinya sebagai manusia biasa, meskipun dia raja saat itu.

Gara-gara nama Yesus, Herodes menjadi cemas. Ayahnya Herodes Agung pernah merasa cemas ketika mendengar dari para majus tentang kelahiran Raja Baru yakni bayi Yesus di Bethlehem. Kini anaknya Herodes Antipas merasa cemas karena dosanya merebut istri saudaranya dan juga membunuh Yohanes Pembabptis, dan dikatakan ia hidup. Seorang raja sekuat apapun akan dioenjara oleh kecemasan, apalagi kalau ada dosa yang selalu menghantuinya. Kita juga demikian, ketika kita hidup dalam dosa maka kecemasan akan menjadi hantu yang menakutkan sebelum kita bertobat dengan sungguh-sungguh.

Kecemasan selalu ada pada kita semua. Orang tua cemas melihat masa depan anaknya. Kecemasan demi kecemasan pasti kita semua rasakan bersama. Namun satu hal yang mendasar adalah Tuhan Yesus adalah Penebus dan satu-satunya penyelamat kita. Tidak ada nama lain yang indah selain nama Yesus. Herodes saja cemas dan menebak-nebak tentan sosok yang lagi viral saat itu yaitu Yesus.

P. John Laba, SDB