Homili 10 Desember 2014 (Daily Fresh Juice)

Hari Rabu, Pekan Adven II
Yes 40:25-31
Mzm 103:1-2.3-4.8.10
Mat 11:28-30

Hanya Yesus jawaban hidupku

Fr. JohnPada pagi hari ini saya dibangunkan oleh suara musik dari kamar salah seorang konfrater. Lirik lagunya sangat mengesankanku dan saya yakin banyak di antara kita yang mengetahui lagunya. Inilah lirik lagu yang saya maksudkan: “Kala kucari damai, Hanya kudapat dalam Yesus, Kala kucari ketenangan, Hanya kutemui di dalam Yesus, Tak satupun dapat menghiburku, Tak seorangpun dapat menolongku, Hanya Yesus jawaban hidupku, Bersama Dia hatiku damai, Walau dalam lembah kekelaman, Bersama Dia hatiku tenang, Walau hidup penuh tantangan.” Bagi saya, lirik lagu ini menginspirasikan kita semua untuk memahami perikop Injil pada hari.

Penginjil Matius mengisahkan bahwa setelah Tuhan Yesus sempat mengecam kota-kota yang tidak bertobat (Mat 11:20) yakni Khorazim, Betzaida (Mat 11:21) dan Kapernaum (Mat 11: 23), Ia melagukan himne Yubileum kepada Bapa (Mat 11:25-30). Di dalam himne ini Tuhan Yesus mewahyukan diriNya sebagai Anak yang begitu akrab dengan Bapa di surga. Sebagaimana Musa di dalam dunia Perjanjian Lama begitu akrab dengan Tuhan Allah, mereka saling memandang satu sama lain (Kel 33:12-13; Bil 12:8 dan Ul 34:10), Tuhan Yesus Putra Allah, Musa baru juga sangat akrab dengan BapaNya. Yesus dan Bapa adalah satu. Yesus bersyukur kepada Bapa, Tuhan langit dan bumi. Hal yang mendorongNya untuk bersyukur adalah karena semuanya itu Bapa sembunyikan kepada orang bijak dan pandai tetapi mewahyukannya kepada orang kecil dan inilah yang berkenan kepada Bapa. Bapa juga menganugerahkan segalanya kepada Yesus. Segala kuasa (exousia) diserahkan Bapa kepadaNya (Mat 28:18).

Himne Yubileum kepada Bapa dilengkapi dengan sebuah ajakan yang luhur kepada semua orang untuk datang kepada Yesus. Ia berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat 11:28). Siapakah orang yang letih lesu dan berbeban berat? Jawaban yang pasti adalah para murid yang mengikutiNya. Mereka datang dari daerah mereka masing-masing dengan berbagai beban dan pergumulan hidup masing-masing. Mereka memiliki harapan bahwa hanya pada Yesus ada ketenangan. Yesus adalah jawaban atas segala persoalan hidup kita karena Ia tahu semua keletihan dan beban hidup kita. Ia peduli dengan hidup kita dan mau meringankan semua beban hidup kita.

Tuhan Yesus berkata: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”(αρατε τον ζυγον μου εφ υμας και μαθετε απ εμου οτι πραος ειμι και ταπεινος τη καρδια και ευρησετε αναπαυσιν ταις ψυχαις υμων). Apa makna dari kuk dalam perikop ini? Pertama-tama kita perlu mengerti bahwa penginjil Matius menulis Injilnya untuk orang-orang Yahudi maka kuk (zugos) melambangkan “hukum Taurat.”

Nah, secara harafiah, kuk itu merupakan kerangka kayu yang dipikulkan pada hewan-hewan seperti kerbau, lembu, kuda atau keledai untuk membantu para petani membajak tanah. Bisa juga kuk itu sama dengan tali kekang pada kuda tunggangan. Kuk bagi hewan-hewan ini adalah pemberat. Nah, Tuhan Yesus mengatakan “pikullah kuk yang Kupasang” artinya hukum kasih sebagai perintah baru yang diajarkan Yesus (Yoh 13:34) haruslah diterima dan dilakukan di dalam hidup orang kristen. Ia datang ke dunia bukan untuk mendiadakan hukum Taurat melainkan untuk menggenapinya (Mat 5:17). Ia menambahkan “belajarlah padaKu” artinya para murid belajar dari Yesus bagaimana ia mengasihi sampai tuntas (Yoh 13:1). Kita saat ini juga belajar bagaimana Ia mengasihi dengan lemah lembut dan rendah hati. Dengan demikian kita mendapatkan ketenangan.

Hukum kasih sebagai perintah baru yang diajarkan Yesus berbunyi: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (Ul 6: 5). Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Im 19:18). Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:37-40).

Dalam masa adventus ini kita semua dipanggil untuk menerima dan melakukan kuk pemberian Yesus Kristus yang melegakan yaitu mengasihi Tuhan dan sesama. Tuhan Yesus sebagai Sabda yang menjadi daging dalam peristiwa Inkarnasi merupakan wujud nyata kasih Allah akan dunia ini. Ia sendiri berkata: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16).

Saya mengakhiri renungan ini dengan mengutip Beata Theresia dari Kalkuta. Ia berkata: “Jika anda menghakimi orang, anda tidak punya waktu mencintai mereka.” Masa adventus menjadi masa kita membangun kasih dan meruntuhkan tembok pemisah. Mari kita memandang Yesus yang lemah lembut dan rendah hati dan belajar dari padaNya. Hanya padaNya terletak semua jawaban kehidupan kita.

Doa: Tuhan Kristus, terima kasih atas sabdaMu yang menguatkan kami. Engkau memanggil kami yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepadaMu. Kami percaya bahwa Engkaulah satu-satunya yang dapat meringankan beban hidup kami. Amen

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply