Bunda Maria Bersuara
Permenungan kita pada hari kelima ini adalah tentang suara Bunda Maria mewakili suara umat manusia di hadirat Tuhan Yesus Puteranya. Salah satu episode yang saya angkat untuk membantu permenungan kita hari ini adalah peristiwa perkawinan di Kana dalam Injil (Yoh 2:1-11).
Sebagaimana dikisahkan oleh Penginjil Yohanes bahwa ada pesta perkawinan di Kana yang di Galilea. Ibu Yesus diundang untuk menghadiri pesta itu. Yesus Putranya juga datang bersama para murid-Nya untuk ikut bergembira dalam pesta itu. Bunda Maria adalah seorang tamu yang peka dengan salah satu kebutuhan di dalam pesta yakni minuman anggur. Ia melihat bahwa semua tamu dan undangan menyukai minuman anggur tetapi sayang sekali karena persediaanya mulai habis. Meskipun hanya sebagai seorang tamu saja, namun ia memiliki inisiatif untuk meringankan beban tuan pesta. Adalah memalukan kalau pesta sukacita itu tanpa anggur. Bunda Maria mau menyelamatkan muka tuan pesta itu. Ia lalu mendekati Yesus Puteranya dan bersuara mewakili tuan pesta yang sedang kehabisan anggur. Ia berkata: “Mereka kehabisan anggur”. (Yoh 2:3).
Perkataan Bunda Maria ini tidak langsung disetujui oleh Yesus. Ia malahan berkata kepada ibu-Nya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” (Yoh 2:4). Jawaban Yesus tidak mengurangi semangat Bunda Maria. Ia percaya bahwa Yesus Putranya pasti akan melakukan yang terbaik. Ia akan berempati dengan kebutuhan manusia. Bunda Maria hanya berpesan kepada para pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh 5:5). Penginjil Yohanes melanjutkan kisah pernikahan ini dengan mukjizat pertama di mana Yesus menunjukkan kemuliaan-Nya di hadapan manusia.
Anggur adalah tanaman yang khas bagi para petani di pegunungan Israel. Mereka harus merawat anggur dengan teliti karena dari tanaman anggur ini mereka bisa memakan buahnya dan meminum air anggur setelah melewati proses yang rumit. Dalam hal ini, untuk mendapatkan air anggur yang berkualitas, buah anggur itu harus diperas sampai ampas buahnya itu tidak berair lagi, dilanjutkan dengan proses selanjutnya.
Mari kita memfokuskan perhatian kepada figur Bunda Maria. Saya mengatakan bahwa Bunda Maria mewakili suara umat manusia yang memohon kepada Tuhan. Bunda Maria berinisiatif untuk memohon supaya beban tuan pesta yang kehabisan anggur bisa diatasi oleh Yesus Putranya. Bunda Maria bersuara mewakili umat manusia untuk menyampaikan permohonan kepada Tuhan atas segala sesuatu yang dibutuhkan manusia. Bunda Maria mewakili suara rintihan manusia yang menderita dalam lembah dosa, dalam sakit penyakit, kekurangan manusiawi yang dimiliki kepada Tuhan.
Suara Bunda Maria mewakili suara manusia yang menderita di hadirat Tuhan karena dia percaya bahwa Yesus Putranya akan melakukan yang terbaik. Ia berkata kepada para pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh 5:5). Ini menunjukkan iman Bunda Maria kepada Yesus Puteranya sebagai Tuhan Pencipta. Seorang ibu yang percaya kepada Anaknya.Sikap Maria ini juga menunjukkan dirinya sebagai seorang murid Yesus, yang menaruh harapan dan kepercayaan kepada-Nya.
Anggur adalah lambang kasih, damai dan hidup yang berkelimpahan dalam Tuhan. Kehabisan anggur bisa menghancurkan keluarga manusia yang membutuhkan kasih, damai dan hidup berkelimpahan. Untunglah ada Bunda Maria yang berani berkata kepada Yesus Putra-Nya: “Mereka kehabisan anggur”. Kasih, damai dan hidup berkelimpahan tidak boleh habis! Tuhan tetaplah kasih. Dia tetap memberi damai dan kesejahteraan kepada anak-anak-Nya.
Suara Bunda Maria hendaklah menjadi suara kita di dalam Gereja. Kita juga dipanggil Tuhan untuk bersuara, memperjuangkan kebenaran dan keadilan bagi saudara-saudari yang menderita. Suara Bunda Maria adalah suara Gereja yang memohon supaya segala penderitaan di atas dunia ini menjadi ringan karena kuasa Tuhan. Memang benar, Bunda Maria selalu mendoakan kita: “Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. amen.”
PJSDB