Homili 16 Agustus 2017

Hari Rabu, Pekan Biasa ke-XIX
Ul 34:1-12
Mzm 66:1-3a.5.8.16-17
Mat 18:15-20

Belajar berpikir positif dan memberi koreksi persaudaraan

Ada seorang pendamping rohani para calon imam yang pernah mengatakan begini: “Selama bertahun-tahun saya mendampingi saudara-saudara muda, ada hal-hal tertentu yang selalu menjadi kesulitan bagiku, yakni bagaimana memiliki pikiran yang positif dan kemampuan memberi koreksi persaudaraan yang baik. Saya berulang kali belajar berpikir positif dan koreksi persaudaraan yang saya berikan berhasil. Banyak kali saya gagal memberi koreksi persaudaraan karena belum mampu berpikir positif terhadap orang yang hendak menerima koreksi persaudaraanku”. Saya mengangguk-angguk sambil mengatakan dalam hati bahwa saya juga sebenarnya memiliki kesulitan yang sama. Saya yakin bahwa kalau kita mau mengoreksi seseorang maka kita seharusnya berpikiran positif dan menjauhi berbagai pikiran negatif yang sedang menguasai diri kita. Mengapa? Sebab kita mungkin dengan mudah terpancing secara emosional ketika sedang memberi koreksi persaudaraan dan dengan demikian rasa marah dan kecewa menguasai kita. Mengoreksi seseorang dengan emosi yang tidak terkontrol tidak akan mendapatkan hasil yang memadai.

Pada hari ini kita berjumpa dengan seorang guru sejati yang mengajar kita bagaimana mengoreksi sesama kita dengan pikiran yang positif. Inilah langkah-langkah yang diajarkan Yesus bagi kita untuk mengoreksi sesama saudara kita:

Pertama: Kalau ada seorang saudara yang melakukan sebuah kesalahan, carilah waktu yang tepat, berbicaralah dengan dia dari hati ke hati atau berbicaralah dengan empat mata. Kalau dia mendengarkan nasihatmu maka kita berhasil menyelamatkannya.

Kedua: Dalam pertemuan empat mata, anda dapat melihat reaksinya ketika mendengar nasihatmu. Kalau ia mendengar nasihatmu dan tidak mau berubah maka anda masih memiliki kesempatan kedua. Pada kesempatan kedua ini, anda boleh memanggil satu atau dua orang lagi untuk mengoreksinya. Kesaksian dua atau tiga orang memiliki kekuatan tersendiri.

Ketiga: Apabila kesempatan mengoreksinya ini juga gagal maka ada kesempatan lain yakni menghadirkan dia di tengah-tengah keluarga atau jemaat dan semua orang berkesempatan untuk mengoreksinya. Mungkin di tengah-tengah jemaat ia dapat berubah.

Keempat, Apabila saudara ini sudah dihadirkan di tengah jemaat dan masih tidak mau berubah maka ia boleh dipandang sebagai orang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.

Keempat tahap penting dalam mengoreksi seorang saudara yang bersalah ini kelihatan sederhana tetapi sangat sulit untuk dilakukan dalam hidup setiap hari. Banyak kali kita hanya berhenti pada tahap pertama atau kedua saja karena sudah terpancing secara emosional dan pikiran negatif. Seandainya kita memiliki cinta kasih kepada sesama manusia maka kita akan berhasil menyelamatkan saudara kita yang berdosa. Coba kita pikirkan masing-masing pengalaman mengoreksi. Para orang tua sering bersikap represif, menakut-nakuti anak-anak ketika mengoreksi. Dengan demikian anak-anak dapat saja berbohong, membenci dan sikap negatif lainnya. Mungkin saja saat itu dia berlaku baik tetapi berbeda mentalitasnya.

Tuhan Yesus menekankan pentingnya mengoreksi sesama saudara yang berdosa supaya hidup layak di hadirat Tuhan. Ia berkata: “Sungguh, apa yang kalian ikat di dunia akan terikat di Surga, dan apa yang kalian lepaskan di dunia akan terlepas di Surga”. Perkataan Yesus ini mengingatkan kita pada belas kasihan Tuhan yang dilimpahkan kepada orang berdosa yang dapat bertobat. Pertobatan yang benar membuahkan sukacita yang besar di hadapan Tuhan dan sesama. Dalam pelayanan sakramen tobat, imam mendapat kuasa untuk mengikat dan melepaskan. Dosa diampuni maka jaminannya adalah keselamatan abadi. Orang yang tidak mampu membuka dirinya untuk mengalami pengampunan makan ia akan tetap hidup dalam dosa.

Pada akhirnya Tuhan Yesus membuka wawasan kita tentang kebersamaan dalam iman di mana Tuhan selalu hadir. Kalau ada dua orang yang sepakat untuk meminta kepada Bapa dalam doanya maka Tuhan akan mengabulkannya. Benar perkataan Tuhan Yesus ini: “Sebab di mana ada dua atau tiga orang berkumpul demi nama-Ku, Aku hadir di tengah-tengah mereka”. Kita percaya bahwa Tuhan Yesus senantiasa hadir dan menyertai kita semua hingga akhir zaman.

Tuhan Yesus mengarahkan kita supaya mampu memberi koreksi persaudaraan dengan baik dan benar. Keempat tahapan dalam memberi koreksi yang disebutkan di atas dapat berhasil mengubah hidup sesama kalau ada dua hal terakhir ini yakni semangat untuk bertobat dan doa. Semangat bertobat berarti semangat untuk kembali ke jalan Tuhan, berbalik kepada Tuhan. Semangat untuk berdoa memampukan kita untuk selalu bersatu dengan Tuhan yang mahapengasih dan penyayang.

Dalam bacaan pertama kita berjumpah dengan figur Musa. Tuhan sudah menyampaikan dengan terus terang kepada Musa bahwa ia tidak akan masuk ke tanah terjanji. Sebab itu Tuhan membawanya ke atas puncak gunung Nebo dan mengarahkan pandangannya ke arah kota Yeriko. Musa hanya bisa memandang dari kejauhan tanah yang Tuhan sudah janjikan kepadanya. Tanah Kanaan meliputi daerah Gilead, sampai ke kota Dan, seluruh Naftali, tanah Efraim dan Manasye, seluruh tanah Yehuda sampai laut sebelah barat, tanah Negep dan lembah Yordan, lembah Yerikho sampai Zoar. Tuhan mengingatkan kembali Musa akan janji-Nya kepada nenek moyang mereka yakni Abraham, Ishak dan Yakub. Tuhan berkata kepada Musa: “Engkau boleh melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyebarang ke sana.”

Musa tutup usia di tanah Moab sesuai sabda Tuhan. Usianya sekitar seratus dua puluh tahun. Ada perkabungan yang besar. Yosua adalah pengganti Musa. Tuhan melalui Yosua akan mengantar bangsa Israel untuk masuk ke tanah terjanji. Musa memang memiliki keistinewaan. Misalnya: Tidak ada seorang nabi yang bangkit di antara orang Israel seperti Musa. Tuhan mengenalnya dengan berhadapan Muka. Tuhan menolongnya untuk melakukan mukjizat-mukjizat tertentu di Mesir dalam nama Tuhan. Semua perbuatan hebat dan dahsyat itu yang dilakukan Musa berasal dari Tuhan Allah sendiri.

Musa adalah figur penting yang juga mengoreksi bangsa Israel dengan cara-cara yang Tuhan anugerahkan kepadanya. Ia selalu berkonsultasi dengan Tuhan. Ketika bangsa Israel jatuh ke dalam dosa, Musa berada di tempat terdepan untuk berbicara sekaligus memohon pengampunan atas dosa-dosa mereka. Musa juga melakukan koreksi persaudaraan kepada mereka. Mari kita memeriksa batin kita masing-masing. Apakah kita sudah mengoreksi sama saudara kita dengan tepat sebagaimana dianjurkan Tuhan Yesus sendiri? Belajarlah untuk berpikiran positif dalam mengoreksi sesama manusia.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply