Homili 6 April 2019

Hari Sabtu Pekan IV Prapaskah
Yer. 11:18-20
Mzm. 7:2-3,9bc-10,11-12
Yoh. 7:40-53

Tuhan Yesus memang beda!

Kita berada di hari terakhir pekan ke-IV Prapaskah atau hari Sabtu Pekan Sukacita. Kita boleh bertanya di dalam diri kita masing-masing: Apakah ada sukacita di dalam hati kita? Apakah kita membawa sukacita kepada sesama atau ketakutan? Apakah ada sukacita pada saat menderita? Masing-masing pribadi boleh memeriksa bathinnya di hadapan Tuhan dan sesama dan mengatakan dengan jujur tentang sukacitanya atau tidak ada sukacita yang dimilikinya. Kita dapat menjawab semua pertanyaan ini dengan baik kalau kita kembali kepada Yesus, memandang dan mengikuti-Nya dari dekat.

Selama beberapa hari ini kita mendengar bagaimana orang-orang Yahudi memiliki rencana jahat untuk menangkap dan membunuh-Nya. Hanya aja saatnya belum tiba maka Ia selalu lolos dari pantauan mereka. Bacaan Injil hari ini mengarahkan kita pada jalan yang sama yakni memandang Yesus dan mengagumi-Nya dengan mengakui bahwa Yesus memang beda. Saya mengatakan bahwa Yesus memang beda sebab Ia selalu bersukacita dalam derita. Dikisahkan penginjil Yohanes bahwa pada suatu kesempatan Yesus mengajar di Yerusalem. Pengajaran-Nya sangat memukau, melebihi seorang nabi yang suda dan sedang berada di atas dunia ini. Sebab itu muncul reaksi-reaksi tertentu yang positif dan negatif. Reaksi positif adalah rasa kagum mendalam dari pihak tertentu di kalangan orang Yahudi. Misalnya ada yang mengakui imannya: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” (Yoh 7:40). Mereka mengakui imannya seperti ini karena mendengar secara langsung tentang Yesus. St. Paulus benar ketika mengatakan bahwa iman itu tumbuh dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Rm 10:17). Reaksi positif lainnya adalah ada di antara kaum Yahudi yang mengakui bahwa Yesus adalah Mesias, Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Yahudi dari penindasan kaum penjajah yakni bangsa Romawi.

Terlepas dari dua reaksi positif karena kesaksian Yesus sendiri melalui kata dan tindakan, orang-orang Yahudi juga memiliki reaksi negative terhadap Yesus dan kehadiran-Nya di antara mereka saat itu. Reaksi pertama, ada banyak orang Yahudi yang biasa-biasa mempertentangkan tentang asal usul Yesus sebagai Mesias, sebab ada di antara mereka yang tidak mengetahui asal-usul Mesias. Hal ini terungkap dalam perkataan mereka, misalnya bahwa Mesias tidak datang dari Galilea karena Kitab Suci mengatakan bahwa Yesus berasal dari keturunan Daud, yakni dari kota Bethlehem. Di sini ada pertentangan di kalangan bangsa Yahudi hingga mereka berusaha untuk menangkan Yesus dan membunuh-Nya. Hanya saja saat Yesus belum tiba. Reaksi kedua, para pemimpin Yahudi merasa terusik sekaligus terancam dan dapat mengalami krisis kepercayaan karena kehadiran Yesus. Mereka ingin menangkap Yesus, mereka saling tuding menuding sebagai pengikut atau bukan pengikut-Nya, disesatkan atau tidak disesatkan oleh Yesus.

Pengalaman penderitaan Yesus pernah dirasakan sendiri oleh nabi Yeremia. Tuhan Allah memperlihatkan berbagai ancaman yang dirasakan Yeremia dan Yeremia sungguh menyadarinya. Ia memperjuangkan kasih dan keadilan hingga dimusuhi oleh orang-orang dekatnya. Apa yang mereka lakukan? Mereka merancang strategi untuk menghancurkan Yeremia dan perjuangannya bahkan kalau perlu membunuhnya. Memang orang baik selalu memiliki banyak musuh. Orang jahat selalu lupa akan kebaikan orang lain. Dalam suasana menderita, Yeremia tetap mengingat Tuhan. Ia berkata: “Tuhan semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.” (Yer 11:20).

Kisah Injil dan kehidupan nabi Yeremia ini sebenarnya menggambarkan hidup kita di hadirat Tuhan dan sesama. Banyak kali kita menilai seseorang berdasarkan mindset kita saja. Misalya kita hanya menilai orang berdasarkan asal usulnya orang dan latar belakangnya saja. Kita lupa bahwa masing-masing kita juga memiliki bias-bias tertentu terhadap orang itu. Tuhan Yesus membuka mata dan hati kita untuk menilai orang berdasarkan kebaikan dan kasih dalam hidupnya, bukan berdasarkan prinsip suka dan tidak suka yang melekat di dalam diri kita. Ketika kita membenci seseorang maka apapun kebaikannya, kita tetap tidak akan menerima dan menghargainya. Sikap nyinyir, apatis terhadap kebaikan orang, merupakan bagian hidup pribadi kita masing-masing. Hanya saja kita selalu lupa bahwa sikap itu ada di dalam diri kita masing-masing. Sikap positif Yesus yang patut kita ikuti adalah Ia tetap mengasihi dan mengampuni mereka. Ia tidak menghitung-hitung kesalahan mereka. Sikap posotif Yeremia adalah selalu berpasrah kepada Tuhan Allah.

Dari Nabi Yeremia dan Tuhan Yesus, kita belajar bagaimana menjadi pribadi yang taat, rela berkorban dan tetap memperjuangkan kasih, kebenaran dan keadilan. Pada masa ini banyak orang yang karakternya dibunuh karena memperjuangkan kasih, kebenaran dan keadilan. Hanya orang yang setia kepada Tuhan akan tetap berjalan dan bersemangat untuk berjuang bagi kebaikan banyak orang. Tuhan Yesus sudah melakukannya dan berhasil. Tuhan Yesus memang beda! Mari kita mengikuti jejak Kristus.

PJ-SDB

Leave a Reply

Leave a Reply