Uomo di Dio

Ubahlah Cara Berpikirmu

 

Fr. JohnPada suatu kesempatan seorang pemuda datang kepadaku. Ia mengatakan satu kesulitan yang sedang dialaminya yakni sulit untuk mengampuni salah seorang teman yang pernah mengkhianatinya. Setelah beberapa tahun merasa dikhianati, rasa benci dan dendam, sulit untuk mengampuni masih tetap ada di dalam pikirannya. Setiap kali mengikuti perayaan Ekaristi, ia selalu memohon ampun dan meminta maaf kepada Tuhan untuk menerima Komuni Kudus padahal dirinya belum sepenuh hati mengampuni temannya yang berkhianat. Saya mendengar dengan sabar dan memahami semua yang dia katakan.

Setelah puas berbicara semua yang ada di dalam hati dan pikirannya saya mengatakan kepadanya sebuah cerita untuk menurunkan emosinya yang sempat meledak-ledak. Inilah ceritanya: “Di sebuah kampung terdapat seorang pria yang kaya. Ukuran bahwa ia kaya adalah karena ia adalah satu-satunya orang yang memiliki seekor kambing jantan dan memiliki tanduk yang indah. Kambing itu selalu dibiasakan dengan rumput yang berwarna hijau. Masalah besar muncul ketika kemarau panjang melanda kampungnya. Rumput semua berubah warna menjadi coklat. Dampaknya adalah kambing itu kesulitan untuk makan rerumputan yang berwarna coklat. Lama kelamaan kambing menjadi kurus karena tidak mau makan rumput coklat. Pria pemilik kambing pergi ke pasar untuk membeli rumput hijau tetapi tidak menemukannya juga. Ketika kembali ke rumahnya ia melihat ada toko kaca mata. Ia punya ide cemerlang untuk membeli kacamata yang lensanya berwarna hijau. Ia memodifikasi lalu memakaikannya pada kambing. Apa yang terjadi? Kambing melihat semua rumput dari warna coklat mendadak berubah menjadi hijau. Sejak saat itu kambing menjadi gemuk kembali”

Di dalam hidup ini, kita tidak pernah luput dari rasa-rasa manusiawi: kecewa, dendam, sulit mengampuni dan lain sebagainya. Bahkan hingga tahun baru ini pun rasa-rasa manusiawi yang turut mengubah perilaku hidup kita dengan orang lain juga tetap ada. Singkatnya, orang selalu merasa sulit untuk bebas dari luka lama yang dibuat oleh orang terhadapnya. Pemuda yang datang kepada saya merasakannya bertahun-tahun. Maka setelah menceritakan kisah kambing berkacamata ini, saya mengatakan kepadanya: Anda bisa mampu mengampuni teman yang berkhianat kalau anda mengganti lensa kacamata yang sekarang anda pakai. Kalau saja anda menggunakan lensa berwarna putih maka orang itu warnanya putih, tetapi kalau menggunakan lensa berwarna merah, orang itu dengan sendirinya berubah menjadi warnah merah.

Apa yang mau saya katakan tentang lensa kacamata yang baru? Supaya kita mampu menjadi sesama bagi orang lain, bahkan kepada sang pengkhianat sekali pun, kita harus mengubah cara pikir kita kepada pribadi tersebut. Kita harus yakin bahwa  orang juga dapat berubah di dalam hidupnya. Mungkin yang selama ini kita pikirkan tentang pribadi tertentu itu hanya masa lalunya saja tetapi saat ini dia sudah berubah menjadi baik. Mungkin kitalah yang tidak berubah di dalam hidup sedangkan orang yang ada di dalam pikiran kita sudah berubah menjadi lebih baik dari diri kita.

Hal yang penting di sini adalah bagaimana kita berusaha untuk mengubah isi pikiran kita sehingga kita dapat mengubah dunia yang kita tempati. Jadi ubalah isi pikiranmu dan engkau akan mengubah dunia yang engkau huni sekarang ini. Transformasi diri itu bisa terjadi kalau kita bisa mengubah kebiasaan-kebiasaan hidup kita. Abraham Lincoln pernah berkata: “Kebanyakan manusia merasa sebahagia yang diputuskan oleh pikirannya”. Ketekunan dan komitmen pribadi adalah dasar yang kuat untuk membangun relasi antar pribadi yang lebih baik pada tahun baru ini.

Mari kita memandang Yesus sang inspirator kita. Ia mengajarkan kita untuk berani mengampuni tanpa batas. Kepada Petrus bertanya sampai berapa kali dapat mengampuni saudara yang berdosa, apakah sampai tujuh kali?. Yesus berkata: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:22). Tuhan Yesus sedang menasihati Petrus untuk mengubah isi pikirannya sehingga mampu mengampuni sesama. Ketika menyampaikan Sabda bahagia, Ia berkata: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44). Ketika disalibkan Ia berdoa: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34).

Pada hari ini mari kita mengubah pikiran kita terhadap sesama. Kita berubah, sesama pun berubah dalam pandangan kita. Belajarlah untuk selalu melihat hal-hal yang positif di dalam hidup pribadi sesama. Dengan demikian anda akan menjadi pria katolik yang bahagia. Anda pasti bisa!

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply