Renungan 4 Juni 2012

Hari Senin, Pekan Biasa IX

2Pt 1:1-7
Mzm 91:1-2.14-15ab. 15c-16
Mrk 12:1-12

“Kasih itu sebuah pengorbanan”


“Apa resep yang membuat relasi sebagai suami isteri tetap bertahan sampai saat ini?” Demikian pertanyaan saya kepada sepasang suami isteri yang merayakan HUT perkawinan mereka ke-40. “Karena dia mengerti saya dan saya mengerti dia” kata sang suami. “Cinta kasih itu sebuah pengurbanan  yang diuji setiap hari” jawab sang isteri. Saya kagum dengan jawaban pasutri ini. Memang inilah yang mereka hayati setiap hari dengan cara mereka sendiri. Cinta kasih adalah saling mengerti satu sama lain dan berlangsung setiap hari. Cinta kasih adalah pengorbanan yang diuji hari demi hari sampai HUT pernikahan ke-40. Luar biasa!

Hari ini Tuhan menyatakan cinta kasihNya sebagai cara Ia memahami anak-anakNya yang berdosa. Tuhan menyatakan cintaNya sebagai pengorbanan hari demi hari untuk anak-anakNya dan pengorbanan yang paling besar adalah Yesus PuteraNya menjadi korban penghapusan dosa dan penggenapan kasihNya.

Kepada para imam kepala dan ahli-ahli Taurat yang barusan mempertanyakan kuasaNya, Yesus memberi perumpamaan tentang kasih Allah yang tidak berkesudahan melalui pengorbanan diri bahkan nyawa untuk keselamatan umatNya. Dikisahkan bahwa ada seorang yang membuka kebun anggur, membuat pagar dan menara jaga. Kebun anggur itu disewakan kepada para penggarap lalu ia berangkat. Pada saat musim panen tiba, ia mengirim utusan-utusannya untuk meminta hasil sesuai kesepakatan mereka. Tetapi semua utusan itu dianiaya bahkan puteranya sebagai ahli waris diutus juga dibunuh dan dilempar keluar dari kebun anggur. Bagaimana sikap pemilik kebun anggur? Ia akan mengambil kebun anggur itu dan mempercayakannya kepada orang-orang lain.

Perumpamaan Yesus ini mengatakan secara tepat sikap bangsa Israel yang tidak terbuka pada tawaran cinta kasih Allah. Kebun anggur adalah lahan kasih tanpa batas dari Tuhan bagi umat kesayanganNya. Dia mempercayakan kepada Israel sebagai bangsa terpilih Kerajaan kasihNya untuk dikembangkan tetapi mereka gagal mengembangkan Kerajaan kasih ini. Bahkan sikap manusia yang brutal ditunjukkan dengan menolak para nabi yang diutus Tuhan. Yesus PuteraNya sendiri mengalami penderitaan sampai wafat di kayu Salib. Maka tepat apa yang dikatakan dalam perumpamaan ini, “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi di pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita”.

Perumpamaan yang sama kiranya tepat juga sasarannya bagi kita. Kita juga mengalami kasih dan pengurbanan Tuhan tetapi kita sendiri kurang bersyukur. Lebih dari itu, “kebun anggur ini akan dipercayakan kepada orang lain” dan orang lain adalah “kita sebagai orang-orang yang dibaptis”, itu pun belum membangkitkan rasa syukur yang mendalam di dalam hati kita. Kita tidak menyadari panggilan untuk mengembangkan Kerajaan kasih! Kita memiliki mental instant dan hanya mencari yang enak dan menguntungkan diri  kita. Sikap rela berkurban bukan panggilan dan pilihan kita.

Apa yang harus kita lakukan? Petrus dalam bacaan pertama mengingatkan kita bahwa Tuhan menganugerahkan kepada setiap pribadi kemampuan untuk mengenal Allah dan akan Yesus Tuhan kita. Pengenalan akan Allah sebagai kasih tanpa batas dalam diri Yesus PuteraNya ini laksana meterai yang ditempel di dalam hati setiap orang. Dari situ, Ia menganugerahkan janji-janji yang berharga dan sangat besar yang membuat setiap pribadi dapat mengambil bagian dalam kodrat ilahi serta pertobatan terhadap hawa napsu yang ada di dalam diri setiap pribadi. Janji-janji yang diberikan adalah iman yang sudah seperti meterai di dalam hati manusia, kebajikan-kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih kepada saudara-saudara dan semua orang.

Sabda Tuhan hari ini mengundang kita untuk selalu bersyukur kepada Tuhan karena kasih dan penyertaanNya tanpa batas. Kasih adalah pengorbanan dan dibuktikanNya dengan mengorbankan Yesus PuteraNya. Ia wafat dan bangkit demi kelamatan kita. Maka sebagai jawaban kita adalah selalu bersyukur kepada Tuhan! Ia telah memberikan kita rahmat “pengenalan akan Allah” dan berbagai kebajikan sehingga dapat bertumbuh dan layak di hadiratNya yang Mahakudus. Rasakanlah kasih dan pengurbananNya dalam hari-hari hidupmu. Kasih adalah saling mengerti dari pihak Tuhan dengan manusia. Kasih adalah pengurbanan tanpa henti, hari demi hari di dalam hidup kita. Apakah anda menyadarinya?

Doa: Tuhan ajarilah kami untuk dapat bersyukur atas kasih dan pengurbananMu. Amen

PJSDB
Leave a Reply

Leave a Reply