Homili 22 Oktober 2014

Hari Rabu, Pekan Biasa XXIX
Ef 3: 2-12
Mzm (Yes) 12:2-3.4bcd.5-6
Luk 12:39-48

Dialah Jalan masuk kepada Allah

Fr. JohnAda seorang anak yang selalu merasa bangga dengan kedua orang tuanya. Ia merasakan kekompakan mereka satu sama lain. Nasihat-nasihat kepadanya yang selalu mereka ulangi adalah supaya ia hidup sederhana dan selalu berbuat baik kepada semua orang. Nasihat untuk hidup sederhana bukan berarti orang tuanya pelit. Mereka sangat bermurah hati terhadap semua kebutuhannya. Mereka sempat membuat perayaan syukur 70 tahun ibunya. Pada kesempatan yang bahagia ini, anaknya memberi kesaksian dengan mengatakan bahwa ibunya adalah pribadi yang sangat istimewa. Ia merasa ibu seperti jalan baginya untuk bisa bertemu dengan ayah yang tegas, penuh disiplin dan berwibawa. Kalau ia membutuhkan sesuatu dari ayah, biasanya ia menyampaikannya kepada ibu dan semuanya pasti disetujui ayah. Kadang-kadang ia berani langsung meminta kepada ayah, tetapi ia merasa lebih nyaman kalau melalui ibu. Biasanya ibu mengulangi lagi: “Hiduplah sederhana”. Ia merasa bangga dan bersyukur kepada Tuhan karena memiliki ibu dan ayah yang baik.

Pada hari ini kita mendengar St. Paulus melanjutkan pengajarannya kepada jemaat di Efesus. Kali ini Paulus berbicara tentang rahasia panggilan orang-orang bukan Yahudi. Ia mula-mula mengingatkan mereka tentang apa yang sudah mereka dengar tentang tugas perutusannya. Semua pengajaran yang disampaikan kepada mereka merupakan kasih karunia dari Allah. Allah menyatakan rahasiaNya melalui wahyu kepadanya dan semuanya itu ditulis dengan rapi dan dibaca oleh semua orang. Dari tulisan-tulisan itu mereka bisa mengenal lebih dalam Misteri Yesus Kristus.

Warta sukacita menurut Paulus bukan hanya ditujukan kepada orang-orang Yahudi saja. Orang-orang bukan Yahudi juga dipanggil oleh Tuhan untuk menerima berita Injil dan turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam nama Yesus Kristus. Dengan mengakui segala kelemahan yang pernah dimilikinya, Paulus menyatakan syukurnya karena diperkenankan oleh Tuhan untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus yang tak terduga dan seluruh rahasia Allah. Hanya di dalam Yesus Kristus kita semua memperoleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepadaNya.

Pengalaman rohani Paulus ini masih aktual. Di dalam Gereja, kadang-kadang masih ditonjolkan berbagai perbedaan-perbedaan yang bisa menghalangi upaya membangun persekutuan. Salah satu contohnya adalah upaya untuk mensukseskan gerakan oikumene. Selama setiap orang yang mengakui Yesus sebagai Tuhan tetap masih egois maka akan sulit untuk menjadi satu, meskipun persekutuan adalah doa Yesus yakni “ut unum sint” (Yoh 17:21). Di dalam gereja katolik sendiri kadang-kang masih sulit untuk mewujudkan persekutuan. Secara teritorial dan kategorial masih saja sulit. Orang harus berani melepaskan benderanya supaya bisa bersatu dengan sesamanya.

Pengalaman rohani Paulus juga mengajarkan kita supaya kita memiliki cara pandang baru bagi sesama. Banyak kali kita hanya senang dan siap menolong orang-orang yang segiman saja sedangkan yang tidak seiman kadang sulit diperhitungkan. Paulus itu orang Yahudi tetapi opsi pewartaannya adalah bagi orang-orang bukan Yahudi. Ini berarti karya-karya pelayanan Gereja, dalam bidang pendidikan dan kesehatan itu tidak memandang siapakah orang itu tetapi bahwa dia adalah manusia maka Gereja siap untuk menolongnya.

Cinta kasih universal ini menjadi landasan yang kuat bagi kita untuk bersiap sedia menanti kedatangann Tuhan. Sama seperti tuan rumah selalu siap terhadap bahaya rumahnya dibongkar pencuri, demikan juga kita sebagai umat beriman diajak untuk selalu siap menanti kedatangan Tuhan. Para murid adalah abdi Tuhan. Mereka harus selalu siap kapan saja bilamana Tuhan mengutus mereka untuk melayani. Hamba yang tulus akan melayani dengan sukacita sampai tuannya datang. Hamba yang jahat tidak akan mendapat tempat yang layak di hadapan tuannya.

Tuhan juga mengingatkan kita semua akan tugas dan tanggung jawab setiap hari. Hal yang istimewa adalah bahwa Ia sudah memberikan kepada kita segala sesuatu dengan cuma-cuma maka tugas kita adalah memberi juga dengan cuma-cuma. Yesus berkata: “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” (Luk 12:48).

Tuhan Yesus berkata: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun yang dapat datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6). Perkataan Yesus ini mambantu kita untuk ikut merasakan pengalaman Paulus di dalam hidup kita. Paulus sendiri melihat Yesus sebagai jalan masuk kepada Allah. Apakah anda sudah bersyukur karena Yesus adalah jalan, kebenaran dan hidup kita?

Doa: Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau sudah menjadi Jalan, Kebenaran dan Hidup bagi kami. Amen

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply