Hari Sabtu, Pekan Biasa ke-XXXA
Flp 4: 10-19
Mzm 112:1-2.5-6.8a.9
Luk16: 9-15
Kemurahan hati dan Kesetiaan itu indah
Pada Hari Sabtu pertama dalam bulan November 2026 ini, seperti biasa kita mendoakan para imam. Saya sendiri sangat berbahagia ketika ada umat tertentu yang sejak pagi-pagi mengirim pesan singkat bahwa ia mendoakan saya untuk setia dalam menghayati sakramen imamat saya. Hati saya terharu dan bahagia karena selalu didoakan oleh umat Allah. Saya teringat pada dua kutipan inspiratif tentang para imam dan perlu untuk selalu didoakan oleh umat. Pertama, “Imamat adalah cinta dari hati Yesus” (St. Yohanes Maria Vianey). Kedua, “Marilah kita berdoa bagi para imam yang baik dan setia mengabdikan diri bagi umatnya dengan kemurahann hati dan pengorbanan yang tidak dapat diungkapkan” (Paus Fransiskus). Kedua kutipan ini turut membuka wawasan kita bahwa para imam, siapapun dia, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, ia merupakan sosok yang murah hati karena telah membaktikan dirinya untuk melayani Tuhan dan Gereja.
Selama beberapa hari terakhir ini, kita mendapat tambahan kekuatan rohani dari pengalaman Santo Paulus berdasarkan tulisannya kepada jemaat di Filipi. Pada perikop kita hari ini, mula-mula Paulus menyatakan rasa puasnya yang berpusat pada Kristus. Ia menunjukkan perasaan sukacitanya dalam Tuhan karena jemaat di Filipi mulai menunjukkan kemurahan hati mereka kepadanya. Jemaar memberi perhatian kepadanya, meskipun sempat kandas karena tidak ada kesempatan bagi mereka. Paulus mengungkapkan perasaannya dengan terbuka bukan karena ia merasa berkekurangan. Ia sendiri malah bersyukur karena selalu berusaha untuk mencukupi segala kepeluannya. Kemandirian adalah sebuah bentuk keteladanan baik yang ditunjukkan Paulus kepada jemaat di Filipi. Paulus juga menyadari tentang kekurangan dan kelimpahan dalam hidup setiap hari. Baginya, dalam segala hal dan dalam segala perkara bukanlah merupakan rahasia kehidupan. Misalnya saja dalah hal kenyang, kelaparan, kelimpahan dan kekurangan. Dengan berdasar pada pengalaman ini, Ia bahkan dengan tegas mengatakan: “Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4:13). Orang yang sungguh mengimanio Tuhan dan memberi diri secara total akan berbicara seperti Paulus.
Selanjutnya, Paulus membuka wawasan kita untuk bermurah hati. Ada perasaan saling ketergantungan secara rohani satu sama lain. Ia sendiri mencatat tentang pertukaran yang indah yakni bahwa ia memberi makan mereka secara rohani, dan mereka mendukungnya secara jasmani. Kesadaran kita adalah bahwa setiap orang yang dibaptis membentuk Gereja yang merupakan Tubuh Mistis Kristus, di mana para anggotanya secara aktif saling berbagi dalam suka maupun duka. Paulus juga menggambarkan pemberian finansial dari jemaat sebagai “aroma yang harum, persembahan yang berkenan, yang menyenangkan hati Allah.” Tindakan amal kasih dan memberi sedekah bukanlah sekadar pekerjaan sosial; melainkan tindakan ibadah dan doa yang intrinsik yang menyenangkan hati Allah. Paulus bermurah hati dan ia sendiri merasakan kemurahan hati Tuhan melalui bantuan jemaat di Filipi. Ia meyakinkan jemaat di Filipi, “Allahku akan memenuhi segala kebutuhanmu, sesuai dengan kekayaan-Nya yang mulia di dalam Kristus Yesus.” Perkataann ini sekaligus mengingatkan kita bahwa Allah tidak akan pernah kalah dalam kemurahan hati-Nya. Janji ini secara kontekstual terkait dengan pemberian yang penuh pengorbanan dari jemaat Filipi. Karena mereka melepaskan diri dari kekayaan mereka untuk mendukung Injil, Allah menjamin akan memenuhi kebutuhan mereka yang sesungguhnya (terutama keselamatan rohani dan kasih karunia, beserta kebutuhan materi yang diperlukan), bukan keinginan materialistis mereka.
Lalu apa pesan yang penting bagi kita? Paulus hendak mengingatkan kita bahwa kekayaan sejati ditemukan dalam persatuan dengan Yesus Kristus. Harta benda hanyalah alat sementara yang dimaksudkan untuk dibagikan dalam kasih. Ketika orang beriman hidup dengan sikap melepaskan diri secara rohani, mempraktikkan kemurahan hati yang penuh pengorbanan, dan sepenuhnya bergantung pada kekuatan Kristus, ia memasuki kedamaian yang tak tergoyahkan dari Pemeliharaan Ilahi.
Di samping kemuarahan hati, kesetiaan juga merupakan pesan yang indah untuk kita renungkan bersama.
Perikop Injil Lukas yang kita dengar pada hari ini membantu kita untuk menyadari keluhuran dari kesetiaan yang tak terbagi (“Tidak ada hamba yang dapat melayani dua tuan”). Tuhan Yesus menjelaskan bahwa kekayaan atau keamanan materi dapat dengan mudah menjadi berhala. Hidup seseorang dan kesetiaan utamanya harus sepenuhnya milik Allah. Kita juga diingatkan Yesus untuk menjadi pribadi yang setia mulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana. Ia mengajarkan bahwa integritas dan kejujuran dalam mengelola sumber daya duniawi atau yang lebih kecil (“kekayaan yang tidak jujur”) berfungsi sebagai ujian untuk mengetahui apakah seseorang dapat dipercaya untuk mengelola kekayaan rohani yang sejati. Maka kesadaran yang perlu kita bangun bersama adalah kita menggunakan kekayaan untuk tujuan kekal. Orang beriman dipanggil untuk menggunakan sumber daya duniawi dengan murah hati—seperti membantu yang membutuhkan dan mendukung sesama—untuk menimbun nilai kekal, bukan menimbun kekayaan demi keamanan egois. Ketika orang-orang Farisi yang mencintai uang mengejek Yesus, Ia menegur mereka, dengan menyatakan bahwa pengakuan manusia dan apa yang sangat dihargai orang seringkali merupakan kekejian atau sesuatu yang menjijikkan di mata Allah, yang mengetahui motif sejati di dalamnya.
Apa keindahan dari kemurahan hati itu sendiri?
Dari sabda Tuhan, kita semua terdorong untuk bertumbuh dan merasakan keindahan dari kemurahan hati. Dengan kemurahan hati dapat mempererat hubungan antarmanusia. Misalnya dalam hal memberikan waktu, perhatian, atau sumber daya dapat menjembatani kesenjangan antarmanusia, membangun kepercayaan, dan memperkuat hubungan. Keindahan kemurahan hati juga terlihat dalam usaha meningkatkan kebahagiaan dan kesehatan pribadi. Misalnya, ada berbagai studi dan penelitian neurologis menunjukkan bahwa tindakan kemurahan hati dapat memicu pelepasan zat kimia yang menimbulkan perasaan bahagia seperti dopamin dan oksitosin, sehingga mengurangi stres dan meningkatkan kebahagiaan. Lalu kemurahan hati juga dapat menghilangkan sikap egois. Misalnya, membina kebiasaan berbagi dapat menyembuhkan pandangan hidup yang mementingkan diri sendiri atau murni materialistis. Maka mari kita bertumbuh dan berusaha untuk bermurah hati dalam hidup kita.
P. John Laba, SDB