Homili 22 Juli 2015 – St. Maria Magdalena

Hari Rabu, Pekan Biasa XVI
St. Maria Magdalena
Kid. 3:1-4a atau 2Kor. 5:14-17
Mzm. 63:2,3-4,5-6,8-9
Yoh. 20:1,11-18

Mencari kasih sejati!

Fr. JohnPagi ini saya menerima pesan singkat dari seorang gadis yang mengakui diri bernama baptis Maria Magdalena. Hari ini pesta namanya (nameday) dan memohon doa supaya dalam sisa hidupnya ia bisa melihat Tuhan. Wah, ini baru pertama kali saya mendapat pesan singkat “untuk melihat Tuhan”. Saya mengingat perkataan Tuhan Yesus: “Berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah.” (Mat 5:8). Sabda Tuhan Yesus ini saya tulis untuk menguatkannya supaya memiliki hati yang suci supaya bisa melihat Allah.

Banyak di antara kita mengetahui riwayat hidup St. Maria Magdalena. Injil-Injil Sinoptik menampilkan figur tiga wanita yang memiliki nama yang sama yaitu Maria selain nama ibu Yesus. Nama Maria berarti pribadi yang memiliki kasih seluas samudra kepada Tuhan dan sesama. Mereka yang memiliki nama Maria dalam Injil-Injil Sinoptik adalah Pertama, Maria saudari Lazarus yang dipuji Yesus karena memilih yang terbaik yaitu mendengar dan merenungkan Sabda. Kedua, Maria seorang pendosa. Dia merasakan pengampunan berlimpah karena memiliki kasih yang besar kepada Tuhan (Luk 7:36-50). Ketiga, Maria Magdalena, dia disembuhkan oleh Tuhan Yesus (Luk 8:2) dan menjadi murid Yesus. Maria Magdalena hadir dalam saat-saat penderitaan Yesus (Yoh 19:25), pergi ke kubur Yesus (Mat 27:61). Dialah yang pertama-tama melihat Yesus yang bangkit mulia (Mat 28:9-10; Yoh 20:11-18). Pestanya dalam liturgi Gereja katolik dirayakan sejak abad ke-XII. Ikon-ikon di dalam Gereja Katolik umumnya menjurus ke figur yang satu dan sama. Sambil merayakan pesta St. Maria Magdalena kita semua diteguhkan untuk menyatakan puji dan syukur kepada Tuhan karena kekal abadi kasih setia-Nya.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini mengingatkan kita untuk mengasihi Tuhan lebih dari segalanya dengan kasih ilahi bukan kasih manusiawi belaka. Dalam Kitab Kidung Agung, kita membaca ekspresi kasih seperti ini: “Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. Aku hendak bangun dan berkeliling di kota; di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kucari dia, jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. Aku ditemui peronda-peronda kota. “Apakah kamu melihat jantung hatiku?” Baru saja aku meninggalkan mereka, kutemui jantung hatiku; kupegang dan tak kulepaskan dia, sampai kubawa dia ke rumah ibuku, ke kamar orang yang melahirkan aku.” (Kid 3:1-4).

Cinta kasih bisa membuat orang tidak bisa tidur karena mencari jantung hati, orang yang dikasihinya. Seorang yang terpesona dengan kasih akan keluar dari dirinya sendiri, menyusuri jalan-jalan di kota dan lapangan untuk mencari jantung hatinya. Ketika bertemu jantung hatinya ia sangat bergembira dan tidak mau berpisah satu sama lain. Perikop ini kiranya tepat dengan kehidupan Maria Magdalena. Ia berjalan ke kubur untuk mencari Yesus pada pagi-pagi buta dan mungkin saja banyak orang menertawakannya karena Rabuni yang dicarinya itu sudah wafat di salib. Ia masuk ke dalam kubur tanpa halangan apa pun dari penjaga kubur. Pada saat itu, Yesus justru tidak menghalanginya tetapi menampakkan diri-Nya, menyapa Maria dengan namanya sendiri dan timbullah sukacita yang besar dalam hati Maria. Tuhan Yesus menasihatinya, “Jangan menyentuh Aku.” (Yoh 20:17).

Cinta kasih ilahi akan senantiasa mempersatukan pribadi-pribadi di hadirat Tuhan Allah. Para pasangan suami dan istri hendaknya saling mencari “jantung hati” tanpa pernah berhenti sedikit pun. Ketika berjumpa dengan jantung hati maka tidak ada kata pisah! Mereka justru menyatu selamanya. Sama seperti Tuhan Yesus adalah mempelai sejati dan para murid-Nya adalah sahabat-sahabat mempelai yang bersukacita (Mat 9:15; Mrk 2:18-20), demikian juga dalam hidup berkeluarga, sukacita adalah bagian yang menyatu dalam diri pasangan dan anak-anaknya.

Dalam situasi yang sulit sekalipun cinta kasih haruslah selalu diperjuangkan bersama. Saya pernah mendengar sharing sebuah keluarga. Pasutri ini nyaris pisah satu sama lain. Namun ketika merenungkan besarnya kasih Tuhan, mereka sama-sama mengatakan berjuang demi kasih. Kasih adalah harga mati! Saya lalu mengingat pengalaman rohani St. Paulus. Kepada jemaat di Korintus, Paulus berkata: “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2Kor 5:14-15.17)

Apakah anda pernah merasakan kuasa kasih Kristus? Ketika anda berbeban berat datanglah kepada Yesus. Ketika anda mengalami penolakan dalam hidup, ingatlah dan panggilah nama Yesus. Hiduplah serupa dengan Paulus yang merasakan kuasa kasih Kristus. Dalam suasana yang sulit sekali pun, kasih Tuhan pasti mengatasi segalanya.

Hidup Pribadi Maria Magdalena memberi inspirasi besar kepada kita. Ia mengasihi Tuhan dengan kasih yang masih bersifat manusiawi. Ia menangis karena Yesus yang dikasihinya sudah tidak ada di dalam kubur (makam kosong). Ia berusaha mencarinya dengan kekuatannya sendiri. Ketika ditanya alasan mengapa menangis oleh malaikat, ia berkata: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” (Yoh 20:13). Bahkan kepada Yesus saja ia masih berkata: “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” (Yoh 20:15). Cinta kasih manusiawi bisa membuat kita tidak mengenal kasih Allah yang sesungguhnya.

Perubahan radikal terjadi ketika Tuhan menerangi Maria Magdalena dengan memanggilnya dengan namanya sendiri: “Maria” (Yoh 20:16). Maria bangun dari kebutaan iman dan mengenal Yesus secara pribadi. Ia bahkan menjadi misionaris yang bersaksi kepada para murid Yesus: “Aku telah melihat Tuhan!” (Yoh 20:18). Melihat Tuhan berarti mengasihi Tuhan dengan kasih ilahi yang dianugerahkan Tuhan sendiri. Cinta manusiawi berubah menjadi cinta ilahi karena kuasa Tuhan.

Ziarah iman kita pun demikian. Kita mengenal Tuhan dengan cara pikir yang sangat manusiawi. Kita membutuhkan Tuhan untuk menambah iman dan kepercayaan kita. Kita butuh Tuhan supaya bisa memiliki cinta kasih ilahi yang berasal dari Tuhan sendiri. Kita mencari kasih sejati dari Tuhan sendiri.

Saya mengakhiri homili ini dengan mengutip St. Petrus. Ia berkata: “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” (1Ptr 1:8-9).

St. Maria Magdalena, doakanlah kami. Amen.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply