Food For Thought: Tradisi

Tradisi…

P. John SDBSaya pernah melihat seorang ibu berbicara dengan suara agak tinggi kepada beberapa anak muda yang tidak mengenakan pakaian adat dalam upacara perkawinan. Baginya, adat dan kebiasaan sudah mentradisi di daerahnya maka mereka harus mengenakkan kain tenun sebagai sarung dan memakan siri pinang. Tetap anak-anak muda itu itu tidak bereaksi apa pun. Ya, tradisi itu buatan manusia dan tradisi tidak bisa menjadi sebuah patokan mutlak lagi. Memang, tradisi tetap perlu bagi manusia karena buatan manusia hanya flexibilitasnya perlu diperhatikan.

Penginjil Markus melaporkan bahwa pada suatu kesempatan orang-orang Farisi dan beberapa orang dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka mengamati bahwa beberapa murid Yesus makan roti dengan tangan yang najis karena belum membasuhnya. Melihat hal ini mereka melayangkan protes kepada Yesus karena murid-muridNya tidak patuh pada adat kebiasaan Yahudi. Yesus menjawab mereka dengan perkataan Yesaya: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (Mrk 7:6-8).

Nabi Yesaya melukiskan agama yang benar: “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes 58:6-7). Tradisi itu membantu kita untuk bertumbuh dalam kasih.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply