Homili Hari Minggu Pekan Paskah VIB – 2012

Hari Minggu Paskah VI/B
Kis 10:25-26.34-35.44-48
Mzm 98: 1.2-3ab.3cd-4
1Yoh 4:7-10
Yoh 15:9-17

Kasih Allah itu sempurna!

Fr. JohnKasih Allah itu universal dan menggapai semua orang. Kalau kita membuka Alkitab dan membacanya, dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu sama-sama mengatakan sifat hakiki Allah yakni Allah adalah kasih (Yoh 4:8.16) dan bahwa kasihNya itu selalu mengalir dan menggapai setiap pribadi. Di dalam Kitab Kejadian misalnya, sifat hakiki Allah adalah kasih dapat ditemukan pada saat Ia menciptakan manusia menurut gambarNya sendiri (Kej 1:27). Atau setelah mencipta, “Allah melihat segala sesuatu yang dijadikanNyaitu sungguh baik” (Kej 1:31). Pengalaman Allah sebagai kasih juga dialami oleh para bapa bangsa dan seluruh bangsa Isarel. Allah hadir dan menyertai mereka dan mereka sungguh-sungguh merasakan kasihNya.

Untuk mengalami Allah sebagai kasih, masing-masing pribadi harus berpartisipasi dalam kehidupan ilahi Allah dan merasakan secara pribadi kasih Allah itu sendiri. Ini tentu butuh hati yang sederhana, hati yang transparan (Mt 5:8), hati yang senantiasa terbuka kepada Tuhan. Hati manusia yang terbuka dan membiarkan Allah mengisinya dengan kasihNya ini dapat menciptakan satu bentuk relasi yang intim antara Allah yang mengasihi dan manusia yang dikasihi. Gambaran-gambaran tentang kasih Allah terhadap manusia ini diringkas dalam bacaan-bacaan pada hari Minggu Paskah VI ini. Dalam bacaan pertama, Petrus berbicara tentang kasih Allah yang hanya dapat dipahami ketika orang menerima karunia Roh Kudus. Yohanes, dalam bacaan kedua mengatakan bahwa Allah adalah kasih. Kasih yang dialami dari Allah harus menjadi nyata dalam tindakan mengasihi sesama. “Barangsiapa tidak mengasihi, dia juga tidak mengenal Allah” (1Yoh 4:8). Dalam bacaan Injil, Yesus mengatakan relasi intimNya dengan  Bapa di Surga dan dengan para muridNya. Oleh karena itu para murid diharapkan dapat saling mengasihi karena Yesus sendiri lebih dahulu mengasihi mereka. Dia sendiri yang memilih dan menentukkan para muridNya untuk pergi dan menghasilkan buah yang banyak.

Dengan melihat kembali bacaan pertama dari Kisah Para Rasul: Petrus melakukan sebuah perbuatan agung terutama dalam usahanya untuk mewartakan Injil baik bagi bangsa Yahudi maupun dengan bangsa bukan Yahudi. Ketika berada di Kaisarea, Petrus masuk ke rumah Kornelius (orang Romawi) dan disambut dengan meriah. Kornelius menyembah Petrus tetapi dengan rendah hati Petrus berkata bahwa ia juga hanya manusia biasa. Petrus juga berkata, “Sesungguhnya aku telah mengerti bahwa Allah tidak membeda-bedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Allah dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya.” Roh Kudus pun turun kepada orang-orang bukan Yahudi dan mereka mampu berbicara dalam bahasa Roh dan memuliakan Allah. Ini tentu membuat bingung orang-orang Yahudi yang menyertai Petrus karena ternyata Roh Kudus juga turun bagi bangsa lain. Orang-orang ini tidak hanya menerima Roh Kudus tetapi mereka juga dibaptis dalam nama Yesus.

Pewartaan Petrus ini penting kita pahami dalam konteks evangeliasasi. Injil bukan lagi diperuntukan bagi golongan tertentu tetapi semua orang dipanggil untuk menerima Injil dan bahwa keselamatan di dalam nama Yesus adalah hak semua orang. Injil diwartakan ke kantong-kantong orang bukan Yahudi dan boleh dikatakan ini sebuah petualangan baru bagi gereja dalam memahami dan mewartakan Injil kepada segala makhluk. Petrus sebagai pemimpin Gereja memulainya dan selanjutnya Paulus dalam perjalanan misionernya mewartakan Injil dengan sukacita. Nah, semua yang dilakukan Petrus di rumah Kornelius “orang bukan Yahudi” lebih merupakan bukti kasih Allah yang melimpah kepada semua orang. Dia menciptakan semua orang setara jiwa dan badan. Tidak ada perbedaan suku, ras, agama, jenis kelamin dan usia. Ini semua hanya pemikiran manusiawi. Pemikiran ilahinya adalah, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia sehingga Ia mengutus PuteraNya yang tunggal, sehingga setiap orang yang percaya kepadaNya akan beroleh hidup kekal” (Yoh 3:16).

Yohanes dalam bacaan kedua, mengingatkan kita untuk saling mengasihi karena kasih berasal dari Allah. Allah memberi yang terbaik yang Ia miliki yaitu kasih sebagai hakikatNya bagi manusia. Kasih yang sempurna yang ada di dalam diri Yesus Kristus PuteraNya. Kita sebagai anak-anak Allah dipanggil untuk melakukan kasih yang sama sebagai jawaban akan kasihNya dan kasih kepada sesama manusia. Tepat apa yang dikatakan Yohanes, “Saudara-saudaraku, marilah kita saling mengasihi karena kasih berasal dari Allah dan setiap orang yang mengasihi lahir dari Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah.” Kasih berasal dari Allah Bapa dan diberikanNya kepada Yesus PuteraNya dan diterima dengan penuh kebebasan. Yesus lalu mengajak kita untuk tinggal di dalam kasihNya dengan menuruti Firman dan perintah-perintahNya. Dan tugas kita selanjutnya adalah mengasihi sesama karena kasih itu berasal dari Allah yang adalah kasih itu sendiri.

Dalam bacaan Injil, Yesus mengajak para murid untuk tinggal di dalam kasihNya. Tinggal di dalam kasih berarti menuruti Firman dan semua perintahNya. Yesus sendiri telah menuruti Perintah Bapa di Surga dan para muridNya harus mengikuti jejakNya. Sama seperti relasi kasih antara Bapa dan Putera, demikian Yesus sang Putera juga menghendaki relasi kasih antar pribadi manusia. Tujuan saling mengasihi dan tinggal dalam kasih adalah menghasilkan banyak buah. Jadi para murid tidak bersifat pasif tetapi aktif menyebarkan cinta kasih Tuhan. Tentu saja para murid dapat menghasilkan banyak buah kalau mereka tekun dan percaya pada Allah. Buah iman, harapan dan kasih sehingga membuat Gereja bertumbuh semakin subur.

Yesus memberi motivasi istimewa kepada para muridNya terutama dalam hubungan kasih. Ia menganggap para muridNya bukan hamba karena hamba tidak mengerti apa yang dilakukan tuannya. Yesus justru menganggap mereka sebagai sahabat. Yesus adalah seorang pribadi yang memiliki rasa empati yang besar kepada manusia yang lemah. Dialah yang menguatkan dengan pengorbananNya, “Tak ada kasih yang paling agung daripada kasih seorang yang menyerahkan nyawa bagi sahabat-sahabatnya”.

Hari ini Tuhan melalui SabdaNya membaharui kita untuk membangun habitusbaru atau cara pandang baru kita terhadap sesama yang tidak seiman dengan kita. Petrus berbicara dengan keluarga Kornelius dan Roh Kudus turun atas mereka. Orang-orang yang menyertai Petrus tercengang karena Roh Kudus juga diperuntukan bagi bangsa lain. Nah, pikiran kita diarahkan pada cinta kasih Tuhan yang sifatnya universal. Artinya, kita bukanlah status quo tetapi tugas kita adalah membawa banyak orang kepada Tuhan sumber kasih. Bagaimana sikap kita terhadap sesama yang tidak seiman? Apakah mereka adalah orang lain yang tidak akan di selamatkan? Apakah cinta kasih Tuhan juga menggapai pribadi-pribadi ini? Tuhan mengasih manusia yang baik dan jahat! (Mt 5:45)

Tuhan juga membaharui kita untuk mengasihi lebih sungguh. Mengapa? Karena Allah sendiri adalah kasih. Dan cinta kasih yang benar ditandai dengan pengurbanan diri yang terus menerus. Ketika kita memandang Yesus tersalib, kita melihat pengurbanan diriNya. Dari salib, mengalir sungai kasih Allah yang tak berkesudahan. Tepat apa yang dikatakan Thomas A Kempis, “There is no living love without suffering”. Cinta kasih yang benar berakar dalam pengurbanan diri bahkan penderitaan pribadi. Bagaimana pengalaman kasihmu di dalam keluargamu? Bagaimana mewujudkan kasih sejati di dalam hidupmu?

Doa: Tuhan terima kasih karena Engkau adalah kasih. Hari ini Engkau menasihati kami untuk menerima semua orang apa adanya karena merasakan kasih yang sama dariMu. Semoga cinta kasihMu bertumbuh subur dan dunia tempat kami huni ini menjadi baru.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply