Homili 29 Oktober 2026

Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XXX
Ef. 6:10-20
Mzm. 144:1.2.9-10
Luk. 13:31-35.

Allah adalah kekuatan seorang misionaris

Pada hari ini, saya tertarik dengan perkataan dari Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus (Ef. 6:10-20), yang sungguh menginspirasi kita semua. Paulus menulis: “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. (Ef 6:10).

Bagi saya, ini adalah sebuah panggilan untuk menjadi kuat di dalam Tuhan (Ef.6: 10–13). Tuhan menjadi kekuatan dalam hidup misioner maka seorang misionaris sejati tidak akan takut atau bermental bekicot karena kekuatannya adalah Allah sendiri. Apa yang dapat kita tangkap dari tulisan Paulus di perikop awal ini? Pertama, orang-orang beriman, anda dan saya, lebih khusus lagi para misionaris itu diperintahkan untuk menemukan kekuatan mereka di dalam Tuhan dan kuasa-Nya yang agung, dengan menyadari bahwa usaha manusia saja dalam bermisi tidaklah cukup. Kedua, ada perjuangan yang bukanlah untuk melawan manusia (daging dan darah), melainkan melawan kekuatan-kekuatan rohani yang tak terlihat, kuasa-kuasa kegelapan, dan tipu daya iblis. Ketiga, tentu saja tujuannya bukanlah melancarkan serangan agresif untuk menaklukkan wilayah baru, melainkan mempertahankan posisi (“berdirilah teguh”) berdasarkan kemenangan yang telah dimenangkan Kristus.

Setiap misionaris perlu menyadari bahwa dengan menerima panggilan Tuhan untuk pergi sebagai misionaris, demi mewartakan Injil, melayani sesama, dan menghadirkan kasih Allah di tengah dunia adalah penting dan harus. Namun, demikian perlu juga disadari bahwa menjadi misionaris bukanlah perjalanan yang selalu mudah. Ada kalanya kita mengalami kelelahan, kesepian, kesalahpahaman, konflik dalam komunitas, keterbatasan tenaga dan sarana, bahkan kekecewaan karena pelayanan kita tidak menghasilkan buah seperti yang diharapkan. Tuhan Yesus saja menangis ketika melihat Yerusalem yang sulit untuk bertobat (Dominus Flevit).

Dalam situasi seperti itu, kita dapat bertanya: dari manakah kita memperoleh kekuatan untuk terus melangkah? Apakah dari kemampuan pribadi, pengalaman, keberhasilan karya, atau penghargaan orang lain? Santo Paulus memberikan jawaban yang jelas: “hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan”.

Seorang misionaris sejati menyadari bahwa panggilannya bukanlah miliknya sendiri. Misi bukan proyek pribadi untuk menunjukkan kehebatan, melainkan karya Allah yang dipercayakan kepadanya. Karena itu, ia harus belajar bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap rendah hati; membuat perencanaan dengan baik, tetapi tetap terbuka terhadap kehendak Allah; dan menghadapi kesulitan dengan berani, tetapi tidak kehilangan kepercayaan kepada penyelenggaraan Ilahi. Mengandalkan Allah bukan berarti kita berhenti berusaha. Sebaliknya, kita memberikan seluruh kemampuan kita sambil menyadari bahwa rahmat Allah adalah sumber kekuatan yang paling dalam.

Misionaris yang kuat bukanlah orang yang tidak pernah mengalami kelemahan, melainkan orang yang tetap bersandar kepada Allah ketika menyadari kelemahannya.

P. John Laba, SDB