Homili Pemberkatan Basilika Yohanes Lateran (2011)

Yehezkiel 47: 1-2.8-9.12 atau
1Kor 3:9b-11.16-17
Mazmur: 46: 2-3.5-6.8-9
Injil: Yoh 2: 13-22

Tubuhmu, Tempat Tinggal Roh Kudus

P. John SDBPesta Pemberkatan Basilika St. Yohanes Lateran dimasukan dalam kalender liturgi Gereja sejak tahun 1565. Secara litugis Gereja mengenang Basilika pertama di dalam Gereja katolik yang dibangun pada tahun 314 oleh Paus Melkhiade. Basilika yang dibangun di atas pelataran Lateran ini diberikan oleh Kaisar Konstantinus. Semula pesta ini hanya dirayakan di kota Roma untuk menghormati Gereja Induk (Chiesa Madre), tetapi sejak tahun 1565 menyebar ke seluruh dunia. Basilika ini menjadi simbol persatuan dengan Taktha Santo Petrus, dalam hal ini Takhta Kepausan. Santo Ignasius dari Antiokia mengatakan “Takhta cinta kasih” karena dari sanalah cinta kasih Tuhan tercurah ke seluruh dunia.

Mengapa Pesta ini menjadi penting bagi seluruh Gereja Katolik?

Basilika Santo Yohanes Lateran adalah simbol persatuan seluruh komunitas Gereja Katolik di Roma. Gereja ini mengingatkan bahwa kita semua dibangun di atas dasar yang sama yaitu Yesus Kristus. Sebagai umat Allah kita berpartisipasi dalam membangun gereja. Itulah sebabnya kita juga menjadi batu yang hidup dalam membangun Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus. St Agustinus mengatakan bahwa ketika kita mengenang pemberkatan Basilika ini, kita mewujudkan kata-kata Santo Paulus yang berkata: “Kamu adalah Bait Allah, dan bahwa Roh Allah berdiam di dalam kamu.” Mudah-mudahan kita akan tetap memiliki jiwa yang bersih dan indah sehingga menyenangkan hati Tuhan.

Dengan mengenang Pemberkatan Basilika Yohanes Lateran, kita mengenang semua bangunan Gereja di mana untuk pertama kalinya bertemu dengan Yesus di dalam kehidupan kita. Tentunya banyak yang mengenang saat dibaptis di gereja dan mulai berjalan secara rohani sebagai orang katolik.Banyak yang mungkin mengenang Komuni pertama dan Krisma di Gereja, dan terus berusaha untuk berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi. Ada juga yang mengenang saat menerima sakramen pernikahan mereka. Dan lebih dari itu, mungkin Gereja sebagai tempat di mana kita datang untuk menyatakan perpisahan selamanya dengan saudara-saudari yang meninggal. Ada juga yang mungkin mengenang saat mereka datang untuk berdoa di depan Sakramen Mahakudus yang tersimpan di dalam Tabernakel. Tabernakel menjadi lambang kehadiran Yesus sendiri di tengah umatNya.

Kita semua telah dikuduskan sebagai “Bait Allah” pada hari pembaptisan. Oleh karena itu setiap orang bertugas untuk menjaga dan merawat Bait Allah yaitu tubuhnya sendiri. Apabila ada orang yang menajiskan Bait Allah, dia seolah sedang menghancurkannya sebab Bait Allah adalah tempat kudus. Dengan demikian boleh dikatakan bahwa pria dan wanita adalah kudus. Kita bisa saja membuat saudara kita menjadi budak atau pribadi yang betul-betul menjadi sesama. Setiap pria dan wanita, apakah dia itu seorang bintang film, apakah penguasa atau seorang penganggur, orang tua atau anak, seorang eksekutif yang sukses atau orang cacat, seorang wanita yang cantik atau wanita jelek, seorang perwira polisi atau teroris, semuanya dapat menjadi Bait Allah, tempat tinggal Roh Kudus. Maka semua orang layak untuk dikasihi, dihormati dan dipahami.

Perayaan hari ini membuat kita hidup lebih kuat lagi dalam iman. Hendaknya kita seperti air yang mengalir dan menjadi berkat bagi banyak orang yang dijumpai dan dilayani. Kita mamang dipanggil untuk menghasilkan buah dengan mematuhi perintah-perintah Tuhan, terutama perintah yang “baru” yakni perintah kasih yang merupakan dasar yang kokoh, pendukung Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri.

Kita juga diajak untuk menghormati martabat sesama. Mereka adalah pribadi-pribadi yang Tuhan berikan kepada kita untuk dikasihi. Mereka juga Bait Allah yang hidup.

Doa kita: Tuhan, Terima kasih karena Engkau sendirilah yang menguduskan aku. Amin

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply