Homili 20 September 2014

Hari Sabtu, Pekan Biasa XXIV
1Kor 15:35-37.42-49
Mzm 56: 10.11-12.13-14
Luk 8:4-15

Ada apa setelah kematian?

Fr. JohnAda sebuah berita yang menggemparkan dunia pada tanggal 29 Agustus 2014 yang lalu. Dalam http://worldnewsdailyreport.com edisi 18 September 2014, dilaporkan bahwa para pakar dalam bidang psikologi dan kedokteran yang bekerjasama dengan Technische Universität Berlin, Jerman, dalam penelitian terakhir berhasil membuktikan bahwa ada beberapa bentuk kehidupan setelah kematian. Tentu saja pernyataan para pakar ini mengejutkan banyak orang. Penelitian mereka didasarkan pada penelitian medis yang mereka lakukan terhadap pengalaman seseorang menjelang kematiannya. Dikisahkan bahwa team peneliti ini mengawasi kondisi pasien yang secara medis dinyatakan mati selama hampir 20 menit sebelum hidup kembali. Proses ini diulang pada 944 orang sukarelawan dari berbagai agama selama empat tahun terakhir ini. Para peneliti juga menggunakan obat-obatan tertentu yang memungkinkan tubuh untuk bertahan dalam keadaan mati secara medis hingga melalui proses penghidupan kembali tanpa merusak tubuh.

Reaksi-reaksi pun berdatangan dari berbagai negara, dari pakar lain untuk mengevaluasi hasil penelitian ini. Dari kalangan Hindu, mereka menyebut kata ini: ‘punarjanma’ yang berarti hidup setelah mati. Dari kalangan kristen ada yang mengangkat tema reinkarnasi sebagaimana digambarkan di dalam Injil Lukas 9:7-9 meskipun sebenarnya gereja tidak mengenal reinkarnasi. Dalam pandangan Islam dikatakan bahwa orang yang sudah meninggal dunia akan memperoleh hidup kekal. Hidup kekal berarti hidup selama-lamanya dengan Tuhan.

Seandainya issue ini berkembang dan St. Paulus masih hidup maka ia akan memberi komentar teologis yang bisa memperkaya iman dan kepercayaan kita dan tidak akan menyesatkan banyak orang. Untuk diingat kembali, setelah Paulus menjelaskan kepada jemaat di Korintus tentang kebangkitan Kristus, ia juga menjelaskan pengaruhnya terhadap kebangkitan tubuh kita yang fana ini. Perlu diketahui bahwa banyak orang di Korintus saat itu tidak percaya kepada kebangkitan badan. Mereka juga masih menyembah berhala, menjauh dari Tuhan dan sesama. Di dalam diskursusnya ini Paulus berani berkata: “Seandainya Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah imanmu, dan kamu masih tinggal di dalam dosa-dosamu.” (1Kor 15: 17).

Selanjutnya Paulus mengingatkan jemaat di Korintus, tentang pertanyaan yang membuat kita perlu berpikir kritis dalam hidup sebagai orang beriman di dalam gereja. Pertanyaan dari orang-orang pada zaman itu adalah: “Bagaimana orang mati akan dibangkitkan? Dengan tubuh mana mereka bisa kembali.” (1Kor 15: 35). Kita mengingat Yesus dalam Injil Markus, mengatakan bahwa orang-orang yang sudah meninggal dan memperoleh hidup kekal akan menjadi seperti malaikat (Mrk 12:25).

Mari kita memahami pikiran Paulus. Ia berkata: “Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah.” (1Kor 15:42-44). Berkaitan dengan kebangkitan orang mati, Paulus mengatakan bahwa tubuh telah ditabur dalam kehinaan, kebinasaan tetapi akan dibangkitkan dan tidak akan mati lagi. Haruslah kita pahami bahwa manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga.

Hidup sesudah kematian dalam arti tertentu adalah kelanjutan dari hidup kita yang sekarang ini. Bisa kita bandingkan dengan tunas padi yang berasal dari biji padi. Seorang yang telah bangkit akan menjadi orang yang sama dengan seluruh kepribadiannya, ditandai dengan perbuatan-perbuatan masa lalunya. Tuhan Yesus sendiri, meskipun sudah bangkit dari antara orang mati masih membawa luka akibat paku yang besar di tangan, juga luka di lambungnya dan ditunjunkan di hadapan para muridNya.

Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengajarkan bahwa saat kematian, tubuh dan jiwa kita terpisah. Tubuh yang fana ini akan rusak, sementara jiwa pergi kepada Allah dan menunggu untuk dipersatukann dengan tubuh yang akan dibangkitkan pada akhir zaman. Dan kita percaya bahwa Kristus aan menolong kita dengan datang dan menjemput kita dan membawa kepada kehidupan kekal. (KGK: 992-1004. 1016-1018).

Di dalam bacaan Injil kita mendengar kisah menarik tentang sang penabur yang menabur benih. Penabur ini menabur sesuai dengan seleranya, maka benih pun jatuh di tempat-tempat tertentu seperti di pinggir jalan, tanah yang berbatu, di tengah semak duri dan di tanah yang baik. Kondisi benih yang ditaburkan di tempat-tempat ini berbeda-beda. Benih yang dipinggir jalan itu mudah dilihat orang sehingga dapat dinjak-injak orang, dan burung-burung juga memakannya. Benih di tanah berbatu mudah bertumbuh tetapi cepat menjadi kering karena tidak ada air. Benih di antara semak berduri bertumbuh tetapi dihimpit sehingga mati. Benih di tanah yang baik akan bertumbuh dengan baik dan menghasilkan buah seratus kali lipat.

Para rasul meminta penjelasan perumpamaan ini. Benih adalah firman Allah dan Yesuslah penaburnya. Benih yang jatuh di pinggir jalan adalah sang pendengar Sabda yang mendengar sabda tetapi di datangi iblis yang mengambil semua sabda itu sehingga ia menjadi tidak percaya dan tidak diselamatkan. Benih yang jatuh di antara bebatuan itu menerima Sabda dengan gembira tetapi tidak berakar, menjadi murtad pada masa pencobaan. Benih yang jatuh di antara semak berduri adalah orang yang menerima sabda lalu dihimpit oleh kekuatiran dunia, kekayaan dan kenikmatan hidup sehingga tidak menghasilkan buah. Benih yang jatuh di tanah yang baik adalah orang yang menerima Firman dan menyimpannya dalam hati yang baik dan menghasilkan buah dalam ketekunan.

Perumpamaan ini menekankan tentang tempat mana yang cocok supaya benih itu bisa bertumbuh dan menghasilkan buah. Artinya Tuhan Yesus mau menekankan kepada kita pentingnya hati sebagai hamba yang mendengar sabda dan melakukannya sehingga menghasilkan buah dalam ketekunan. Orang yang mendengar sabda itu harus memiliki kemurahan hati dan hati yang baik. Orang seperti ini akan memiliki kemampuan untuk mendengar, belajar dan melakukan Sabda. Salah seorang sahabat pernah berkomentar: banyak orang itu memang mendengar sabda tetapi tidak benar-benar mendengarnya. Ada oranh yang mendengar dengan telinganya tetapi tidak mendengar dengan hatinya.

Kita bersyukur kepada Tuhan karena Ia menghendaki tubuh kita yang fana ini bisa menjadi kekal. Ia menjadikan segalanya begitu indah dan menghiasi hidup kita. Kekekalan pun diberikanNya kepada kita sebagai anugerah setelah kematian. Tubuh kita yang fana ini diubah menjadi tubuh yang mulia. Tugas kita selama hidup adalah siap menjadi lahan yang baik bagi sabda sehingga bisa mendukung kekekalan hidup kita kelak.

Doa: Tuhan, bantulah kami untuk bertumbuh menjadi baru dalam Kristus. Amen

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply