Homili 28 Oktober 2026 – Pesta Santo Simon dan Yudas Tadeus

Hari Rabu, Pekan Biasa ke-XXXA
Pesta Santo Simon dan Yudas
Ef 2: 19-22
Mzm 19:2-3.4-5
Luk 6:12-19

Hidup Misioner dan Kemartiran: Mengenang Santo Simon dan Yudas

Selamat bersumpah pemuda! Pada hari ini kita juga merayakan pesta Santo Simon dan Yudas Tadeus, Rasul. Pesta keduanya dirayakan secara bersama-sama setiap tanggal 28 Oktober. Menjadi pertanyaan bagi kita adalah mengapa pesta kedua Rasul ini dirayakan bersama-sama?

Tentu saja ada alasan-alasan tertentu yang perlu kita ketahui bersama:

Pertama, Simon dan Yudas melakukan perjalanan Misioner bersama. Menurut tradisi, setelah berkhotbah di wilayah yang berbeda (Simon di Mesir dan Yudas di Mesopotamia), kedua rasul ini bertemu dan melakukan perjalanan bersama untuk memberitakan Injil di Persia.

Kedua, Rasul Simom dan Yudas diyakini sama-sama wafat sebagai martir. Tradisi mencatat bahwa mereka menghadapi penganiayaan yang berat dan menjadi martir pada hari yang sama di Persia (sekitar tahun 65 M) saat mereka berdua sedang menyebarkan Injil.

Ketiga, Makam bersama. Di Roma, relik-relik mereka disimpan bersama di dalam satu makam di Basilika Santo Petrus.

Keempat, kedua Rasul ini menjadi simbol persekutuan Kristiani. Perayaan bersama mereka menekankan bahwa kehidupan sebagai murid Kristus dimaksudkan untuk dijalani dalam komunitas dan persekutuan, bukan sebagai individu yang terisolasi.

Dari keempat alasan yang saya tuliskan di atas, saya lebih mengarahkan kita pada sosok kedua Rasul sebagai Misionaris.

Santo Simon dijuluki “si Zelot,” yang melambangkan seseorang dengan semangat yang kuat dan membara. Kehidupannya mengajarkan kepada kita bahwa energi alami, gairah, atau dedikasi yang kuat terhadap suatu tujuan dapat diubah oleh rahmat Allah menjadi semangat untuk Kerajaan Surga, bukan untuk konflik duniawi. Inilah semangat misioner santo Simon.

Santo Yudas dikenal sebagai santo pelindung bagi kasus-kasus yang putus asa, mendesak, atau tampak mustahil. Teladannya mengajarkan kepada kita untuk tidak pernah kehilangan harapan, sekaligus mengingatkan umat beriman bahwa tidak ada doa yang terlalu kecil dan tidak ada situasi yang berada di luar jangkauan rahmat ilahi. Kita semya mengingat Novena santo Yudas Tadeus. Ini juga menunjukkan semangat misioner santo Yudas Tadeus.

Lalu apa pesan misioner bagi kita?

Misi tidak selalu berarti pergi ke negeri yang jauh. Misi juga berlangsung di tengah keluarga, komunitas, lingkungan kerja, sekolah, paroki, dan masyarakat. Setiap orang yang telah dibaptis dipanggil menjadi saksi Injil melalui perkataan, tindakan, dan cara hidupnya. Misi itu dimulai ketika kita bersedia untuk keluar dari kenyamanan diri sendiri untuk menghadirkan kasih Kristus bagi sesama. Santo Simon dan Yudas, doakanlah kami. Amen

P. John Laba, SDB