Renungan 18 Nopember 2011

Bacaan-bacaan:
IMak 4:36-37.52-59

Mzm 1Taw 29:10-12
Luk 19:45-48


Rumahku adalah rumah doa


Kita percaya bahwa Yesus sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Kemanusiaan Yesus ditinjukkan dengan ungkapan perasaanNya: menangis! Yesus menangisi Lazarus sahabatNya yang sudah meninggal dunia (Yoh 11:35 ). Yesus menangisi Yerusalem (Dominus Flevit) karena Yerusalem menutup dirinya terhadap keselamatan yang datang dari Tuhan dalam diriNya (Luk 19:44). Setelah menangisi Yerusalem dan memprediksikan hancurnya kota damai ini, Yesus lalu menuju ke Bait Allah. Bait Allah adalah pusat peribadatan yang mempersatukan Tuhan dan umatNya. Semua mata tertuju ke Jerusalem. Disanalah keselamatan itu terpenuhi.

Yesus yang masuk ke dalam Bait Allah laksana seorang nabi yang berbicara dan menyadarkan Umat Allah. Di Bait Allah, Yesus juga menunjukkan kuasaNya sebagai Anak Allah. Ia membersihkannya dan menyiapkan tempat itu untuk pengajaranNya.  (Luk 20: 1-21.38). Apa yang Yesus lakukan? Ia masuk ke dalam Bait Allah, dan mengusir semua pedagang. Kuasa yang ditunjukkan atas Bait Allah diungkapkan seperti ini: “Rumahku adalah rumah doa, tetapi kalian menjadikannya sarang penyamun!” (Yes 56:7; Yer 7:11). Kuasa Yesus atas Bait Allah ini sejalan dengan apa yang sudah dinubuatkan Maleakhi: “Lihat Aku menyuruh utusanKu supaya ia mempersiapkan jalan di hadapanKu. Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke dalam baitNya! Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak dan mentahirkan orang Lewi..” (Maleakhi 3:1.3).

Yesus tidak hanya mengusir para pedagang yang telah mengotori Bait Allah. Ia juga menegur para pemimpin Yahudi (para imam kepala dan ahli-ahli taurat) yang tidak peka terhadap kekudusan Rumah Tuhan. Para pemimpin Yahudi ini seolah-olah tidak mengerti makna Bait Allah. Bagi Yesus, sikap para pemimpin turut menghancurkan Bait Allah. Itu sebabnya Ia mau mengusir para pedagang dan mengajar di dalam bait Allah sekaligus menatanya kembali. Tetapi para imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan bagaimana membunuh Yesus.

Upaya membersihkan bait Allah juga pernah terjadi ketika Yudas Makabe bersama saudara-saudaranya berjuang untuk mentahbiskan Bait Allah yang sudah tercemar. Bait Allah yang sudah mengalami profanasi ditahbiskan sekali lagi untuk menjadi tempat kudus yang mempersatukan Tuhan dan umatNya. Ibadah merupaka saat untuk bersatu dengan Tuhan. Ibadah juga menunjukkan kesetiaan sebagai umat dengan Tuhan sendiri. Dengan demikian bait Allah adalah tetap diingat sebagai tempat Allah menjumpai umatNya. Ia berbicara dari hati ke hati dengan umat kesayanganNya.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk menyucikan rumah Tuhan sebagai rumah doa dan rumah untuk mendengarkan Sabda Tuhan.

Bagi kita saat ini, rumah Tuhan adalah bangunan Gereja sebagai pusat peribadatan kita. Gereja kita ditahbiskan oleh Uskup sebagai pimpinan gereja lokal. Kita harus jujur di hadirat Tuhan karena banyak kali Gereja dijadikan sarang penyamun: tempat transaksi bisnis, ngobrol selama ibadat, jumpa fans, negatif thinking sama orang yang ke Gereja, berpakaian yang tidak sopan dan lain-lain. Kita keliru dan berpikir bahwa Rumah Tuhan sama dengan mall atau tempat berrekreasi di akhir pekan.

Di samping Gereja sebagai bangunan, Bait Allah adalah tubuh kita sendiri. Santu Paulus menasihati bahwa Tubuh kita adalah tempat tinggal Roh Kudus. Tubuh kita menjadi sarang penyamun ketika Tubuh kita disalahgunakan atau dilecehkan untuk kepuasan manusiawi. Ketika tubuh kita seakan dianggap tidak memiliki nilai atau martabat. Maka sikap yang tepat adalah hargailah nilai-nilai kehidupan, hargailah tubuh kita dan sesama sebagai tempat tinggal Tuhan sendiri.

Bait Allah juga menjadi simbol kehadiran Tuhan selamanya (surga). Maka hidup kita seharusnya selalu terarah ke surga, rumah Allah yang kekal. Satu-satunya kerinduan kita adalah tinggal di rumah Tuhan seumur hidup kita.

Doa kita: Tuhan, betapa indah rumahMu. 

PJSDB
Leave a Reply

Leave a Reply