Renungan 2 Juni 2012

Sabtu, Pekan Biasa VIII
Yud 17.20b-25
Mzm 63:2.3-4.5-6
Mrk 11:27-33

Mempertanyakan kuasa Yesus

imageSemua orang yang berziarah ke Yerusalem mengenal Yesus secara manusiawi. Ia mempunyai ibu bernama Maria, ayahnya Yoseph seorang tukang kayu. Yesus sendiri seorang tukang kayu. Dia datang dengan para muridNya. Amat mengherankan karena Ia mengusir para pedagang musiman di dalam Bait Allah. Ia bahkan berkata, “RumahKu akan disebut rumah doa bagi segala bangsa, tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun!” (Mrk 11:17). Sikap Yesus inilah yang menjadi sandungan bagi orang-orang Yahudi terutama para imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Mereka ingin membunuhNya. Kita lalu mengingat sebelumnya, ketika Yesus berkata, “Sekarang kita harus pergi ke Yerusalem, dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Mereka akan menjatuhi hukuman mati kepadaNya. Mereka akan menyerahkanNya kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Ia akan diolok-olok, diludahi, disesah dan dibunuh dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit.” (Mrk 10:33-34).

Pada hari ini kita mendengar ungkapan kekesalan para pemimpin Yahudi kepada Yesus. Mereka mempertanyakan kuasa Yesus karena sikapNya terhadap para pedagang musiman di dalam Bait Allah. Mereka bertanya, “Dengan kuasa mana Engkau melakukan hal-hal itu?” “Siapa yang memberi kuasa itu kepadaMu?” Yesus tidak menjawab pertanyaan mereka tetapi melihat di mana letak titik kelemahan mereka. Para pemimpin Yahudi ini menghargai para nabi sebagai utusan Yahwe. Yohanes Pembaptis adalah salah seorang nabi yang mereka hargai padahal yang mereka lihat sekarang adalah nabi yang paling agung, Putera Allah sendiri. Dengan demikian Yesus kembali bertanya kepada mereka tentang kuasa baptisan Yohanes. Para pemimpin Yahudi tidak menjawab dengan jujur kepada Yesus.

Seringkali kita bisa memiliki pengalaman yang sama dengan para pemimpin Yahudi yaitu imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Mereka memiliki mata tetapi tidak melihat, memiliki telinga tetapi tidak mendengar. Demikian tantangan bagi kita yang akrab dan bersahabat dengan Tuhan Yesus dalam Sabda dan Ekaristi, dalam menerima sakramen-sakramen dan praktek-praktek kesalehan lainnya. Para pemimpin Yahudi memiliki hati yang tertutup dengan Yesus. Kita juga dapat menutup hati terhadap Yesus karena merasa sudah terlalu akrab denganNya. Yesus mudah sekali dinomorduakan di dalam hidup kita.

Lalu apa yang harus kita perbuat? Yudas Tadeus dalam suratnya di bacaan pertama mengingatkan kita untuk senantiasa terbuka pada setiap rencana Tuhan. Ia menulis, “Saudara-saudara terkasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci, dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan Yesus Kristus untuk hidup kekal.” Di samping itu Yudas juga mengingatkan kita untuk memiliki rasa belaskasih dan bahwa Allah sendirilah yang menjaga dan mendampingi kita untuk mencapai keselamatan kekal.

Sabda Tuhan membangkitkan semangat kita untuk tetap bersatu dengan Tuhan selama-lamanya. Dia menghendaki kekudusan kita. Yudas Tadeus dalam suratnya menulis, “Ia membawa kalian tanpa noda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaanNya”. Kita juga diarahkan untuk terbuka pada Yesus PuteraNya. Janganlah menutup hatimu seperti para pemimpin Yahudi, tetapi terbukalah hatimu sebagai anak-anak terang yang menerima dan mengimani Yesus Kristus sebagai Allah yang benar.

Doa: Tuhan, tambahkanlah iman kami. Engkaulah penguasa hidup kami. Amen

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply