Homili 3 September 2014

Hari Rabu, Pekan Biasa XXII
1Kor 3:1-9
Mzm. 33:12-13,14-15,20-21
Luk. 4:38-44.

In Deo Confidimus!

Fr. JohnKetika pertama kali saya melihat lembaran dan coin uang dollar Amerika, mata saya tertuju bukan pada nilai nominalnya tetapi pada tulisan: “In God We trust”. Dalam bahasa Latin berarti: “In Deo Confidimus.” Dalam sejarahnya, frasa “In God We Trust” pertama kali muncul pada uang logam (coin) Amerika Serikat pada 1864, tapi baru pada 1965 konggres negeri itu meresmikannya sebagai motto resmi pada mata uangnya. Uang Dollar Amerika ini banyak dipakai sebagai alat pembayaran di seluruh dunia, tanpa membedakan suku, agama dan ras tertentu. Mungkin saja banyak orang memiliki ketertarikan untuk trust atau percaya pada uang tetapi tulisan ini mungkin mau mengingatkan kita bahwa God itu nomor satu yang harus kita percaya. Tetapi mungkin saja situasi dunia berkata lain karena banyak orang lebih percaya pada uang dari pada percaya kepada Tuhan.

Hari ini kita mendengar St. Paulus sedang melanjutkan diskursusnya bagi komunitas Korintus. Setelah menjelaskan tentang hikmat yang berasal dari Allah dalam Roh Kudus dan membedakan manusia jasmani dan rohani, ternyata hal ini menimbulkan reaksi keras di dalam komunitas. Ada perselisihan yang terjadi di dalam komunitas itu karena masing-masing orang menyadari posisinya sebagai manusia jasmani saja yang mengandalkan dirinya atau juga sebagai manusia rohani yang mengandalkan Tuhan. Paulus menyadari bahwa sebelumnya ia berbicara kepada mereka sebagai manusia jasmani yang masih dikuasai dunia, dan belum dewasa dalam Kristus. Strategi yang dipakai Paulus adalah pengajarannya itu ibarat susu instan yang siap diminum dan rasanya pasti nikmat. Kalau saja Paulus mengajar dengan pengajaran yang berat dan keras maka mereka pasti tidak akan menerimanya. Jadi hal pertama yang dirasakan Paulus adalah jemaat di Korintus belum matang dan harus dibimbing dengan baik, seperti seorang anak butuh bimbingan orang dewasa.

Keadaan lain yang dirasakan Paulus adalah jemaat itu saling berlomba satu sama lain sehingga menimbulkan iri hati dan perselisihan tertentu. Keadaan seperti ini bagi Paulus tidaklah mendukung untuk menjadikan mereka lebih akrab sebagai sahabat dan saudara di dalam Kristus. Situasi ini juga dipicu oleh hadirnya dua toko karismatis yaitu Paulus dan Apolos. Bagi Paulus, benih iman di Korintus itu ditanam olehnya, Apolos menyirami dan Tuhan Allah memberi pertumbuhan. Masalahnya adalah keterikatan pada figur sehingga Tuhan diabaikan. Pada akhirnya Paulus dengan tegas mengatakan bahwa ia dan rekan-rekannya adalah mitra kerja Allah sedangkan jemaat Korintus adalah ladang Allah, bangunan Allah. Jadi keterikatan pada figure harus dikesampingkan untuk memprioritaskan Allah.

Pemikiran Paulus ini memang menarik perhatian kita sebagai Gereja. Banyak kali orang tertarik untuk aktif di dalam hidup menggereja karena kehadiran figur tertentu. Misalnya orang yang hanya menyenangi pastor dan pengurus gereja tertentu. Kalau pastor ini misa biasanya umatnya banyak, kalau pastor itu umatnya malas untuk mengikuti misa. Kalau pengurus gereja bernama ini maka orang aktif kalau bukan maka orang tidak mau aktif. Kelompok orang seperti ini dalam kamusnya Paulus, masih masuk kategor manusia jasmani. Imannya masih kecil dan melihat lebih banyak dengan mata manusia bukan mata Tuhan. Orang yang sudah dewasa imannya akan punya prinsip yang berbeda. Dia tidak akan bergantung pada siapa gembalanya, siapa pengurus gerejanya tetapi akan tetap mendedikasikan diri seutuhnya untuk membangun gereja. Paulus berprisip bahwa dia hanya menanam, Apolos juga hanya menyiram tetapi Tuhanlah yang menumbuhkan. Hanya kepada Tuhanlah kita percayakan seluruh Gereja dan karyanya.

In Deo Confidimus merupakan sebuah frasa yang mengingatkan kita supaya memiliki kebiasaan mempercayakan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Kita perlu mengakui segala keterbatasan kita di hadirat Tuhan dan memohon supaya Tuhan menguatkan kita dalam segala karya dan pelayanan kita. Banyak kali kita lupa diri dan lebih mengandalkan diri kita dari pada Tuhan. Sikap Paulus dalam perikop kita ini menunjukkan kerendahan hatinya dan mempercayakan segalanya kepada Tuhan. Kita pun mengikuti teladan Paulus untuk lebih mengandalkan Tuhan di dalam hidup kita. Mungkin saja ada yang lebih mengandalkan dunia, uang, kekuasaan dan aneka tawaran duniawi lainnya tetapi hari ini Paulus menginspirasikan kita untuk memiliki kepercayaan kepada Tuhan. Paulus adalah mitra kerja Allah, jemaat di Korintus adalah ladang Allah. Kita pun demikian adanya, artinya merasa sebagai ladang di mana Alalh sendiri menumbuhkan benih iman sedangkan para gembala adalah mitra kerja Allah yang melayani Gereja atau Umat Allah.

Di dalam bacaan Injil kita semua dikuatkan oleh sikap orang-orang di sekitar Galilea yang menaruh harapan dan iman sepenuhnya kepada Tuhan Yesus. Mereka berhasil membuktikan bahwa “In Deo Confidimus” ini berhasil dengan sempurna. Orang-orang mempercayakan saudara-saudaranya yang sakit dan yang kerasukan setan kepada Yesus supaya Ia menyembuhkan mereka. Tuhan Yesus diutus Bapa untuk menyelamatkan manusia yang menderita dan masih dikuasai kejahatan dan dosa. Kita pun patut mempercayakan diri kita kepada Tuhan supaya bisa disembuhkan dari dosa dan salah, supaya menjadi pelayan yang lebih sempurna sesuai kehendak Tuhan.

Doa: Tuhan, kami memohon kepadaMu untuk menambah iman dan kepercayaan kami. Biarlah kami menjadi pelayan-pelayan yang setia. Amen

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply