Renungan 15 Nopember 2011

Bacaan I: 2Mak 6:18-31

Mazmur 3:2-7

Bacaan Injil: Luk 19:1-10

Deî me meînai

Kisah tentang Zakheus sebagai kepala pemungut cukai yang bertobat merupakan kisah unik di dalam Injil Lukas. Zakheus tidak dapat melihat Yesus karena pendek badanya dan dihambat oleh banyak orang yang secara fisik lebih tinggi darinya. Namun dia menunjukkan usahanya untuk melihat Yesus. Ia memanjat pohon ara tanpa minder dengan kekurangan fisiknya dan melupakan status sosialnya dalam masyarakat sebagai kepala pemungut cukai. Satu hal yang menarik di sini adalah meskipun dia berpikir akan lebih dahulu melihat Yesus tetapi ternyata Yesuslah yang melihatnya terlebih dahulu. Yesus pun tanpa segan meminta Zakheus untuk turun dari pohon dan Yesus sendiri berkata, “Aku ingin tinggal di rumahmu” (deî me meînai). Pertemuan dengan Yesus di dalam rumah sungguh-sungguh mengubah Zakheus.



Mengapa Zakheus mau memanjat pohon meskipun fisiknya tidak memungkinkan? Mungkin pertama-tama dia sekedar ingin tahu siapakah Yesus itu. Tetapi alasan kedua yang kiranya lebih tepat adalah Zakheus ingin bertobat. Maka dengan alasan kedua ini dapatlah dikatakan bahwa sebelum Zakheus mencari jalan untuk melihat Yesus, Tuhan Allah telah memberikan kepadanya anugerah keselamatan. Tindakannya memanjat pohon ara menandakan sikap yang terbuka untuk menerima anugerah Allah itu sendiri. Tuhan Yesus yang bangkit datang sebagai pribadi ke rumah orang berdosa, masuk dan tinggal di dalam diri pribadi orang tersebut. Zakheus menerima anugerah keselamatan dalam kunjungan ini, ia bertobat dari sikapnya yang tidak adil dan berjanji untuk berbagi dengan kaum papa dan para korban yang pernah drugikan.



Misteri pertobatan dan pengampunan terungkap di sini. Hidup baru pun dicurahkan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan pada kaum miskin. Dan apabila ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan ku kembalikan empat kali lipat.” Jadi semangat pertobatan mengimplikasikan suatu tindakan yang konkret yang diwujudkan dengan membangun rasa solidaritas dengan kaum miskin dan para korban yang dirugikan. Sikap terbuka dari Zakheus membuat Yesus juga menegaskan bahwa, “Hari ini terjadilah keselamatan atas rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Anak manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”



Hal yang penting bagi penginjil Lukas di sini adalah bahwa Allah membutuhkan orang berdosa. Orang-orang yang merasa dirinya orang benar tidak akan memerlukan Allah di dalam hidupnya. Hanya orang berdosa yang membutuhkan keselamatan. Siapa yang merasa diri tidak tersesat tidak membutuhkan Tuhan yang mencari dan menemukannya.



Dengan mengidentifikasikan Zakheus sebagai orang kaya, Lukas juga menekankan satu aspek yang lain yakni pentingnya bersikap lepas bebas terhadap harta kekayaan. Di mata Lukas, kekayaan itu sifatnya sementara maka setiap orang perlu berbagi dengan sesama yang paling membutuhan. Baginya, kekayaan tidak menjamin hidup kekal. Betapa sulitnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Surga (Luk 18:24-27).



Dalam Kitab kedua Makabe kita juga mengambil pengalaman Eleazar yang sudah lanjut usia tetapi tetap teguh dalam imannya. Ia bahkan memilih lebih baik mati dari pada berbuat dosa. Ia menjadi inspirasi bagi banyak orang muda yang mungkin memilih lebih baik berbuat dosa dari pada mati. Ia membela dan mempertahankan iman kepada Jahve dengan hidupnya.



Sabda Tuhan hari ini menyapa kita untuk bertobat dan bertahan dalam iman. Zakheus adalah tokoh yang mencari Yesus dan menyatakan dirinya siap untuk bertobat. Banyak kali sikap Zakheus juga masuk dalam diri kita yang suka memeras orang lain bukan hanya soal materi tetapi juga waktu kehidupan mereka. Banyak kali kita masih merasa gengsi dengan status sosial dan lupa bahwa diri kita juga orang berdosa dan memerlukan pertobatan. Banyak kali kita tidak berani mengakui dosa kita di depan umum dalam arti berani meminta maaf apabila kita telah berdosa melawan Tuhan dan sesama. Zakheus membuka pintu rumahnya dan juga pintu hatinya sehingga dia berubah. Dia membuka pintu rumahnya untuk Tuhan dan orang-orang miskin. Dia menjadi baru!



Belajar juga dari Eleazar yang meskipun sudah lanjut usia tetap mempertahankan imannya kepada Jahve. Apakah pada saat kita dianiaya, saat kita mengalami diskriminasi, kita juga seperti Eliazar atau justru kita dengan mudah menjadi murtad demi uang dan status sosial?



Doa: Tuhan semoga saya dapat membuka hatiku untukMu.



PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply