Hari Minggu Biasa XXVIA
Yeh. 18:25-28
Mzm. 25:4bc-5,6-7,8-9
Flp. 2:1-11 (panjang) atau Flp. 2:1-5 (singkat)
Mat. 21:28-32
Jangan Malu Untuk Bertobat?
Kita semua berada di Hari Minggu terakhir dalam Bulan Kitab Suci Nasional, September 2026. Sebagaimana kita ketahui bahwa tema Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026 adalah ‘Yesus Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius’. Menjadi pertanyaan bagi kita, siapakah sebenarnya Yesus menurut Penginjil Matius? Kalau kita rajin membaca Injil Matius, kita menemukan bahwa Yesus adalah Mesias (Kristus) yang telah lama dinantikan. Kristus adalah dikatakan sebagai Putra Raja Daud, dan Immanuel (artinya “Allah beserta kita”). Kita juga perlu mengetahui bahwa Penginjil Matius menulis Injilnya terutama untuk pembaca Yahudi. Ia ingin menunjukkan bahwa Yesus tidak membatalkan Perjanjian Lama. Sebaliknya, Yesus menyempurnakan dan menggenapinya. Apakah kita sudah membaca, mendengar, merenungkan dan menjadi pelaku Sabda Tuhan? Santo Hironimus mengingatkan kita semua: “Ignoratio Scripturarum ignoratio Christi est” artinya “Tidak mengenal Kitab Suci dengan sendirinya tidak mengenal Kristus sendiri”. Percuma saja kita mengikuti pertemuan untuk pendalaman Kitab Suci di lingkungan, mengikuti lomba baca Kitab Suci, lomba serba-serbi Kitab Suci namun akan menjadi sebuah kekurangan besar adalah ketika kita tidak membaca, mendengar, merenung dan menjadi pelaku Sabda Tuhan secara pribadi. Kita perlu melakukan pertobatan ‘Kitab Suci’.
Pada hari ini juga, kita merayakan Hari Minggu Biasa ke-XXVIA. Sabda Tuhan pada hari Minggu ini memanggil kita untuk menyadari dan melakukan pertobatan yang radikal. Kita dapat melakukan pertobatan kalau kita sadar diri dan tahu diri bahwa kita adalah orang berdosa. Santo Yohanes Krisostomus pernah berkata:
“Hendaknya anda merasa malu saat anda berbuat dosa, namun janganlah merasa malu saat anda bertobat – Dosa adalah luka namun pertobatan adalah obatnya. Dosa diikuti oleh rasa malu; pertobatan diikuti oleh keberanian. Setan telah membalikkan urutan ini dan memberikan keberanian kepada dosa serta rasa malu kepada pertobatan.”
Kita tidak malu berbuat dosa tetapi merasa malu kalau kita mau bertobat. Inilah ironi kehidupan dan kefanaan kita saat ini.
Maka pertanyaan bagi kita adalah mengapa kita malu untuk atau ketikan kita bertobat? Kita semua adalah orang berdosa. Santo Bernardus dari Clairvaux pernah berkata: “Para Santo dan santa bukanlah orang yang tidak pernah berbuat dosa, melainkan orang-orang yang semakin jarang berbuat dosa dan semakin cepat bangkit”. Perkataan ini super sekali! Santo Paulus menyadari dirinya sebagai orang dengan masa lalu yang gelap, namu ketika memberi kesaksian tentang kesan gaitan Kristus, Ia berkata: “Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya” (1Kor 15:8). Orang kudus yang lain pernah mengalami masa lalu seperti Santo Agustinus yang hingga saat ini kita kagumi sebagai orang kudus hebat di dalam Gereja.
Banyak di atara kita penah mendengar nama Waluyo alias Kusni Kasdut (1929-1980). Beliau mulanya dikenal sebagai seorang pejuang kemerdekaan terutama melawan penjajah Jepang. Hidupnya berubah setelah kemerdekaan yakni menjadi perampok kelas kakap. Dia keluar masuk penjara karena kejahatannya. Menjelang eksekusi mati, Waluyo alias Kusni Kasdut pasrah dan bertobat. Kusni dibaptis menjadi seorang Katolik dengan nama Ignatius Waluyo oleh Romo Theodorus Tandya Sukmana CM. Dia masih sempat membuat pernak pernik rohani dan lukisan-lukisan Gereja yang indah. Orang jahat sekelas Waluyo berubah menjadi Ignasius Waluyo atau Ignasius Kusni Kasdut.
Berbagai contoh yang saya ceritakan ini menunjukkan bahwa untuk bertobat kita tidak perlu merasa malu karena kita semua orang berdosa. Nabi Yehezkiel berkata: “Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya. Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya. Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya, ia pasti hidup, ia tidak akan mati.” (Yeh 18:26-28). Perkataan ini mengoreksi orang yang merasa diri suci dan tidak pernah ber buat dosa padahal sesungguhnya banyaklah dosanya.
Perkataan Yehezkiel diperjelas oleh perumpamaan Yesus dalam Injil tentang dua orang bersaudara yang diminta ayah mereka untuk bekerja di Kebun Anggurnya. Anak pertama mengatakan Ya untuk pergi bekerja tetapi tidak pergi. Perkataan tidak sejalan dengan perbuatan. Anak kedua mengatakan tidak pergi bekerja, tetapi kemudian ia merasa malu sehingga ia pergi bekerja di kebun anggur ayahnya. Anak kedua memiliki masa lalu yakni tidak mau, jauh dari kehendak ayahnya namun ia mau berubah. Ia menyesal dan pergi melakukan kehendak ayahnya. Maka benar kata Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mat 21:31). Mereka masuk surga karena mendengar dan percaya pada perkataan Yohanes Pembaptis.
Lalu bagaimana dengan kita?
Kita semua adalah orang berdosa, namun kalau kita mendengar Yesus: membaca, mendengar, merenungkan dan melakukan sabda Tuhan maka kita tentu berjalan di jalan yang terbaik untuk menjalani pertobatan pribadi kita. Mengapa? Karena ‘dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan’ (Flp 2:1). Maka jangan hanya hidup dan menikmati dosa tanpa merasa malu. Seharusnya janganlah anda merasa malu untuk bertobat dari dosa-dosamu. Ini sikap yang disukai Tuhan.
P. John Laba, SDB