Renungan 26 Februari 2013

Hari Selasa, Prapaskah II

Yes 1:10.16-20
Mzm 50: 8-9.16bc-17.21.23
Mat 23:1-12
Kursi Musa itu bernilai!
Pada suatu kesempatan saya pergi menghadap salah seorang Bupati di Republik ini, dengan membawa sebuah proposal untuk mencari dana. Kebetulan saya adalah pionir kehadiran dan karya kongregasi kami di tempat itu. Salah satu pilihan karya kami di tempat itu adalah pelatihan untuk anak-anak muda yang miskin dalam bidang teknik. Untuk itu sangat diperlukan pelayanan PLN supaya mesin-mesin di bengkel dapat difungsikan. Ketika masuk ke dalam kantornya, saya berjalan di atas karpet berwarna merah, ruangan full ac dengan mebel yang tergolong mahal. Pak Bupati susah untuk senyum, tetap duduk di atas kursi kebesarannya, tidak beranjak untuk menyalami saya sebagai tamunya. Memberi tangan untuk saling berjabat saja rasanya hambar karena kelihatan terpaksa. Dengan tetap duduk dikursinya kami berbicara sebentar tentang kebutuhan untuk mendapatkan tambahan dana dari Pemerintah Daerah  demi mendapat pelayanan dari PLN. Dia mengatakan bahwa Pemerintah Daerah sulit untuk membantu dana bagi sekolah kami. Saya berpamitan dengan beliau, dengan titipan kalimat ini: “Saya ini bukan orang dari tanah ini, tetapi saya datang untuk membangun daerahmu dalam  bidang pendidikan teknik untuk anak-anak muda” 
Duduk di kursi kehormatan adalah sebuah simbol untuk melakukan otoritas dan kuasa. Seorang raja memerintah dengan adil ketika duduk di takhta kerajaan. Kepala daerah adalah orang nomor satu di daerah tersebut, memiliki kursi kehormatan. Paus memberikan pengajaran ex cathedra ketika duduk di atas takhtanya. Uskup juga memilik kursi khusus ketika melayani umat Allah di dalam Gereja Katedral. Di dalam sinagoga, ada kursi-kursi khusus bagi para tua-tua yang akan mengajar Firman, sedangkan jemaat duduk di atas lantai. Ada satu kursi yang lebih bagus, berbeda dengan kursi lain dikhususkan bagi salah seorang dari para tua-tua itu. Mungkin inilah yang dinamakan kursi Musa. Di kursi itu, orang terhormat akan mengajar dengan bagus meskipun perbuatannya sangat berbeda dengan apa yang ia ajarkan.
Hal ini menjadi kepedulian Yesus ketika melihat perilaku para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Kepada para muridNya Yesus berpesan: “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka karena mereka mengajarkan tetapi tidak melakukannya” (Mat 23: 2-3). Gelagat para ahli Taurat dan kaum Farisi adalah mereka mengajar dan berdalil atas nama Taurat seolah-olah mereka seperti Musa tetapi mereka hanya “omong doang”. Mereka tidak melakukannya di dalam hidup. Justru hal yang terjadi adalah mereka menindas dan berlaku tidak adil terhadap sesama. Mereka lebih mementingkan kuasa manusiawi, tradisi dan adat kebiasaan sedangkan keadilan dan kasih diabaikan.
Lalu apa yang dituntut Yesus dari para murid? Yesus tidak menuntut mereka untuk berkuasa, punya kursi tertentu tetapi yang Yesus kehendaki adalah kemampuan mereka untuk melayani tanpa pamrih. Pengikut Kristus yang setia adalah mereka yang hari demi hari memenggunakan “kursi” untuk melayani. Mereka tidak menggunakan kuasa untuk menindas dan berlaku tidak adil, sebaliknya cinta kasih dan keadilan yang harus dijunjung tinggi. Jadi apa yang menjadi hal dan wewenang Allah janganlah direbut menjadi milik sendiri dan bertindak atas nama Allah padahal tindakan itu berbuah dosa.

Nabi Yesaya dalam bacaan pertama juga memberi teguran kepada para “pemimpin manusia Sodom dan Gomora”. Sebenarnya yang dimaksudkan oleh Yesaya adalah para pemimpin Yehuda yang tidak setia kepada Yahwe dan pengajaranNya. Mereka diingatkan untuk melakukan pertobatan bathinia  dengan membasuh diri dan menjauhkan diri mereka dari perbuatan jahat di mata Tuhan. Apa yang harus mereka lakukan selanjutnya? Mereka harus berhenti berbuat jahat dan belajar berbuat baik, mengusahakan keadilan, mengendalikan orang kejam, membela hak anak-anak yatim dan para janda. Semua ini akan diperhitungkan oleh Tuhan. Warta nabi Yesaya ini kiranya cocok dengan apa yang disinggun Yesus dalam Injil bahwa hal yang paling penting adalah memperjuangkan kasih dan keadilan. Hal-hal yang bersifat fana hendaknya disingkirkan dan yang seharusnya dicari dan dimiliki adalah kehendak Tuhan, dalam hal ini kasih dan keadilan bagi semua orang.  

Sabda Tuhan pada hari membantu kita untuk membuat pertobatan bathin. Ini adalah sebuah gerakan rohani yang berasal dari dalam diri kita untuk kembali kepada Tuhan. Hal konkret yang kita perlu lakukan adalah melayani seperti Tuhan telah melayani kita. Melayani dengan melupakan profesi, kedudukan, jabatan. Di mata Tuhan kita semua sama dan prinsip kita adalah menjadi hamba  yang siap melayani Tuhan dan sesama.
Doa: Tuhan, berikanlanlah kami semangat untuk menjadi hamba yang melayani dengan tulus. Amen
PJSDB
Leave a Reply

Leave a Reply