Homili 5 April 20019

Hari Jumat, Pekan Prapaskah IV
Keb. 2:1a,12-22
Mzm. 34:17-18,19-20,21,23
Yoh. 7:1-2,10,25-30

Merenungkan Penderitaan Yesus

Saya tertarik dengan komentar seorang umat ketika membaca refleksiku beberapa hari yang lalu bahwa hidup Kristiani benar-benar bermakna ketika kita percaya dengan sepenuh hati bahwa Yesus adalah Allah. Ia mengaku baru sadar bahwa Yesus adalah Allah, sebab selama ini ia mengenal Yesus hanya sebagai Anak Allah saja. Saya mengatakan kepadanya bahwa Yesus bukan hanya sebagai ‘Anak Allah saja’. Dia sungguh Allah! Ini adalah iman yang kita akui dengan bangga. Tanpa ada pengakuan iman yang jelas maka hidup kita sebagai pengikut Kristus juga biasa-biasa saja. Yesus mengakui diri-Nya sebagai Allah karena Ia memang Anak Allah. Ia memanggil Allah sebagai Bapa dan mengakui diri-Nya: “Aku dan Bapa adalah satu”.

Pada hari ini kita mendengar kisah Injil yang menarik. Ia mengakui diri sebagai Allah dan Ia dianggap hendak meniadakan Hari Sabat. Akibatnya ada orang-orang tertentu yang terang-terangan mau membunuh-Nya di daerah Yudea. Ia kembali ke Galilea sambil berkeliling dan berbuat baik. Namun ketika tiba perayaan hari raya Pondok Daun, Yesus dengan diam-diam dan tidak terang-terangan pergi dan menghadiri perayaan itu itu di Yerusalem. Orang-orang yang mengenal Yesus saat itu sempat bertanya-tanya tentang keadaan-Nya sebab ada rencana untuk membunuh-Nya. Mereka lalu mencari-cari alasan tentang kasus Yesus. Misalnya ada anggapan bahwa para pemimpin mungkin sudah mengakui Yesus sebagai Kristus. Padahal mereka sendiri meragukan pikiran mereka tentang Yesus sebab mereka belum tahu asal muasal Kristus.

Situasi ini menjadi sebuah kesempatan yang baik bagi Yesus untuk mewahyukan diri-Nya di hadapan mereka. Ia bersaksi dalam pengajaran-Nya di dalam Bait Allah: “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.” (Yoh 7:28-29). Di sini, Yesus menegaskan diri-Nya sebagai Allah. Ia mendapat tugas perutusan dari Bapa yang tidak dikenal oleh banyak orang saat itu. Ia mengakui diri-Nya mengenal Bapa karena Ia datang dari Bapa. Ia mendapat perutusan khusus dari Bapa untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. Yesus tidak melakukan pekerjaan-Nya sendiri tetapi melakukan pekerjaan Bapa.

Kisah Injil ini sebenarnya mengatakan tentang hidup kita setiap hari. Kita perlu sadar diri bahwa semua orang memiliki kecenderungan untuk berbuat baik dan berbuat jahat. Santu Thomas Aquinas menyebut kecenderungan hati manusia ini dengan sebutan concupiscencia. Sekarang pikirkanlah saat-saat di mana kita hendak berbuat jahat kepada orang lain. Kita mungkin berusaha menghitung kesalahan orang lain dan lupa bahwa kita memiliki kesalahan dan dosa yang banyak. Kita berpikiran negatif terhadap orang lain dan lupa akan kebaikan yang mereka lakukan dalam hidup pribadinya bagi orang lain. Situasi yang kita alami bukanlah situasi baru. Orang-orang Yahudi pada zaman Yesus sudah berpikir dan melakukannya kepada Yesus. Sebenarnya kita belajar dari kesalahan masa lalu supaya menjadi orang baik dalam kata dan tindakan kita setiap hari. Tuhan Yesus tidak menghitung-hitung kesalahan kita, mengapa kita masih belum melupakan dosa orang lain?

Orang-orang yang selalu jatuh ke dalam dosa akan memiliki pikiran yang negatif terhadap orang lain. Mereka adalah orang fasik yang selalu berlawanan dengan orang-orang benar. Orang fasik berkata: “Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita. Pelanggaran-pelanggaran hukum dituduhkannya kepada kita, dan kepada kita dipersalahkannya dosa-dosa terhadap pendidikan kita.” Orang baik memiliki banyak musuhnya. Ada orang-orang tertentu akan mencari-cari kesalahan orang lain. Pada masa kini, orang melontarkan berita-berita hoax yang mutunya sangat rendah untuk memfitnah orang lain. Ini adalah sebuah kelemahan besar manusia sepanjang zaman.

Masa prapaskah menjadi kesempatan bagi kita untuk bertobat. Kita meninggalkan hidup lama yang penuh dosa, dengan hidup baru yang penuh rahmat Tuhan. Hidup dalam rahmat Tuhan berarti hidup dalam dan mengalami sendiri ke-Allah-an Yesus.

PJ-SDB

Leave a Reply

Leave a Reply