Hari Sabtu, Pekan Biasa ke-XXVA
Pkh 11: 9-112:8
Mzm 90: 3-6.12-14.17
Luk 9:43b-45
Malu bertanya kepada Tuhan
Saya masih ingat sebuah sharing bersama sekelompok anak remaja dalam rekoleksi bersama di sekolah. Kami merenung bersama tentang Kerahiman Allah dalam Sakramen Tobat dalam kisah seorang Bapa yang Murah Hati (Luk 15:11-32). Saya berusaha menjelaskannya dengan sederhana, mendekati bahasa anak-anak remaja masa kini. Ada seorang remaja perempuan yang melakukan sharingnya yang pertama. Ia membandingkan dirinya dengan si bungsu yang meninggalkan rumah, terbenam dalam lumpur kekelaman. Dia kembali dan meminta maaf kepada ayahnya dan ayah yang murah hati ini menerimanya kembali sebagai anak. Dia sudah meninggal dan kini hidup kembali. Anaj itu berkata: “Pater, saya merasa malu untuk meminta kerahiman Allah karena saya tidak layak untuk memintanya. Saya merasa malu karena sempat berkubang di lumpur pekat. Saya sudah begitu jauh dan malu untuk meminta kerahiman Tuhan”. Saya memandang anak remaja itu dengan penuh kasih dan saya berterima kasih kepadanya. Sebagai orang pertama yang melakukan sharing itu tidaklah mudah. Setiap pribadi memiliki masa lalu, mungkin ada yang terjerumus ke dalam lumpur yang pekat.
Merasa malu untuk bertanya kepada Tuhan terutama tentang bagaimana untuk menjadi kudus. Perasaan malu kepada Tuhan terjadi ketika kita tidak mau bertobat. Kita memilih untuk menjauh dari Tuhan karena kita malu untuk berbicara dengan Tuhan dalam doa. Kita merasa malu karena ketidakberdayaan kita ketika kita berada dalam kepungan dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Kita malu kepada Tuhan karena kita selalu jatuh ke dalam dosa yang sama. Ada niat untuk berubah namun baru kali ini kita semua sadar diri untuk berubah. Tuhan selalu bekerja bersama manusia sekalipun melalui kemartiran.
Hari ini kita mendengar bagaimana Tuhan melakukan karya-karya belas kasih di hadapan para murid-Nya. Banyak orang merasa heran pada segala sesuatu yang sudah dilakukan Yesus. Penginjil Lukas (Luk 9:43b-45) mengisahkan bawa peristiwa Yesus ini terjadi tepat setelah Ia turun dari gunung dalam hal ini setelah peristiwa Transfigurasi dan menyembuhkan seorang anak laki-laki yang kerasukan setan, suatu saat di mana orang banyak benar-benar tercengang oleh kebesaran Allah sendiri.
Tuhan Yesus yang ditemani oleh Petrus, Yakobus, dan Yohanes baru saja mengalami Transfigurasi (Perubahan Rupa), sementara murid-murid lainnya yang tidak sempat ke puncak gunung yang tinggi gagal menyembuhkan seorang anak yang menderita. Yesus kemudian berhasil mengusir setan itu, sehingga membuat kerumunan orang tercengang. Tentu saja pekerjaan Yesus ini menyelamatkan dan mencengangkan banyak orang.
Selanjutnya, di tengah pujian publik dan harapan besar dari kerumunan orang, Yesus dengan tegas mengalihkan perhatian para murid dalam lingkaran atau komunitas-Nya kepada penderitaan-Nya yang akan datang, memperingatkan mereka bahwa Anak Manusia akan dikhianati dan diserahkan ke tangan manusia. Manusia sendiri belum menyadari indentitas Yesus yang sebenarnya.
Para murid sedang menikmati gelombang kegembiraan rohani dan kekaguman publik, tetapi Yesus mengingatkan mereka bahwa jalan-Nya mengarah ke salib, bukan kepada kemenangan duniawi yang segera. Penginjil Lukas mencatat bahwa makna perkataan Yesus tersembunyi atau tidak dimengerti oleh para murid sehingga mereka belum dapat memahaminya, dan mereka terlalu takut untuk meminta klarifikasi kepada-Nya.
Sementara di dalam bacaan pertama dariK Kitab Pengkhotbah, dikatakan bahwa nikmati hidup itu perlu sebuah tanggung jawab. Dikatakan bahwa masa muda adalah masa penuh kegembiraan dan vitalitas, namun masa itu berlalu dengan cepat, dan pada akhirnya Allah akan mempertanggungjawabkan setiap tindakan kita. Dengan menggunakan gambaran puitis yang hidup, periskop kita ini menggambarkan penurunan fisik yang menyertai usia tua (penglihatan yang melemah, tangan yang gemetar, dan langkah yang melambat) sebagai pengingat bahwa kehidupan duniawi akan berakhir. Kita juga diingatkan untuk kembali kepada Tuhan. Artinya bahwa hidup dan nafas pada akhirnya kembali kepada Tuhan yang memberikannya, mendorong manusia untuk mencari makna dalam kehidupan saat ini dengan memusatkan hidup mereka pada Pencipta mereka, bukan pada kesia-siaan duniawi yang sementara.
Pertanyaan bagi kita adalah apakah kita masih mau malu untuk bertanya kepada Tuhan? Bukankan Dia adalah Pencipta kita dan kita adalah umat-Nya (Mzm 95:6-7)? Maka kita hendaknya merasakan kedatangan dengan Tuhan. Malu berdoa kepada Tuhan hanyalah membuat kita bisa tersesat di hadapannya.
P. John Laba, SDB