Homili 17 September 2014

Hari Rabu, Pekan Biasa XXIV
1Kor 12:31-13:13
Mzm 33:2-3.4-5.12.22
Luk 7:31-35

Caritas Numquam Excidit

Fr. JohnPada suatu hari saya singgah di sebuah Indomaret untuk membeli beberapa keperluan di rumah. Pada saat mengantri di depan kasir, saya memperhatikan seorang ibu, mengenakan pakaian yang rapi, dengan kalung dan salib bercorpus di leher dan memegang sebuah dompet yang agak besar. Ia membuka dompetnya dan tersenyum melihat isi dompetnya. Saya berpikir mungkin dia lupa membawa kartu kredit atau uang khasnya tidak cukup untuk membayar barang-barang yang hendak dibelinya. Tetapi saya sempat melihat sebuah pemandangan menarik: ada foto seorang lelaki dan anak kecil, mungkin suami dan anaknya dan di bawahnya tertulis: “Caritas numquam excidit” artinya, kasih itu tidak berkesudahan (1Kor 13:8). Saya sambil mengantri tersenyum dan berkata, hebat juga ibu dan keluarganya karena mereka masih merasa bahwa kasih itu tidak berkesudahan.

Pada hari ini kita mendengar pengajaran lanjutan dari St. Paulus. Sebelumnya ia menjelaskan kepada jemaat di Korintus tentang karunia-karunia (kharisma) rohani dan kerukunan jemaat. Baginya, Tuhan begitu baik sehingga menganugerahkan Roh Kudus kepada masing-masing umat dengan kharisma yang berbeda-beda. Masing-masing orang memang berbeda dan memiliki kharisma yang berbeda-beda pula. Paulus juga mengatakan bahwa setiap umat memang berbeda-beda tetapi membentuk satu Tubuh Mistik Kristus. Perbedaan bukanlah halangan untuk memembentuk satu Tubuh Kristus. Paulus mengakhiri pengajaran tentang kharisma-kharisma dengan berkata: “Aku akan menunjukkan kepadamu satu jalan yang lebih baik lagi” (1Kor 12:31). Jalan yang lebih baik adalah kasih. Mengapa Paulus mengatakan jalan yang lebih baik lagi? Karena umat di Korintus terpukau dengan keajaiban-keajaiban yang dilakukan oleh Roh Kudus. Oleh karena itu Paulus mengindikasikan satu hal yang penting yakni kemampuan untuk saling mengasihi.

Pada awal bab ke-13 surat kepada umat di Korintus, Paulus menulis himne tentang kasih. Intinya adalah bahwa kasih itu tidak berkesudahan. Ia menulis: “Sekalipun aku bisa berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan malaikat tetapi tidak memiliki kasih maka akan samalah aku dengan gong yang bergaung dan canang yang gemerincing.” (1Kor 13:1). Mengasihi itu jauh melebihi aneka mukjizat, lebih penting dari pada hal-hal besar yang dilakukan bagi sesama atau menyerahkan nyawa untuk sebuah perjuangan karena bisa dilakukan tanpa perlu cinta kasih. Cinta kasih itu justru tidak berkesudahan, sifatnya kekal karena pada saatnya nanti, kita juga akan diadili berdasarkan perbuatan-perbuatan kasih yang kita lakukan bagi saudara yang paling hina.

Selanjutnya Paulus menekankan kekhasan dari kasih: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan.” (1Kor 13:4-8). Hal-hal yang disebutkan di sini kelihatan sederhana tetap berat untuk kita lakukan sebagai kasih yang murni. Paulus mengatakan bahwa kasih itu sabar maka kita bertanya dalam diri kita, apakah saya orang yang sabar? Kasih itu murah hati maka apakah saya juga bermurah hati? Kalau kita mengevaluasi diri denan berpok pada kata-kata santo Paulus ini maka kita akan mengatakan dengan jujur kepada Tuhan bahwa kita belum mampu mewujudkan kasih yang sebenarnya yakni kasih Tuhan.

Pada akhirnya, St. Paulus mengatakan bahwa sekarang tinggal iman, pengharapan dan kasih, tetapi yang terbesar dari tiga kebajikan teologal ini adalah kasih. Tidak ada cinta kasih yang benar dalam diri manusia tanpa iman dan harapan. Banyak orang berpikir bahwa ini juga menjadi dasar kokoh hidup kristiani. Kasih akan menjadi sempurna ketika kita melihat Tuhan yang adalah kasih dengan mata kita sendiri. Selama kita belum melihat Tuhan, kasih kita belum matang, belum sempurna! Kita menumbuhkan kasih melalui iman dan pengetahuan tentang Sabda. Kasih juga akan menjadi sempurna kalau kita memiliki harapan dan kesetiaan.

Kasih itu tidak berkesudahan. St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma menulis: “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.” (Rm 12:10). Ya, kita harus saling mengasihi (1Yoh 3:11).

Doa: Tuhan yang mahakasih, bantulah kami untuk bertumbuh dalam kasih dan membagi kasihMu bagi sesama yang lain. Amen

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply